Penguatan kualitas sebagai strategi mempertahankan nama daerah
PAGAR ALAM — Pelaku usaha kopi di Pagar Alam mengambil langkah konkret untuk menjaga identitas kopi Pagar Alam dengan memperkuat kualitas sejak tingkat petani hingga proses pengolahan. Asnadi, pemilik Toko Oleh-Oleh Habara 99 di Jalan Dempo Raya, Kelurahan Nendagung, Kecamatan Pagar Alam Selatan, mengatakan bahwa menjaga nama daerah tidak cukup hanya dengan menjual produk jadi.
Asnadi menjelaskan bahwa praktik umum di wilayah penghasil kopi adalah biji kopi sering keluar sebagai green bean dan kemudian dipasarkan dengan merek daerah lain. Kondisi ini berpotensi mengikis pengakuan atas asal kopi yang sesungguhnya. Untuk itu, pendekatan mutu menjadi kunci agar kopi Pagar Alam tetap dikenal dan mendapat nilai jual layak.
Rangkaian proses yang menentukan harga
Menurut penuturan pelaku usaha, tidak hanya varietas atau jenis kopi yang menentukan harga, melainkan proses pengolahan yang dilakukan. Pemilihan buah, waktu pemanenan, penanganan pasca panen, pengeringan, hingga proses roasting berkontribusi pada terciptanya cita rasa yang bernilai jual lebih tinggi.
"Jadi kopi ini mahal bukan karena misalnya kopi ini lebih bagus dibandingkan yang itu. Tapi mengolahnya, pengolahannya menentukan sehingga muncul cita rasa baru,"
Upaya ini juga diwujudkan oleh Toko Habara 99 dengan menampung produk dari sekitar 50 petani dan pelaku UMKM kopi. Produk yang masuk ke toko tidak sekadar diletakkan di etalase, tetapi harus memenuhi standar pengolahan yang ditetapkan oleh pengelola usaha.
Tantangan: SDM dan kuantitas produksi
Meski demikian, terdapat kendala yang harus diatasi, terutama ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menerapkan teknik pengolahan yang tepat serta tantangan kuantitas produksi. Sektor kopi di banyak daerah sering kali menghadapi dilema antara menghasilkan volume besar dan menjaga mutu yang konsisten.
Pelaku usaha menekankan pentingnya pendampingan dan transfer keterampilan bagi petani agar praktek penanganan pasca panen dan pengolahan dapat dilakukan secara berstandar. Tanpa perbaikan pada rantai nilai ini, upaya mempertahankan identitas daerah bisa tertunda atau bahkan gagal.
Dampak bagi petani dan perekonomian lokal
Penguatan kualitas dan nilai tambah pengolahan kopi memiliki beberapa implikasi penting bagi warga Pagar Alam:
- Meningkatkan potensi pendapatan petani melalui kenaikan harga jual bila mutu terjaga;
- Membangun merek daerah yang kuat sehingga kopi Pagar Alam diakui dalam rantai pasok nasional atau ekspor;
- Mendorong tumbuhnya usaha pengolahan dan UMKM lokal yang mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi alih identitas produk.
Langkah ke depan
Penting bagi pemangku kepentingan—petani, pelaku usaha, lembaga pemerintah daerah, dan pendamping UMKM—untuk menyusun langkah kolaboratif. Intervensi yang mungkin ditempuh meliputi pelatihan teknis pasca panen dan pengolahan, pembentukan standar mutu bersama, serta promosi merek daerah yang konsisten.
Sampai saat ini, inisiatif dari pelaku usaha seperti menampung produk dan menerapkan standar internal menjadi awal penting untuk menahan erosi identitas kopi Pagar Alam. Namun agar berdampak luas, upaya tersebut perlu dibarengi pendampingan sistematis sehingga mutu dapat dipertahankan pada skala yang lebih besar dan berkelanjutan.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Jumlah petani yang ditampung | ~50 petani |
| Rantai kualitas | Pemilihan buah, panen, penanganan pasca panen, pengeringan, roasting |
| Tantangan utama | Minimnya SDM pengolahan dan kuantitas produksi |
Perhatian terhadap penguatan kualitas kopi Pagar Alam tidak hanya relevan bagi usaha kecil dan petani, tetapi juga penting untuk menjaga reputasi daerah sebagai salah satu sentra kopi di Sumatra Selatan. Kegiatan pengolahan yang lebih panjang dan tepat diharapkan mampu menciptakan cita rasa khas yang mengangkat nilai jual kopi setempat dan memperkuat identitas Pagar Alam di pasar yang lebih luas.