Manado — Pengamatan terbaru menunjukkan guguran lava dari Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, meluncur hingga sekitar 1.000 meter dari kawah utara. Informasi itu disampaikan oleh Ketua Pos Pengamatan Gunung Api, Yudia P. Tatipang, pada Jumat yang lalu.
Hasil pengamatan dan pola luncur lava
Berdasarkan hasil pengamatan tanggal 20 Agustus 2026, guguran lava tercatat memiliki jarak luncur berkisar 300–1.000 meter dengan arah dominan ke selatan dan barat. Leleran lava dari kawah utara mengisi cekungan di sekitar kawah dan diperkirakan akan terus mengalir selama cekungan belum penuh.
"Jarak luncur terjauh guguran lava sekitar 1.000 meter,"
Yudia menjelaskan bahwa leleran lava dari kawah utara mengalir dan memenuhi cekungan, sehingga ketika cekungan penuh aliran diperkirakan akan melanjutkan turun ke arah yang lebih jauh. Aktivitas guguran disifatkan variatif, "kadang ramai, kadang sepi," menurut pengamatan di lapangan.
Status dan rekomendasi keselamatan
Meski jarak luncur terjauh tercatat 1.000 meter, Pos Pengamatan menekankan bahwa titik tersebut masih berada jauh dari batas kawasan rawan bencana (KRB) yang ditetapkan, yaitu sejauh 4,5 kilometer dari permukiman. Namun demikian, pengelola pos kembali mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.
Rekomendasi utama yang dikeluarkan antara lain:
- Tidak mendekati atau melakukan pendakian ke puncak gunung;
- Tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan);
- Mematuhi area perluasan sektoral ke arah utara-barat dan barat daya sejauh 2,5 kilometer dari kawah utara.
Rekam jejak gempa dan jenis kegempaan
Pengamatan seismik selama periode yang dilaporkan mencatat beragam jenis gempa yang terkait aktivitas vulkanik. Data Pos Pengamatan mencatat beberapa kejadian sebagai berikut.
| Jenis kejadian | Jumlah tercatat |
|---|---|
| Gempa guguran | 3 kali |
| Gempa embusan | 52 kali |
| Gempa tremor non-harmonik | 20 kali |
| Gempa tremor harmonik | 17 kali |
| Gempa hybrid / fase banyak | 2 kali |
| Gempa tektonik lokal | 3 kali |
| Gempa tektonik jauh | 3 kali |
Catatan tersebut menggambarkan bahwa aktivitas vulkanik tidak hanya berupa pelepasan lava, tetapi juga disertai berbagai jenis kegempaan yang menjadi parameter penting bagi pengamatan berkelanjutan.
Aspek mitigasi dan imbauan pemerintah daerah
Dengan status Waspada (Level II), Pemerintah Daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana dan pos pengamatan diminta mengintensifkan sosialisasi mitigasi kepada warga, khususnya di wilayah yang berada di koridor aliran materi vulkanik dan sektor perluasan bahaya. Masyarakat di permukiman yang lebih jauh tetap diimbau siaga, mengingat perubahan pola leleran lava dan intensitas kegempaan dapat berubah.
Pos Pengamatan menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap radius bahaya yang direkomendasikan agar terhindar dari potensi bahaya seperti guguran lava pijar, aliran piroklastik sekunder (jika terjadi), dan lontaran material dari kawah.
Pemantauan berkelanjutan
Tim pengamat akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Karangetang, termasuk jarak luncur guguran lava, intensitas gempa, dan perubahan visual kawah. Warga dan pihak terkait diimbau selalu memperbarui informasi melalui saluran resmi pos pengamatan dan otoritas setempat.
Informasi ini disusun berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api dan pernyataan Yudia P. Tatipang.