Hujan lebat beberapa jam pada Jumat sore (18/9/2026) memicu banjir bandang yang melanda Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Peristiwa itu terjadi setelah aliran Sungai Aek Koronok dan Sungai Batang Jember Tonang Raya meluap, sehingga air masuk ke permukiman warga sekitar pukul 16.00 WIB.
Dampak langsung dan korban
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kerusakan dan dampak sosial akibat banjir bandang. Data sementara menunjukkan setidaknya 55 keluarga terdampak dan jumlah rumah yang terendam mencapai 55 unit. Selain itu, banjir merusak 2 unit rumah dan menggenangi sekitar 5 hektar lahan pertanian.
| Parameter | Jumlah |
|---|---|
| Keluarga terdampak | 55 |
| Rumah terendam | 55 unit |
| Rumah rusak | 2 unit |
| Lahan terdampak | ~5 hektar |
Pencarian korban dan upaya SAR
Satu warga dilaporkan hilang terseret arus saat banjir bandang. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik, menyatakan bahwa tim SAR melakukan pencarian terhadap korban atas nama Amrianto (51), yang dilaporkan hanyut sekitar pukul 17.15 WIB di Kampung Parit, Jorong Tonang Raya.
Personel yang dikerahkan meliputi 12 orang dari Pos SAR Pasaman dan 6 orang dari Unit Siaga SAR Agam. Koordinator Pos SAR Pasaman, Novi Yurandi, mengatakan tim gabungan masih menyisir aliran sungai hingga jarak sekitar 2–3 km ke hilir dalam upaya menemukan korban.
"Seorang warga masih dalam pencarian setelah banjir melanda Nagari Simpang Tonang,"
Selain penyisiran dengan personel, tim SAR mengoperasikan teknologi dan peralatan untuk mempercepat pencarian. Mereka menerbangkan drone thermal dan membersihkan tumpukan material kayu yang diduga menjadi tempat bersembunyi atau terperangkapnya korban menggunakan chainsaw.
Penanganan pascabanjir dan koordinasi
Pada Sabtu (19/9/2026), pihak BNPB menyatakan banjir di Nagari Simpang Tonang telah surut. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman bersama pemerintah kecamatan, pemerintah nagari, TNI, Polri, dan masyarakat telah melakukan asesmen dan koordinasi untuk penanganan pascabanjir.
Beberapa keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat. BNPB mencatat ada tiga keluarga yang mengungsi, sementara proses pendataan kerusakan dan bantuan terus dilakukan oleh instansi terkait.
Risiko hidrometeorologi dan imbauan
Banjir bandang pada kejadian ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dalam rentang waktu singkat. Fenomena luapan sungai dan material hanyut—seperti kayu dan sedimen—memperbesar kekuatan arus sehingga meningkatkan risiko terseretnya warga dan kerusakan infrastruktur permukiman serta lahan pertanian.
Pihak berwenang meminta warga di daerah rawan banjir dan sepanjang aliran sungai untuk tetap waspada, menghindari aktivitas di bantaran sungai saat hujan lebat, dan mengikuti arahan evakuasi dari pemerintah daerah atau petugas lapangan.
- Warga di daerah aliran sungai diminta menjauhi bantaran saat hujan deras.
- Lapor segera ke posko BPBD atau Polsek/ Koramil setempat bila menemukan warga hilang atau tertimpa material hanyut.
- Gunakan jalur evakuasi yang aman dan mengutamakan keselamatan keluarga terlebih dahulu.
Langkah berikutnya
Proses pencarian korban masih berlangsung oleh tim SAR gabungan hingga informasi lebih lanjut tersedia. Pemerintah daerah bersama BPBD akan memetakan kebutuhan darurat, seperti logistik, tenda, dan layanan kesehatan bagi warga terdampak. Pendataan kerugian dan kerusakan juga menjadi prioritas untuk menentukan besaran bantuan dan upaya rehabilitasi yang diperlukan.
Banjir bandang ini mengingatkan kembali pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem dan kesiapsiagaan komunitas lokal. Seperti pepatah yang sering disampaikan di ranah Minang, keselamatan keluarga adalah harta yang tak ternilai—oleh karenanya langkah cepat dan gotong royong menjadi kunci meredam dampak bencana.
Informasi lebih lanjut akan disampaikan bila ada perkembangan resmi dari BPBD, SAR, atau BNPB terkait kondisi korban dan kebutuhan penanganan pascabanjir di Nagari Simpang Tonang.