Fenomena El Nino dan kemarau panjang memicu meluasnya krisis air bersih di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Kondisi ini berdampak langsung pada kapasitas produksi air minum PDAM serta kebutuhan harian masyarakat. Berdasarkan laporan BPBD provinsi dan kabupaten, sekitar 150.000 rumah tangga pelanggan terdampak penurunan pasokan air bersih.
Wilayah terparah dan penanganan awal
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat titik-titik terdampak paling parah berada di beberapa kabupaten, antara lain Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), dan Kotabaru. Di Kabupaten Banjar, kekeringan dilaporkan terjadi di 55 desa pada 15 kecamatan.
- BPBD Kabupaten Banjar sejak Juni telah menyalurkan lebih dari 2,1 juta liter air bersih.
- Pihak yang berwenang juga meminjamkan 130 tandon air kepada warga terdampak di Banjar.
- Di HSU tercatat 41 desa di sembilan kecamatan terdampak.
"Sejak Juni pihak kami telah menyalurkan lebih dari 2,1 juta liter air bersih dan meminjamkan 130 tandon air kepada warga terdampak," ujar Kepala BPBD Banjar, Wasis Nugraha.
Gangguan teknis: intrusi air laut dan dampaknya pada PDAM
Krisis air bersih yang dirasakan warga kota pun dipicu oleh masalah kualitas air baku. Intrusi air laut di Sungai Martapura naik hingga mencapai angka yang melampaui ambang amandemen pengolahan air baku, sehingga pengolahan air tidak memungkinkan dilakukan pada sumber tersebut.
"Instrusi air laut pada Sungai Martapura yang mencapai 8.000 miligram per liter menyebabkan air sungai tidak dapat diolah menjadi air bersih dan disalurkan ke warga. Intrusi air laut mengharuskan PAM Banjarmasin terpaksa menghentikan pengambilan air baku di Intake Sungai Bilu," kata Murjani, Supervisor Humas PT Air Minum Bandarmasih.
Akibatnya, Intake Sungai Bilu berkapasitas 600 liter per detik ditutup sementara. Produksi PDAM Bandarmasih dari kapasitas normal 2.200 liter per detik kini berkurang menjadi sekitar separuhnya, sehingga pasokan ke pelanggan berkurang signifikan.
Dampak terhadap warga dan alternatif pasokan
Dengan berkurangnya produksi dan tutupnya beberapa intake, banyak warga terpaksa mengandalkan bantuan pemerintah atau membeli air dari pedagang musiman dengan harga yang lebih tinggi. BPBD dan pemerintah daerah telah mengadakan distribusi darurat, tetapi kebutuhan masih besar terutama di desa-desa yang jauh dari sumber air alternatif.
| Aspek | Informasi |
|---|---|
| Perkiraan rumah tangga terdampak | 150.000 rumah tangga |
| Produksi normal PDAM Bandarmasih | 2.200 liter/detik |
| Produksi saat krisis | Hampir 50% berkurang |
| Intake terdampak (Sungai Bilu) | Ditutup (kapasitas 600 liter/detik) |
Tindakan pemerintah daerah dan kebutuhan lanjutan
BPBD kabupaten telah menyalurkan bantuan air bersih dan tandon air. Namun kebutuhan jangka menengah hingga panjang menuntut upaya terpadu, sebab sumber air baku lain seperti Sungai Tabuk juga mengalami penurunan debit. Selain itu, pasokan dari irigasi Riam Kanan kini juga diperlukan untuk memenuhi kebutuhan PDAM Banjar serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Beberapa titik penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah provinsi dan pusat meliputi:
- Pemulihan dan diversifikasi sumber air baku agar ketergantungan pada satu intake dapat dikurangi.
- Peningkatan distribusi darurat dan pendistribusian tandon untuk desa-desa terpencil.
- Pemantauan kualitas air secara berkala untuk mendeteksi intrusi air laut lebih dini.
Konsekuensi sosial dan ekonomi
Krisis air bersih tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari seperti memasak dan mencuci, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jika warga terpaksa menggunakan air yang tidak layak. Selain itu, biaya tambahan untuk membeli air dari pedagang musiman menambah beban ekonomi rumah tangga, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Hingga laporan ini disusun, BPBD dan PDAM setempat terus berkoordinasi untuk meningkatkan distribusi bantuan dan mencari solusi teknis jangka pendek. Warga diimbau menjaga penggunaan air dan memanfaatkan layanan bantuan yang disediakan pemerintah setempat.
Redaksi akan terus memantau perkembangan situasi dan langkah mitigasi yang diambil pemerintah daerah serta penyedia air minum untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi selama krisis ini berlangsung.