Lingkungan Sampit Kalimantan Tengah (KT)

Kebakaran Berulang di Tjilik Riwut Km 7 Mengancam Akses dan Kualitas Udara Sampit

Kawasan lahan di pinggir Jalan Tjilik Riwut Km 7, Sampit, kembali mengalami kebakaran hampir setiap hari sejak awal Agustus. Kondisi lahan gambut kering, angin kencang, dan minimnya sumber air menghambat upaya pemadaman serta meningkatkan risiko meluasnya api dan gangguan kesehatan warga.

Kebakaran Berulang di Tjilik Riwut Km 7 Mengancam Akses dan Kualitas Udara Sampit
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Situasi lapangan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan lahan pinggir Jalan Tjilik Riwut Km 7, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Menurut pantauan dan laporan warga, kebakaran itu terjadi berulang sejak awal Agustus hingga Kamis, 20 Agustus 2026, dimana api yang sempat dipadamkan kembali menyala menjelang magrib.

Kondisi lahan gambut yang kering dan angin kencang disebut sebagai pemicu utama sulitnya memadamkan api secara tuntas. Sejumlah titik yang sebelumnya telah dipadamkan kembali mengeluarkan asap dan menyala lagi, sehingga kebakaran berpotensi meluas.

Respons dan kendala penanganan

Satgas Karhutla merespons laporan warga dan relawan setempat bergerak menuju lokasi untuk membantu pemadaman. Namun, upaya mereka terhambat oleh ketiadaan sumber air yang memadai di sekitar titik kebakaran. Relawan di lapangan hanya membawa pompa air portabel, sehingga kesulitan melakukan pemadaman efektif saat pasokan air terbatas.

"Mohon dibantu, api kembali menyala di Tjilik Riwut Km 7,"

Kondisi ini menempatkan warga pengguna jalan dan pemukiman di sekitarnya pada risiko tinggi karena asap tebal dan kobaran api yang dekat dengan badan jalan. Laporan menyebutkan masyarakat diimbau berhati-hati saat melintas di kawasan itu.

Dampak potensial bagi Sampit

  • Kesehatan: Asap karhutla mengurangi kualitas udara, berisiko memperburuk penyakit pernapasan pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
  • Keselamatan lalu lintas: Asap tebal dan nyala api di dekat jalan meningkatkan bahaya bagi pengendara dan dapat mengganggu arus transportasi lokal menuju Kota Besi.
  • Lingkungan: Lahan gambut yang terbakar berpotensi menimbulkan kebakaran bawah permukaan yang sulit dipadamkan dan memakan waktu lama untuk pulih.

Upaya pemerintah daerah

Menurut catatan sebelumnya, Bupati Kotawaringin Timur telah menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menyiapkan armada suplai air guna membantu penanganan karhutla. Armada suplai air diharapkan menjadi solusi ketika petugas menghadapi lokasi kebakaran yang jauh dari sumber air.

Namun, keterlambatan dan keterbatasan logistik di lapangan tampak masih menjadi kendala. Koordinasi cepat untuk mendistribusikan armada dan memastikan akses air menjadi faktor penentu berhasil tidaknya pemadaman apabila kebakaran kembali muncul secara berulang.

Rekomendasi mitigasi jangka pendek dan jangka menengah

  • Percepatan penempatan armada suplai air di titik-titik rawan termasuk Tjilik Riwut Km 7 untuk mendukung upaya pemadaman awal.
  • Pemantauan rutin dan patroli di area lahan gambut terutama pada periode kering dan saat angin kencang.
  • Penyediaan peralatan pemadaman portable yang memadai bagi relawan lokal serta pelatihan penggunaan untuk efektivitas respons cepat.
Aspek Kondisi saat ini
Frekuensi kejadian Berulang sejak awal Agustus, muncul kembali pada 20 Agustus 2026
Penyebab utama Lahan gambut kering dan angin kencang
Kendala penanganan Minim sumber air di lokasi; relawan hanya membawa pompa

Peringatan bagi warga

Warga di sekitar kawasan Tjilik Riwut Km 7 dan pengguna jalan diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya api dan kondisi asap yang dapat mengganggu kesehatan. Hindari melintas di area terdampak jika tidak mendesak dan ikuti arahan satgas karhutla serta petugas setempat.

Penanganan karhutla memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, satgas, relawan, dan masyarakat. Penyediaan sumber daya air dan peralatan pemadaman yang memadai serta patroli proaktif akan sangat menentukan upaya mencegah kebakaran berulang yang mengancam Sampit.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KTKalimantan Tengah

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Tengah, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik