Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,59%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada 5,29%. Angka ini diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Sulsel dalam rilis kinerja APBN regional Sulsel untuk tahun anggaran 2026 per 31 Agustus 2026.
Kinerja fiskal dan perdagangan
Pemantauan pelaksanaan APBN menunjukkan beberapa indikator kunci yang menopang pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Neraca perdagangan provinsi tercatat surplus sebesar US$ 72,07 juta pada Agustus 2026. Di sisi inflasi, tercatat angka yang relatif terkendali yakni 0,14% (month-to-month), 2,86% (year-on-year), dan 2,51% (year-to-date).
"Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 tetap terjaga pada angka 5,59%, di atas pertumbuhan nasional 5,29%,"
Rilis tersebut menekankan peran belanja negara yang terealisasi di wilayah Sulsel sebagai pendorong utama aktivitas ekonomi dan peningkatan layanan publik.
Realisasi belanja dan dampaknya
Sampai 31 Agustus 2026, realisasi belanja negara di Sulsel mencapai Rp 36,34 triliun, atau tumbuh 11,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan menilai penguatan belanja negara memberi dorongan bagi kelanjutan pembangunan dan perbaikan layanan kepada masyarakat.
Beberapa program APBN yang disorot dalam pemaparan kinerja meliputi:
- Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada 1.929.720 penerima manfaat melalui 876 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 24 kabupaten/kota.
- Pemberdayaan koperasi, tercatat 3.074 Koperasi Merah Putih memiliki NPWP dan 2.517 dengan NIB, menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp 9,69 miliar dari 1.197.517 transaksi.
- Program pendidikan rakyat: realisasi untuk 16 Sekolah Rakyat dengan 1.750 siswa, serta tindak lanjut pembangunan 9 Sekolah Rakyat baru dengan pagu Rp 1,79 triliun dan realisasi Rp 1,47 triliun.
Ringkasan angka utama
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 (Sulsel) | 5,59% |
| Pertumbuhan ekonomi nasional (Triwulan II 2026) | 5,29% |
| Neraca perdagangan (Agustus 2026) | Surplus US$ 72,07 juta |
| Inflasi | 0,14% (m-to-m), 2,86% (y-on-y), 2,51% (y-to-d) |
| Realisasi Belanja Negara | Rp 36,34 triliun (sampai 31 Agustus 2026) |
Implikasi dan tantangan
Kinerja Sulsel yang melampaui rata-rata nasional menunjukkan bahwa belanja negara dan program-program prioritas memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi lokal. Surplus neraca perdagangan menandakan posisi komparatif daerah dalam kegiatan ekspor-impor, sementara inflasi yang masih rendah memberikan ruang kebijakan bagi pemulihan konsumsi dan investasi.
Meski demikian, keberlanjutan capaian tersebut bergantung pada beberapa faktor, antara lain konsistensi realisasi anggaran hingga akhir tahun, efektivitas program pemberdayaan ekonomi lokal seperti koperasi dan sekolah rakyat, serta kondisi eksternal yang dapat memengaruhi permintaan komoditas dan rantai pasok. Pemantauan berkala terhadap realisasi belanja dan indikator makro menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan dapat dipertahankan atau ditingkatkan pada triwulan berikutnya.
Data resmi ini memberikan gambaran bahwa intervensi fiskal melalui APBN di tingkat daerah masih menjadi instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di provinsi-provinsi dengan kapasitas implementasi program yang baik.
Redaksi Ekonomi, WE NEWS