Lingkungan Banjarmasin Kalimantan Selatan (KS)

Dosen ULM Dorong Pemetaan Digital untuk Kembangkan Wisata Panjat Tebing di Nateh

Dosen Pendidikan Komputer Universitas Lambung Mangkurat mendorong pemanfaatan teknologi pemetaan untuk mengembangkan jalur panjat tebing di Tebing Batu Sawar, Desa Nateh, Hulu Sungai Tengah, dengan tujuan meningkatkan keselamatan, pelestarian lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dosen ULM Dorong Pemetaan Digital untuk Kembangkan Wisata Panjat Tebing di Nateh
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Banjarmasin — Dosen Pendidikan Komputer Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nuruddin Wiranda atau yang akrab disapa Wira, mendorong pengembangan wisata panjat tebing di Desa Nateh, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, melalui pemetaan wilayah berbasis teknologi. Inisiatif itu merupakan kelanjutan dari pembukaan dua jalur panjat di Tebing Batu Sawar pada 18–20 September 2026.

Teknologi untuk keselamatan dan daya tarik wisata

Nuruddin menyatakan pemetaan berbasis teknologi diharapkan meningkatkan daya tarik destinasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Penggunaan data spasial, peta rute digital, serta informasi kondisi tebing diyakini dapat memperkuat aspek keselamatan dan memudahkan promosi.

"Ke depan mengembangkan pemetaan wilayah panjat tebing berbasis teknologi untuk menarik para wisatawan dalam maupun luar negeri,"

Pernyataan tersebut disampaikan Nuruddin saat berada di Banjarmasin, Rabu. Keterlibatannya dalam pembukaan jalur baru di Tebing Batu Sawar bermula dari diskusi dengan tokoh organisasi pemanjat tebing setempat.

Kolaborasi lintas pemangku kepentingan

Pembukaan dua jalur panjat di Tebing Batu Sawar melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas, yang bekerja sama untuk memastikan jalur baru memenuhi standar keselamatan serta konservasi lingkungan. Kelompok yang terlibat antara lain:

  • Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kalimantan Selatan
  • FPTI Hulu Sungai Tengah
  • Vertical Rescue Kalsel
  • TRM dan Skasaba Rescue
  • Gambah Training Center (GTC) dan LEO Outdoor HST
  • Murakata Outdoor Service, Sispala Tunas Banua, Mapala Uniska
  • Ranix Climbing Club, HST Sport Climbing, Pemanjat Kalcer, BPK Rama
  • Pengelola Wisata Goa Sawar dan masyarakat Desa Nateh

Kolaborasi tersebut menegaskan pendekatan terpadu antara komunitas olahraga, organisasi penyelamatan, pengelola wisata, perguruan tinggi, dan warga setempat dalam mematangkan pengembangan destinasi panjat tebing.

Dampak ekonomi lokal dan pemberdayaan

Menurut Nuruddin, pengembangan jalur panjat tebing tidak hanya berfokus pada aspek olahraga dan konservasi, tetapi juga pada potensi ekonomi yang dapat diraih masyarakat sekitar. Aktivitas wisata panjat tebing diperkirakan membuka peluang usaha di sektor jasa pemanduan, penyewaan dan penjualan perlengkapan, transportasi, konsumsi, penginapan, serta layanan pendukung lain.

Penguatan kapasitas masyarakat lokal diperlukan agar manfaat ekonomi tersebut dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan. Keterlibatan warga dalam pengelolaan destinasi, pelatihan pemandu lokal, dan standar keselamatan menjadi aspek penting dalam proses pemberdayaan.

Pelestarian lingkungan sebagai prioritas

Nuruddin juga menekankan pentingnya pengembangan wisata petualangan yang ramah lingkungan. Pemanfaatan ekosistem alam harus dilakukan secara bertanggung jawab agar aktivitas rekreasi tidak merusak habitat dan struktur tebing. Pendekatan ini meliputi tata kelola sampah, pengendalian jumlah pengunjung, serta konservasi kawasan sekitar Tebing Batu Sawar.

Inisiatif dosen ULM ini merupakan bagian dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat dengan basis partisipatif dan kolaboratif. Keterlibatan akademisi diharapkan dapat menghadirkan metode ilmiah, termasuk pemetaan digital, untuk mendukung pengelolaan destinasi yang aman dan berkelanjutan.

Tata langkah ke depan

Sekalipun kegiatan pembukaan jalur telah dilaksanakan, penyusunan peta digital dan sistem informasi rute memerlukan langkah lanjut, seperti pengumpulan data topografi, dokumentasi kondisi rute, serta integrasi informasi keselamatan. Proses ini mesti melibatkan semua pemangku kepentingan agar data yang dihasilkan akurat dan dapat dimanfaatkan untuk promosi maupun mitigasi risiko.

AspekFokus
KeselamatanPemetaan rute, pelatihan penyelamatan, standar peralatan
LingkunganKonservasi ekosistem, pengelolaan sampah, pembatasan kunjungan
EkonomiPemberdayaan pemandu lokal, layanan penginapan dan konsumsi

Pengembangan Tebing Batu Sawar sebagai destinasi panjat tebing diharapkan memberi manfaat ganda: memperkaya pilihan wisata Kalsel, sekaligus menumbuhkan kegiatan ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan, sepanjang dilaksanakan dengan pengelolaan berbasis data dan pelibatan masyarakat.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KSKalimantan Selatan

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Selatan, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik