Hujan bantu tekan titik panas, tetapi ancaman kebakaran gambut belum usai
Kota Jambi — Balai Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang melaporkan penurunan jumlah titik panas setelah hujan yang mengguyur beberapa kawasan di Sumatera Selatan dan Jambi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mengurangi intensitas kebakaran permukaan, namun potensi kepulan asap dan kebakaran bawah permukaan pada tanah gambut masih menjadi perhatian serius.
Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang, Yunaidi, mengatakan hujan yang turun selama sekitar tiga hari terakhir berhasil memadamkan beberapa hotspot yang sebelumnya sulit dijangkau dan dipadamkan oleh petugas.
"Ini cukup menggembirakan bagi kami, dengan turunnya hujan kemarin, beberapa hotspot yang sulit dipadamkan otomatis padam walaupun di lapangan masih ada asap (karhutla) seperti itu,"
Hujan deras tercatat terjadi di kawasan Resort Tanah Pilih (Sumatera Selatan) serta wilayah Labuhan Pering yang berada di perbatasan Sumsel dan Jambi. Hujan dengan intensitas lebih ringan juga membasahi Desa Sungai Palas, Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.
Data terkini dan kondisi di lapangan
Berdasarkan pemantauan menggunakan aplikasi Sipongi per 23 September, Balai TN Berbak dan Sembilang mencatat adanya beberapa titik panas dengan level sedang. Meskipun api permukaan pada beberapa lokasi diperkirakan telah padam, kebakaran pada lapisan gambut masih menghasilkan asap dan menuntut proses pendinginan yang lama.
| Tanggal | Titik Panas (status) |
|---|---|
| 23 September | 9 titik panas berstatus level sedang di kawasan Berbak; 2 titik di wilayah TN Sembilang |
Menurut Yunaidi, lahan yang terbakar dominan merupakan vegetasi alang-alang dan paku-pakuan yang kering akibat musim kemarau. Vegetasi ini mudah terbakar dan menjadi bahan bakar cepat penyebaran api, sehingga area yang sama berulang kali terdampak kebakaran — termasuk kejadian besar pada 2015 dan 2019.
Tantangan pemadaman di lahan gambut
Balai TN Berbak dan Sembilang mengakui sejumlah kendala teknis dalam proses pemadaman, antara lain:
- akses yang sulit menuju lokasi kebakaran, terutama di kawasan rawa dan gambut;
- minimnya ketersediaan air di sejumlah titik yang menghambat upaya pemadaman;
- karakteristik tanah gambut yang membutuhkan pendinginan terus-menerus hingga belasan hari untuk memastikan api di lapisan dalam benar-benar padam.
Secara khusus, petugas menjelaskan bahwa tanah gambut memerlukan proses pendinginan hingga sekitar 13 hari secara berkelanjutan agar endapan api di bawah permukaan tidak menyala kembali. Hal ini menjadi salah satu alasan kebakaran gambut sulit dikendalikan meski api permukaan terlihat padam.
Faktor penyebab dan implikasi
Dalam penjelasannya, Yunaidi menegaskan bahwa sebagian besar insiden kebakaran di kawasan tersebut dipicu oleh aktivitas manusia. Berdasarkan penelitian yang tercatat oleh Balai TN Berbak dan Sembilang, faktor manusia menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya.
Impak kebakaran gambut tidak hanya merusak vegetasi dan habitat, tetapi juga berpotensi menimbulkan emisi asap yang membahayakan kesehatan masyarakat serta gangguan kualitas udara lintas daerah. Selain itu, pemulihan ekosistem gambut membutuhkan waktu lama dan biaya besar.
Upaya yang diperlukan
Penanggulangan karhutla di kawasan TN Berbak dan Sembilang memerlukan langkah terpadu, termasuk pencegahan berbasis komunitas, peningkatan akses air untuk pemadaman, serta penguatan patroli dan pengawasan pada titik rawan yang berulang kali terbakar.
- Perlunya koordinasi lintas wilayah, mengingat kebakaran dapat melintasi batas administratif antarprovinsi.
- Penguatan edukasi dan penegakan hukum terhadap aktivitas manusia yang berisiko menimbulkan kebakaran.
- Penyediaan sumber daya pemadaman yang memadai, termasuk peralatan dan pasokan air di lokasi strategis.
Balai TN Berbak dan Sembilang terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menanggulangi kebakaran serta meminimalkan dampak bagi ekosistem dan masyarakat sekitar.