Lingkungan Ambon Maluku (MA)

Ambon Hadapi Ancaman Pencemaran di Teluk Ambon, Pariwisata dan Nelayan Terancam

Dialog publik di Laha menyoroti pencemaran, sedimentasi, dan sampah plastik yang menekan ekosistem Teluk Ambon. Pemerintah provinsi bersama peneliti dan pelaku pariwisata mendorong sosialisasi, edukasi, dan langkah bersama untuk memulihkan keberlanjutan laut.

Ambon Hadapi Ancaman Pencemaran di Teluk Ambon, Pariwisata dan Nelayan Terancam
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

AMBON — Kondisi lingkungan di Teluk Ambon kini menjadi perhatian serius setelah serangkaian pengamatan dan diskusi yang mempertemukan pemerintah daerah, peneliti, pelaku pariwisata, dunia usaha, sektor pendidikan, dan komunitas. Forum yang digelar oleh Spice Island Divers bersama Dinas Pariwisata Provinsi Maluku pada Sabtu, 29 Agustus 2026, menyoroti tekanan yang datang dari pencemaran, sedimentasi, dan sampah plastik yang menggerus kualitas ekosistem laut di perairan Teluk Ambon.

Masalah ekosistem dan dampak ekonomi

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, hadir pada forum tersebut dan mengingatkan bahwa Teluk Ambon menyimpan biota endemik yang menjadi ikon wilayah. Namun, menurutnya, biota tersebut kini mengalami tekanan berat karena akumulasi sampah plastik dan sedimentasi yang berasal dari aktivitas manusia. Tekanan ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga menempatkan industri pariwisata bahari serta mata pencaharian nelayan dalam kondisi rawan.

Dalam paparan forum disebutkan bahwa kerusakan terumbu karang pada wilayah tersebut telah terjadi secara bertahap selama kurang lebih 10 tahun terakhir akibat kombinasi sedimen dan limbah plastik. Perubahan kondisi lingkungan ini berpotensi menurunkan produktivitas perikanan lokal dan menurunkan daya tarik destinasi penyelaman yang selama ini menjadi sumber devisa bagi komunitas setempat.

Pendekatan multidisipliner dan seruan untuk pendidikan

Forum yang diselenggarakan di Spice Island Divers & Resort, Laha menghadirkan elemen peneliti, pelaku pariwisata, dunia usaha, unsur pendidikan, serta komunitas sebagai bagian dari upaya merumuskan langkah kolektif menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Salah satu perekayasa dari BRIN Ambon, Daniel D. Pelasula, menjelaskan bahwa tekanan terhadap Teluk Ambon bersifat kumulatif dan membutuhkan pendekatan berbasis bukti untuk pemulihan.

"Ini yang harus kita gelorakan ke masyarakat lewat kegiatan-kegiatan sosialisasi, kampanye dan segala macam edukasi yang harus diberikan,"

pernyataan Gubernur Lewerissa menggarisbawahi pentingnya peningkatan kesadaran publik. Ia menekankan bahwa upaya menjaga kebersihan lingkungan dan penanganan sampah, baik plastik maupun nonplastik, harus ditanamkan sejak usia dini melalui pendidikan dan program sosialisasi yang berkelanjutan.

Langkah strategis yang diusulkan

Dalam forum dibahas kebutuhan untuk mengintegrasikan tindakan berikut sebagai respons terhadap kerusakan ekosistem Teluk Ambon:

  • Peningkatan kampanye edukasi publik mengenai pengelolaan sampah dan praktik ramah lingkungan;
  • Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, sektor pariwisata, dan komunitas lokal untuk program rehabilitasi terumbu karang dan pengendalian sedimentasi;
  • Penerapan kebijakan pengurangan sampah plastik dan penguatan sistem pengelolaan limbah di hilir sungai yang bermuara ke teluk.

Para peserta juga menyepakati perlunya data ilmiah berkelanjutan untuk memantau perkembangan kondisi lingkungan serta efektivitas intervensi yang dijalankan, sehingga kebijakan dan program konservasi dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Data ringkas tekanan dan dampak

Faktor Dampak yang dilaporkan
Sedimentasi Kekeruhan air, penutupan substrat terumbu, penurunan kesehatan karang
Sampah plastik Akumulasi sampah di habitat laut, ancaman bagi biota, estetika pariwisata menurun
Aktivitas manusia Tekanan berkelanjutan pada ekosistem, menurunnya hasil tangkapan nelayan, risiko ekonomi bagi komunitas

Meski forum mengidentifikasi langkah-langkah awal, narasumber menekankan bahwa pemulihan lingkungan memerlukan waktu dan komitmen jangka panjang. Perubahan perilaku publik serta peningkatan kapasitas pengelolaan sampah menjadi aspek krusial yang mesti direalisasikan segera.

Untuk Ambon, implikasinya luas: keberlanjutan pariwisata bahari yang menjadi salah satu aset provinsi, serta ketahanan ekonomi keluarga nelayan, bergantung pada kemampuan pemangku kepentingan lokal mengatasi sumber pencemaran dan menerapkan langkah konservasi berlandaskan bukti ilmiah.

Sekretariat forum mengharapkan tindak lanjut yang konkret dari diskusi ini, termasuk perumusan rencana aksi bersama yang melibatkan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, lembaga penelitian, pihak swasta pariwisata, dan organisasi masyarakat sipil demi memulihkan serta melindungi Teluk Ambon ke depan.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

MAMaluku

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Maluku, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik