Populasi menyusut dan habitat tergerus
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu mencatat jumlah gajah di wilayah Provinsi Bengkulu saat ini diperkirakan 25–30 ekor, termasuk individu yang dibina di fasilitas konservasi. Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, mengatakan data tersebut menunjukkan populasi gajah di provinsi ini sangat terbatas.
Agung menjelaskan bahwa dari kawanan liar yang terekam, terdapat empat anakan sementara sisanya merupakan gajah dewasa, sehingga secara biologis populasi masih menunjukkan tanda reproduksi. Namun, ia menekankan kondisi habitat yang menyusut menjadi tantangan utama bagi kelangsungan kelompok gajah tersebut.
Penyebab: konversi lahan, perambahan, fragmentasi, dan perburuan
Analisis dari organisasi lingkungan menyoroti beberapa faktor yang mempercepat penurunan populasi. Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, menyatakan kondisi di Bentang Alam Seblat—khususnya wilayah Kabupaten Bengkulu Utara—sangat kritis. Menurut Ali, kombinasi fragmentasi habitat, perambahan hutan, dan konflik manusia-satwa menjadi ancaman serius.
"Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,"
Ali juga menyinggung adanya praktik pembalakan dan peralihan fungsi lahan menjadi perkebunan sawit yang memutus jalur pergerakan gajah. Selain itu, tindakan kriminal seperti pembunuhan melalui peracunan disebut sebagai salah satu penyebab penurunan jumlah individu.
Data lahan di Bentang Alam Seblat
Koalisi Bentang Seblat mengemukakan angka mengenai perubahan penggunaan lahan yang menggambarkan tekanan terhadap habitat gajah.
| Parameter | Angka |
|---|---|
| Luasan kawasan inti Bentang Alam Seblat | 80.978 hektare |
| Luasan yang telah dirambah/berubah jadi perkebunan sawit | 30.017 hektare |
Konversi sekitar 30.017 hektare dari kawasan inti menjadi perkebunan menunjukkan tekanan kuat terhadap kontinuitas habitat dan koridor pergerakan satwa besar seperti gajah.
Dampak bagi konservasi dan masyarakat lokal
Penyusutan habitat dan fragmentasi tidak hanya berimplikasi pada penurunan populasi gajah, melainkan juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa ketika kawanan mencari pakan di lahan pertanian atau permukiman. Selain aspek konservasi, kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan kerugian ekonomi bagi petani setempat.
- Ancaman kehilangan habitat akibat konversi ke perkebunan sawit dan perambahan.
- Fragmentasi yang memutus jalur migrasi dan mengisolasi populasi.
- Ancaman langsung seperti peracunan dan pembalakan ilegal.
Kebutuhan langkah perlindungan dan mitigasi
Para penggiat konservasi dan instansi terkait diharap memperkuat upaya perlindungan melalui pengamanan habitat kritis, pemulihan koridor ekologis, penegakan hukum terhadap pembalakan dan kasus peracunan, serta program mitigasi konflik manusia-satwa. Data BKSDA dan analisis kelompok lingkungan mengindikasikan bahwa tanpa upaya terpadu, populasi gajah di Bengkulu berisiko mengalami penurunan lebih lanjut hingga mencapai ambang kepunahan lokal.
Pengembangan kebijakan pengelolaan tata guna lahan yang mempertimbangkan kelestarian ekosistem serta peningkatan kesadaran masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang untuk mempertahankan keberadaan gajah Sumatera di Bengkulu.