Perjalanan awal dan lingkungan penghafalan
Sejak kanak-kanak, Muslim Dermiwa Riko Putra telah dibiasakan berinteraksi intens dengan Al-Qur'an. Orang tuanya memasukkannya ke sebuah TK Tahfiz, tempat ia pertama kali mengenal rutinitas membaca dan mengulang ayat demi ayat. Kebiasaan ini berkembang menjadi disiplin harian yang kemudian membentuk kemampuan menghafal yang sejak dini.
Progres hafalan hingga khatam pada usia dini
Ketika mengakhiri pendidikan di TK Tahfiz, Muslim telah menguasai separuh dari Al-Qur'an, lalu melanjutkan proses belajar di lingkungan baru setelah keluarganya berpindah tempat. Lingkungan yang aktif mengaji, termasuk saat tinggal di Makkah, mempercepat perjalanan hafalannya hingga mencapai 30 juz pada usia 10 tahun.
"Alhamdulillah, sejak kecil sudah mulai menghafal Al-Qur'an. Tepatnya dari umur 5 tahun... Waktu itu hafalan saya sudah 15 juz,"
Pernyataan tersebut merekam bagian awal perjalanan Muslim yang dimulai dari usia lima tahun dan menunjukkan bahwa capaian besar dapat bermula dari rutinitas kecil.
Kondisi saat ini dan keterlibatan di MTQN
Saat ini Muslim berusia 18 tahun dan menempuh pendidikan kelas 3 SMA di Pondok Pesantren Ashabul Qur'an Situjuah Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Hafalan yang dirampungkan sejak masa kanak-kanak menjadi modal utama saat ia tampil dalam cabang hafalan 30 juz pada Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional (MTQN) ke-31 di Semarang.
Metode dan kiat menghafal menurut peserta
Dalam proses menghafal, Muslim menekankan pendekatan bertahap dan konsisten. Ia tidak memaksakan banyak ayat sekaligus, melainkan memulai dengan membaca bagian yang menjadi target, kemudian mengulang hingga melekat dalam ingatan. Strategi ini menekankan kualitas pengulangan dan pemahaman bacaan.
- Mulai sejak usia dini, membiasakan interaksi harian dengan Al-Qur'an.
- Memecah target menjadi bagian kecil (misalnya satu halaman) lalu mengulang terus menerus.
- Mengoptimalkan lingkungan penghafalan, seperti bergabung dengan komunitas tahfiz baik di dalam maupun luar negeri.
Tabel perkembangan hafalan
| Usia | Lokasi / Kegiatan | Perkembangan hafalan |
|---|---|---|
| 5 tahun | Masuk TK Tahfiz | Memulai pengajaran dan kebiasaan membaca |
| 7 tahun | Tamat TK Tahfiz | Hafal sekitar 15 juz |
| 10 tahun | Tinggal di Makkah | Rampung hafal 30 juz |
| 18 tahun | Pondok Pesantren Ashabul Qur'an, Situjuah Gadang | Mewakili Sumbar pada MTQN |
Makna budaya dan peran pesantren
Kisah Muslim menyentuh nilai kolektif masyarakat Minang yang mengagungkan ilmu dan kesungguhan. Pesantren di daerah seperti Ashabul Qur'an menjadi wadah penting untuk menyeleksi dan memelihara generasi tahfiz. Selain aspek spiritual, pengajaran terstruktur di lembaga pendidikan agama juga mendukung kesiapan peserta saat berlaga di tingkat nasional.
Dampak lokal dan inspirasi bagi keluarga
Prestasi seorang anak dari Kabupaten Lima Puluh Kota ini berpotensi memberi dorongan kepada keluarga dan lembaga pendidikan setempat untuk melanjutkan tradisi pembinaan tahfiz. Keberhasilan pada usia sangat muda menunjukkan perlunya dukungan lingkungan — keluarga, guru, serta sarana pendidikan — agar kemampuan serupa dapat tumbuh pada generasi lainnya.
Catatan praktis untuk orang tua dan pendidik
Berdasarkan pengalaman Muslim, beberapa hal praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua dan pendidik antara lain:
- Memulai pengenalan Al-Qur'an sedini mungkin dengan pembiasaan harian.
- Menciptakan lingkungan yang mendukung pengulangan dan pembelajaran kolektif.
- Memberi target yang realistis dan merayakan kemajuan kecil untuk menjaga motivasi.
Kisah Muslim Dermiwa Riko Putra merupakan cermin bahwa tahapan kecil yang konsisten, didukung lingkungan yang kondusif, dapat melahirkan prestasi pada panggung nasional. Di tengah riuhnya kompetisi MTQN, suara anak-anak yang dibesarkan dengan kitab tetap menyejukkan, mengingatkan kita bahwa kerja keras dan kebiasaan adalah jalan panjang menuju pencapaian besar.