Perpustakaan sebagai ruang kultural dan sosial
Tual — Usaha meningkatkan minat baca anak-anak di Kota Tual, Maluku, tidak selalu dimulai dengan mendorong mereka membaca buku secara langsung. Pendekatan berbeda itu dipaparkan oleh Irfan Bungin, pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual, dalam Siniar Kelas Literasi Widya Bahana Swara (WBS) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 14 September 2026.
Irfan menjelaskan bahwa perpustakaan perlu lebih dulu menjadi tempat yang nyaman dan menarik bagi pengunjung, khususnya anak-anak. Dari situ, minat membaca berkembang secara bertahap. Penjelasan ini disampaikan dalam siaran yang menyoroti perjalanan pengembangan perpustakaan di wilayah kepulauan dan hadir dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan.
Tantangan SDM dan multiperan pustakawan
Salah satu kendala utama yang dihadapi perpustakaan di Kota Tual adalah keterbatasan sumber daya manusia. Menurut data yang disampaikan, institusi itu memiliki sekitar 16–17 pegawai, namun hanya terdapat dua pustakawan. Kondisi tersebut memaksa pustakawan menjalankan beragam tugas, mulai dari pengolahan bahan pustaka hingga pelayanan langsung kepada pemustaka.
| Aspek | Jumlah |
|---|---|
| Total pegawai | 16–17 |
| Jumlah pustakawan | 2 |
Kendati demikian, Irfan menyatakan kebanggaannya menjalankan profesi pustakawan di wilayah timur Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses. Ia menekankan peran perpustakaan sebagai fasilitator informasi di era digital bagi masyarakat setempat.
"Ada semacam rasa bangga ketika menjadi pustakawan. Bagaimana masyarakat di wilayah timur dengan segala keterbatasan akses, di era yang serba digital ini, kita bisa memfasilitasi masyarakat untuk tetap bisa mengakses dan menerima informasi di perpustakaan,"
Strategi menarik pengunjung anak
Irfan mengurai bahwa salah satu hambatan besar adalah stigma publik yang memandang perpustakaan semata-mata sebagai tempat membaca dan meminjam buku. Untuk mengatasi hal itu, pihak perpustakaan Kota Tual menerapkan sejumlah langkah praktis untuk membuat perpustakaan lebih ramah anak.
- Menciptakan suasana yang nyaman dan menarik sebagai titik awal agar anak-anak bersedia datang;
- Menggunakan aplikasi layanan perpustakaan dengan fitur suara sambutan saat pengunjung mengisi daftar tamu;
- Membedah fungsi perpustakaan menjadi ekosistem yang melayani kebutuhan informasi, rekreasi, dan interaksi sosial, bukan sekadar tempat baca.
Irfan menceritakan bahwa inovasi sederhana, seperti ucapan selamat datang melalui fitur suara, memicu rasa penasaran anak-anak. Mereka bahkan rela mengantre untuk mendengar sambutan tersebut, yang kemudian menjadi gerbang bagi keterlibatan mereka lebih jauh dengan fasilitas perpustakaan.
Implikasi bagi komunitas Tual
Langkah-langkah seperti yang dijelaskan pustakawan Kota Tual membuka peluang lebih luas bagi peningkatan literasi di lingkungan kepulauan yang memiliki keterbatasan infrastruktur. Ketika perpustakaan bertransformasi menjadi ruang multifungsi yang inklusif, potensi jangkauan layanan informasi dan pendidikan nonformal bagi anak dan keluarga ikut meningkat.
Namun, tantangan SDM tetap memerlukan perhatian. Dengan rasio pustakawan yang rendah terhadap total pegawai, keberlanjutan program-program inovatif bergantung pada dukungan lebih luas, baik dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, maupun masyarakat setempat.
Diskusi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional dan dipandu pustakawan Munas Riana ini menempatkan Kota Tual sebagai contoh langkah adaptif perpustakaan di kawasan timur Indonesia, khususnya dalam menjawab kebutuhan komunitas pulau yang beragam. Praktik-praktik sederhana namun berdampak pada kenyamanan pengunjung menjadi inti strategi yang dijalankan oleh pustakawan setempat.
Ke depan, upaya memperkuat sumber daya manusia, pengembangan program ramah anak, serta kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting untuk memastikan bahwa perpustakaan di Tual tidak hanya menjadi tempat berkunjung sesaat, melainkan pusat literasi berkelanjutan bagi generasi muda kota kepulauan ini.