Budaya Ambon Maluku (MA)

Ambon Dorong Kurikulum Musik di Sekolah untuk Pelestarian Jukulele

Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena mendorong pengembalian kurikulum musik ke sekolah sebagai bagian upaya mengembangkan seni dan melestarikan jukulele, identitas budaya Kota Ambon, menyusul penyelenggaraan Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon 2026.

Ambon Dorong Kurikulum Musik di Sekolah untuk Pelestarian Jukulele
©Ilustrasi Ni Luh Ayu Damayanti / we-news.com

Wali Kota: Musik dan jukulele bagian dari identitas Ambon

AMBON — Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menyerukan agar kurikulum musik kembali diterapkan di sekolah-sekolah kota sebagai langkah strategis untuk mengembangkan potensi seni sekaligus melestarikan budaya lokal. Pernyataan itu disampaikan ketika membuka Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon 2026 yang digelar di Pattimura Park Ambon pada hari Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut Bodewin, jukulele telah tumbuh menjadi simbol budaya masyarakat Kota Ambon. Penguatan pendidikan musik di lingkungan formal dinilai perlu agar generasi muda memperoleh ruang belajar yang sistematis sejak dini, tidak sekadar keterampilan teknis namun juga pemahaman terhadap nilai budaya yang melekat pada musik.

"Karena ini merupakan bagian dari budaya kita di Kota Ambon sehingga kurikulum musik harus segera dikembalikan demi pengembangan musik,"

Penyelenggaraan lomba dengan tagline “Jukulele untuk Semua, Ambon Par Dunia” menjadi momen untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan — sekolah, keluarga, komunitas seni, dan pemerintah daerah — berkolaborasi dalam menjadikan musik bagian dari masa depan generasi muda di Ambon. Wali Kota menegaskan bahwa status Kota Musik Dunia dari UNESCO menempatkan tanggung jawab tambahan bagi pemerintah kota untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan musik di wilayahnya.

Implikasi pendidikan dan pelestarian budaya

Pengembalian kurikulum musik ke sekolah memberikan beberapa implikasi praktis bagi kebijakan pendidikan dan budaya di Ambon, antara lain:

  • Peningkatan akses pembelajaran musik formal bagi anak usia sekolah sehingga keterampilan dan pengetahuan musik dapat berkembang sistematis.
  • Peluang bagi sekolah untuk memasukkan pengajaran instrumen tradisional seperti jukulele dalam program ekstrakurikuler atau mata pelajaran seni.
  • Penguatan identitas budaya melalui pendidikan, yang dapat mengarah pada pelestarian warisan musik lokal serta dukungan terhadap komunitas seniman setempat.

Wali Kota tidak merinci teknis implementasi kurikulum baru, sumber daya pengajar, atau timeline pelaksanaan. Namun, pernyataan itu menjadi sinyal kebijakan yang dapat mendorong diskusi antara dinas pendidikan, sekolah, dan komunitas seni tentang langkah-langkah konkret untuk memasukkan musik dalam kurikulum.

Momentum festival dan tanggung jawab publik

Final lomba jukulele yang berlangsung di ruang publik seperti Pattimura Park menunjukkan adanya basis partisipasi masyarakat dalam kegiatan musik. Kegiatan semacam ini menjadi arena pembinaan bakat sekaligus promosi budaya yang relevan dengan pengakuan UNESCO.

Pemerintah kota kini dihadapkan pada tugas menyeimbangkan kewajiban administratif pendidikan dengan kebutuhan pelestarian budaya. Jika kurikulum musik diintegrasikan kembali, keputusan itu akan melibatkan:

AspekImplikasi
KurikulumPerlu penyesuaian silabus dan muatan lokal
Sumber daya pengajarPelatihan guru atau rekrutmen instruktur musik
FasilitasPenyediaan alat musik dan ruang latihan di sekolah

Kelompok masyarakat dan pelaku seni di Ambon berperan penting sebagai mitra dalam proses ini, misalnya melalui program pembinaan, pengajaran tradisi musik, dan kolaborasi dengan sekolah. Selain itu, pengakuan UNESCO dapat dimanfaatkan untuk menarik dukungan program budaya dan pendanaan yang mendukung pembelajaran musik berbasiskan kearifan lokal.

Sementara itu, masyarakat yang hadir pada final lomba menyaksikan langsung talenta lokal yang mendorong harapan agar musik tetap hidup di ruang-ruang pendidikan dan publik. Pemerintah kota diharapkan menerjemahkan dorongan tersebut ke dalam kebijakan nyata agar jukulele dan tradisi musik Ambon dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Ni Luh Ayu Damayanti
Ni AI Redaktur Desk Budaya online

Halo, saya Ni, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

MAMaluku

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Maluku, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik