Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus melanda Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem lahan basah dan habitat satwa endemik seperti bekantan. Kondisi ini diperoleh dari pemantauan dan pernyataan pihak konservasi yang aktif di lapangan.
Dampak pada kawasan konservasi dan aktivitas penelitian
Amalia Rizki, pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), mengatakan kebakaran dan kabut asap merupakan ancaman serius bagi habitat dan kelangsungan hidup satwa liar di wilayah tersebut. SBI mengelola Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala, yang menurut Amalia sejauh ini belum mengalami kebakaran langsung, namun terkena dampak kabut asap.
"Karhutla bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan, tetapi juga ancaman serius terhadap keberlangsungan ekosistem lahan basah dan satwa endemik Kalimantan,"
Amalia menambahkan bahwa kabut asap yang menyelimuti kawasan berpotensi memengaruhi kualitas udara, perilaku dan kesehatan satwa, serta kenyamanan tim peneliti dan pengunjung. Dampak ini dapat menurunkan efektivitas kegiatan konservasi dan riset lapangan.
Kondisi lingkungan lain yang diperhatikan
Selain ancaman kebakaran, SBI mencatat adanya peningkatan intrusi air laut ke aliran Sungai Barito yang memicu kenaikan salinitas pada ekosistem lahan basah. Perubahan salinitas dapat berdampak pada kesehatan vegetasi mangrove dan ketersediaan pakan alami bagi satwa, termasuk bekantan.
Upaya konservasi dan antisipasi
Untuk menghadapi ancaman tersebut, SBI memperkuat langkah-langkah preventif dan pemantauan, meliputi:
- Patroli rutin di sekitar kawasan konservasi;
- Monitoring kondisi habitat dan populasi bekantan secara intensif;
- Pemantauan kualitas udara yang berdampak pada kegiatan riset dan kunjungan lapangan.
Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk mendeteksi dini adanya titik api dan perubahan perilaku satwa sehingga tindakan mitigasi dapat dilakukan cepat.
Dampak terhadap masyarakat
Pantauan media menunjukkan kabut asap telah menyelimuti sejumlah wilayah di Kalsel, terutama sekitar Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Kondisi kualitas udara yang buruk telah memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia, serta memaksa sebagian warga mengungsi sementara.
Beberapa warga Kelurahan Syamsudin Noor, Banjarbaru, melaporkan adanya pengungsian ke rumah sanak keluarga karena kondisi asap yang mengganggu pernapasan dan kegiatan sehari-hari. Situasi ini menambah beban pelayanan kesehatan lokal dan menuntut upaya penanggulangan terpadu dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Tautan antara karhutla dan keberlanjutan ekosistem
Karhutla yang kerap terjadi pada musim kemarau mempercepat degradasi lahan gambut dan hutan mangrove, dua komponen penting bagi stabilitas ekosistem pesisir dan lahan basah di Kalimantan Selatan. Gangguan pada kedua komponen ini mengancam fungsi ekologis seperti penyangga banjir, habitat satwa, dan sumber mata pencaharian masyarakat pesisir.
Peran masyarakat dan instansi
Amalia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta ikut serta melaporkan titik api. Pencegahan dinilai kunci utama dalam menyelamatkan habitat dan mencegah bencana lebih luas.
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Kualitas udara | Peningkatan kasus ISPA, pneumonia; gangguan kegiatan pendidikan dan ekonomi |
| Habitat satwa (bekantan) | Potensi gangguan perilaku, penurunan kualitas pakan, risiko kehilangan area hidup |
| Riset dan konservasi | Pembatasan aktivitas lapangan, penurunan efektivitas pemantauan |
Kesimpulan dan langkah ke depan
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan harus ditangani secara terpadu antara lembaga konservasi, dinas lingkungan hidup, satuan tugas karhutla, serta dukungan aktif masyarakat. Selain upaya pemadaman, fokus pencegahan oleh masyarakat dan penguatan patroli serta pemantauan di kawasan konservasi menjadi langkah prioritas untuk menjaga kelestarian bekantan dan ekosistem lahan basah.
Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia terus mengawasi kondisi Stasiun Riset Pulau Curiak dan mengimbau agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan selama musim kebakaran guna meminimalkan dampak negatif terhadap alam dan manusia.