Perjuangan Menabung dari Bawah Pohon Beringin
Purwokerto — Di bawah rindangnya pohon beringin yang menghadap alun-alun, seorang perajin sol sepatu berusia 65 tahun menata kembali harapan hidupnya. Sejak tahun 1986, ia mengerjakan perbaikan alas kaki untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kini, selain mempertahankan usahanya yang telah berjalan puluhan tahun, pria tersebut fokus mengumpulkan dana pelunasan untuk menunaikan ibadah haji bersama sang istri.
Meski pendapatan tidak tetap dan kerap mengalami hari tanpa pelanggan, tekad untuk menunaikan rukun Islam itu sudah lama bersemi. Ia tercatat mendaftar sebagai calon jamaah haji pada 2014 dan memperkirakan masa keberangkatan akan terjadi pada 2028 atau 2029, apabila persyaratan pelunasan dan administrasi terpenuhi.
Sejarah Singkat Profesi dan Kondisi Ekonomi
Perajin yang bermukim di Kelurahan Grendeng, Kecamatan Purwokerto Utara, ini mulai menekuni pekerjaan sebagai tukang sol sepatu ketika berusia sekitar 25 tahun. Pada awal karirnya, biaya jasa perbaikan sangat murah jika dibandingkan sekarang. Ia mengenang ketika ongkos sol masih berkisar puluhan hingga ratusan rupiah per pasang pada era itu.
Saat ini, jumlah perajin yang bertahan di area utara alun-alun tidak sebanyak dahulu. Meski demikian, para penjahit alas kaki tetap melayani warga setiap hari, umumnya mulai membuka lapak sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB.
Target Keberangkatan dan Upaya Penghematan
Pria tersebut menyampaikan bahwa proses pendaftaran haji telah dilakukan sejak 2014 dengan biaya pesan kursi pada waktu itu sebesar Rp 25.000.000 per orang. Setelah mendaftar, ia berupaya menabung secara konsisten meski penghasilan hariannya tidak menentu.
"Saya sudah daftar di tahun 2014, pembayaran awal untuk pesan kursi Rp 25 juta per orang,"
Di samping menabung, kesadaran untuk menyempurnakan ibadah dipelihara sebagai bagian dari ikhtiar spiritual. Ia berharap mampu melunasi sisa biaya dan berangkat bersama istrinya yang telah menunggu kesempatan yang sama.
Meski tidak semua hari menghasilkan penghasilan, tekadnya untuk menunaikan haji tetap menjadi motivasi utama. Urat-urat di tangan dan telapak yang kasar mencerminkan kerja keras yang terus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.
Dampak pada Komunitas Lokal
Kisah ini menggambarkan kondisi ekonomi segmen pekerja informal di kawasan alun-alun Purwokerto, sekaligus menyorot nilai-nilai gotong royong dan ketekunan yang melekat pada pelaku usaha tradisional. Perjalanan menabung untuk biaya haji juga menjadi cermin harapan dan prioritas keluarga di tengah keterbatasan pendapatan.
- Usia: 65 tahun (perajin), 63 tahun (istri).
- Profesi: Perajin sol sepatu sejak 1986.
- Registrasi haji: Terdaftar sejak 2014.
- Estimasi keberangkatan: 2028 atau 2029.
- Pembayaran awal pesan kursi: Rp 25.000.000 per orang (sesuai pernyataan).
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1986 | Memulai profesi sebagai tukang sol sepatu di area Alun-Alun Purwokerto. |
| 1997 | Niat menunaikan ibadah haji mulai dipelihara (tercatat sejak lama). |
| 2014 | Terdaftar sebagai calon jamaah haji; melakukan pembayaran awal untuk pesan kursi. |
| 2028/2029 | Perkiraan keberangkatan jika pelunasan dan administrasi terpenuhi. |
Kisah perajin sol sepatu ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan dan dukungan bagi pekerja sektor informal. Di lingkungan Purwokerto, upaya serupa sering kali bergantung pada ketekunan individu dan bantuan dari keluarga atau tetangga ketika menghadapi kebutuhan besar seperti pelunasan haji.
Informasi lebih lanjut mengenai program pembinaan ekonomi lokal, akses pembiayaan mikro, atau fasilitas sosial yang dapat membantu pelaku usaha semacam ini masih menjadi potensi intervensi penting oleh pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat. Sementara itu, perajin di bawah pohon beringin itu terus menabung, menata harapan sederhana: melangkah menuju Tanah Suci bersama istri, setelah puluhan tahun bekerja untuk menghidupi keluarga dan melayani warga Purwokerto.