Pemerintah Kota Bengkulu memperkuat upaya pengelolaan sampah dengan pendekatan berbasis kelurahan, mendorong warga untuk mengubah limbah menjadi produk bernilai guna mengurangi permasalahan sampah dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Pengelolaan sampah sebagai kegiatan produktif
Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyebutkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah semakin meningkat, salah satunya terlihat pada kegiatan yang dikembangkan oleh Divisi Usaha Produktif Berbasis Pengolahan Sampah (UPBPS) Manunggal Lestari di Kelurahan Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung. Pemerintah daerah mendukung pemanfaatan dana kelurahan untuk aktivitas ini agar sampah tidak lagi dipandang sebagai beban tetapi sebagai sumber ekonomi.
"Yang pertama, kesadaran masyarakat semakin tinggi terhadap sampah. Ini di Kelurahan Kebun Tebeng, mereka memanfaatkan dana kelurahan untuk melakukan kegiatan pengelolaan sampah,"
Dedy menekankan bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk pakan maggot dan pupuk organik, sehingga membuka peluang tambahan pendapatan bagi keluarga.
Contoh program dan integrasi usaha
Salah satu upaya yang didorong Pemkot adalah budidaya maggot dari limbah organik. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah organik, tetapi juga terintegrasi dengan usaha budidaya seperti ikan lele dan itik. Contoh lain disebutkan pada Kelurahan Tanah Patah yang mengembangkan inisiatif melalui Berendo Maggot bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
- Pengolahan limbah organik menjadi pakan maggot.
- Pembuatan pupuk organik dari sisa pengolahan sampah.
- Integrasi budidaya maggot dengan usaha ternak dan perikanan (lele, itik).
Pemanfaatan maggot sebagai pakan merupakan salah satu upaya yang dapat mengurangi beban sampah organik sekaligus menyediakan bahan pakan alternatif yang bernilai ekonomi.
Dorongan pengembangan dan target 2027
Dedy menyatakan harapannya agar pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini semakin masif pada 2027 dan program di Kebun Tebeng dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain. Dengan skala yang lebih luas, pengelolaan berbasis kelurahan diharapkan mampu menurunkan masalah sampah kota sekaligus mendorong keterlibatan aktif warga.
Menurutnya, apabila setiap warga menerapkan pola pikir yang sama—melihat sampah sebagai potensi ekonomi—maka beban sampah kota dapat berkurang dan ekonomi keluarga meningkat.
Dampak dan tantangan implementasi
Penerapan pengelolaan sampah produktif di tingkat kelurahan berpotensi menghadirkan beberapa manfaat langsung, antara lain pengurangan volume sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan akhir, peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengolahan limbah, serta tambahan sumber pendapatan rumah tangga.
Namun, keberlanjutan program ini mensyaratkan beberapa hal: pembinaan teknis kepada pengelola, akses modal atau dana kelurahan yang konsisten untuk kegiatan awal, serta jaringan pemasaran bagi produk hasil olahan. Selain itu, pemisahan sampah dari hulu menjadi kunci agar pengolahan di tingkat kelurahan berjalan efektif.
| Kelurahan | Jenis Kegiatan |
|---|---|
| Kebun Tebeng | Pengolahan sampah berbasis UPBPS Manunggal Lestari; maggot dan pupuk |
| Tanah Patah | Program Berendo Maggot terintegrasi dengan budidaya lele dan itik (kerja sama dengan mahasiswa UMB) |
Arahan bagi kelurahan lain
Pemkot menyerukan agar seluruh kelurahan memetakan potensi sampah organik dan non-organik serta merancang usaha produktif yang sesuai dengan kondisi lokal. Dukungan teknis, penggunaan dana kelurahan, dan keterlibatan perguruan tinggi atau organisasi masyarakat dinilai penting agar transfer pengetahuan dan akses pasar dapat terwujud.
Dengan mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang produktif dan berkelanjutan, Pemerintah Kota Bengkulu berharap dapat menurunkan persoalan sampah kota sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga di tingkat kelurahan.