Lingkungan Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah (KT)

Kotawaringin Timur Catat 1.257 Hotspot, 373,88 Ha Lahan Terbakar hingga 8 Agustus 2026

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kotawaringin Timur mencatat 1.257 titik panas pada pemantauan satelit hingga 8 Agustus 2026; 203 kejadian kebakaran telah membakar 373,8788 hektare lahan, dengan konsentrasi tinggi di Kecamatan Kota Besi, Mentawa Baru Ketapang, dan Baamang.

Kotawaringin Timur Catat 1.257 Hotspot, 373,88 Ha Lahan Terbakar hingga 8 Agustus 2026
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

KOTAWARINGIN TIMUR — Kabupaten Kotawaringin Timur menghadapi tekanan serius dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau tahun ini. Hingga 8 Agustus 2026 tercatat 1.257 titik panas (hotspot) di wilayah ini, menurut data yang dipublikasikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Skala kejadian dan luas lahan terbakar

BPBD Kotawaringin Timur mencatat telah terjadi 203 kejadian karhutla yang telah membakar total seluas 373,8788 hektare. Data tersebut menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla pada praktiknya sudah berubah dari potensi menjadi kejadian nyata yang meluas di sejumlah kecamatan.

"Hotspot yang terdeteksi tetap harus kita tindak lanjuti dengan pengecekan di lapangan. Tidak semua hotspot berarti kebakaran, tetapi setiap titik harus diwaspadai,"

Kutipan di atas disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, yang menegaskan pentingnya verifikasi lapangan terhadap temuan satelit untuk menentukan respons yang tepat.

Distribusi hotspot dan wilayah terdampak

Data BPBD menunjukkan sebaran hotspot tersebar di berbagai kecamatan, namun sejumlah wilayah mencatat konsentrasi titik panas yang tinggi. Berikut lima kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak:

  • Kota Besi: 241 titik
  • Mentawa Baru Ketapang: 152 titik
  • Mentaya Hilir Utara: 138 titik
  • Seranau: 135 titik
  • Antang Kalang: 101 titik

Hotspot juga terdeteksi di Teluk Sampit (73 titik), Baamang (69 titik), Mentaya Hulu (50 titik), Parenggean (46 titik), Telawang (45 titik), Cempaga (34 titik), Cempaga Hulu (29 titik), Tualan Hulu (22 titik), Pulau Hanaut (14 titik), dan Mentaya Hilir Selatan (1 titik).

KecamatanJumlah Hotspot
Kota Besi241
Mentawa Baru Ketapang152
Mentaya Hilir Utara138
Seranau135
Antang Kalang101

Wilayah dengan dampak luas

Jika dilihat dari luasan lahan yang terbakar, beberapa kecamatan menonjol sebagai kawasan dengan dampak paling besar. Mentawa Baru Ketapang tercatat sebagai wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, mencapai 92,0095 hektare. Disusul Baamang seluas 85,6763 hektare, Pulau Hanaut 82,65 hektare, dan Parenggean 41,5 hektare.

Kendati Kota Besi memiliki jumlah hotspot terbanyak, wilayah dengan banyak kejadian terkonfirmasi justru adalah Baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Baamang mencatat 83 kejadian, sedangkan Mentawa Baru Ketapang mencatat 77 kejadian. Gabungan kedua kecamatan tersebut menyumbang sekitar 160 kejadian atau hampir 79 persen dari total 203 kejadian karhutla di Kotawaringin Timur.

Implikasi dan langkah respons

Angka hotspot yang tinggi disertai lahan yang sudah terbakar menunjukkan kebutuhan peningkatan kapasitas deteksi, verifikasi, dan respons lapangan. Pengelolaan karhutla memerlukan koordinasi lintas instansi—pemerintah daerah, TNI/Polri, perusahaan terkait, dan masyarakat setempat—serta dukungan logistik untuk penanganan di titik-titik yang telah terkonfirmasi kebakaran.

Multazam menegaskan bahwa tidak semua titik panas merupakan kebakaran, namun setiap temuan harus ditindaklanjuti untuk memastikan tidak berkembang menjadi kejadian luas. Verifikasi lapangan juga penting untuk mengidentifikasi penyebab, apakah akibat aktivitas pembukaan lahan, pembakaran sampah, atau kebakaran lahan gambut, serta menentukan langkah pemadaman dan pemulihan yang sesuai.

Apa yang dapat dilakukan publik

  • Warga di kawasan rawan diminta memperketat pengawasan dan tidak membuka lahan dengan pembakaran.
  • Laporkan asap atau titik api ke BPBD setempat bila ditemukan untuk mempercepat respons.
  • Patuhi imbauan pembatasan aktivitas berisiko tinggi saat cuaca sangat kering dan angin kencang.

BPBD Kotawaringin Timur terus memantau perkembangan melalui data satelit dan pengamatan lapangan. Masyarakat diimbau tetap waspada, membantu meminimalkan penyebab kebakaran, serta kooperatif saat petugas melakukan evakuasi atau pemadaman.

Data lengkap terkait sebaran hotspot, jumlah kejadian, dan luas lahan terbakar menjadi dasar perencanaan mitigasi jangka pendek maupun upaya pemulihan lahan pascakebakaran. Pemantauan berkelanjutan dan tindakan cepat menjadi kunci meredam dampak karhutla di Kotawaringin Timur pada musim kemarau 2026 ini.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KTKalimantan Tengah

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Tengah, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik