Langkah permanen tangani kebakaran gambut
BANJARBARU — Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Kalimantan Selatan menyiapkan langkah restorasi hidrologi sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kebakaran lahan gambut di kawasan Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Banjarbaru. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga kelembapan gambut dan mengurangi kejadian kebakaran yang berulang.
"Pemadaman secara konvensional belum cukup untuk mengatasi api yang berada di bawah permukaan gambut."
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan yang juga menjabat sebagai Ketua Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq, sebagai dasar pertimbangan berpindah dari taktik sekadar pemadaman menuju intervensi hidrologi.
Strategi restorasi yang direncanakan
Menurut rencana yang dikemukakan Satgas, langkah-langkah yang akan dilaksanakan meliputi:
- Pemanfaatan pasokan air pasang laut untuk membantu membasahi kawasan gambut di Pengayuan;
- Penutupan kanal atau pemasangan sistem blocking guna mengembalikan tata air gambut;
- Pembangunan sumur resapan dengan jarak sekitar satu kilometer antartitik untuk menjaga ketersediaan air permukaan dan meningkatkan kelembapan lapisan gambut.
Selain penguatan sistem tata air, Satgas menempatkan restorasi hidrologi ini sebagai bagian dari upaya terpadu yang juga mencakup pengawasan dan keterlibatan komunitas setempat.
Dampak terhadap masyarakat dan permintaan lokal
Ketua RT 2 Landasan Ulin Selatan, yang diidentifikasi sebagai Hendra, menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah namun menekankan pentingnya mempertimbangkan aktivitas warga setempat dalam perencanaan penutupan kanal. Dukungan warga menunjukkan kesadaran atas ancaman karhutla, namun juga menuntut agar intervensi teknis tidak mengganggu kebutuhan ekonomi dan akses masyarakat sehari-hari.
| Lokasi | Intervensi Hidrologi |
|---|---|
| Pengayuan (Landasan Ulin Selatan) | Pemanfaatan pasang, penutupan kanal, sumur resapan |
| Hutan Lindung Liang Anggang | Restorasi tata air |
| Guntung Damar | Restorasi tata air |
Konsekuensi ekologis dan kebijakan lokal
Intervensi restorasi hidrologi pada lahan gambut memiliki tujuan ekologis jelas: meningkatkan kelembapan tanah untuk mengurangi keberlanjutan pembakaran bawah permukaan yang sulit dipadamkan. Bagi Banjarbaru, yang memiliki wilayah dengan tutupan lahan gambut, langkah ini berimplikasi pada beberapa aspek:
- Kesehatan lingkungan: peningkatan kelembapan mengurangi emisi asap dan polusi yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat;
- Ketahanan sosial-ekonomi: perlu penataan agar penutupan kanal tidak merugikan akses air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian skala kecil, atau transportasi lokal;
- Manajemen jangka panjang: pemantauan, pemeliharaan blocking, dan sumur resapan serta keterlibatan warga menjadi kunci keberlanjutan program.
Pelaksanaan restorasi akan membutuhkan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kota Banjarbaru, instansi teknis, serta partisipasi warga untuk merancang solusi yang efektif sekaligus berkeadilan bagi komunitas terdampak.
Langkah selanjutnya
Pemerintah berharap program restorasi hidrologi dapat direalisasikan sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah kebakaran lahan gambut di Pengayuan dan kawasan sekitarnya. Pelaksanaan teknis, alokasi anggaran, serta jadwal pekerjaan belum dirinci secara publik pada sumber berita awal; namun dukungan lokal dan penekanan pada aspek teknis seperti jarak antara sumur resapan menunjukkan rencana yang mempertimbangkan dimensi operasional lapangan.
Untuk warga Banjarbaru, keberhasilan restorasi bergantung pada bagaimana rencana teknis dikomunikasikan dan diintegrasikan dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga upaya pencegahan karhutla tidak hanya sukses secara ekologis tetapi juga diterima secara sosial.