Tenun Bima sebagai Wajah Budaya pada Panggung Bahari
Lawata Fashion Week yang digelar di Kota Bima menjadi salah satu momen penting bagi pelestarian dan promosi seni tenun tradisional setempat. Di tepi pantai, panggung sederhana menghadap laut berubah menjadi ruang pertemuan antara tradisi lokal dan pengunjung internasional ketika peragaan busana menampilkan tenunan khas Bima.
Acara itu menjadi bagian dari kunjungan peserta Sail to Indonesia Yacht Rally 2026, yang singgah di Bima pada 11–15 September 2026. Rombongan yang mampir ke Kota Bima berjumlah 43 wisatawan dari 15 negara, menggunakan 15 kapal yacht. Kedatangan mereka memberi kesempatan bagi pelaku ekonomi kreatif dan budaya lokal untuk memamerkan karya dan tradisi di hadapan audiens mancanegara.
Pertunjukan: Gerak, Warna, dan Makna
Di bawah langit sore, model dari berbagai usia berlenggak-lenggok menampilkan ragam busana berbahan tenunan Bima. Motif dan warna yang selama ini hadir dalam kehidupan sehari-hari dipadukan menjadi rancangan kontemporer yang tetap mempertahankan identitas lokal. Penonton, termasuk wisatawan mancanegara, tampak menyaksikan dengan perhatian; beberapa mengabadikan momen dengan kamera dan telepon genggam.
"Tenunan Bima yang selama ini lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tampil dalam wajah baru,"
Panggung fashion di Lawata tidak hanya sekadar pameran busana. Setiap potongan kain menyimpan cerita—tentang teknik tenun, nilai estetika, dan keterkaitan sosial antara perajin, pemakai, serta konteks budaya. Menurut pelaporan, acara dimanfaatkan untuk mempertemukan wisatawan dengan produk ekonomi kreatif masyarakat setempat, membuka kesempatan pasar baru sekaligus memperkuat kebanggaan lokal.
Posisi Strategis Bima dalam Rute Bahari
Kota Bima menempati posisi geografis yang strategis di ujung timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai salah satu titik persinggahan dalam rute Sail to Indonesia, kehadiran Bima menghubungkan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dengan kawasan Mandalika di Pulau Lombok. Sementara rombongan pelayaran berangkat dari Labuan Bajo dan akan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Sumbawa, singgah di Bima menjadi peluang untuk promosi budaya dan produk lokal.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Jumlah wisatawan | 43 |
| Asal negara | 15 negara |
| Jumlah kapal | 15 yacht |
| Tanggal singgah | 11–15 September 2026 |
Gelaran seperti Lawata Fashion Week menyediakan panggung untuk menempatkan tenun Bima pada konteks pariwisata berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga memberi ruang bagi dialog antara pengrajin, perancang, dan pengunjung mengenai nilai budaya dan potensi komersial karya tenun.
Dampak Lokal dan Peluang Ke Depan
Bagi warga dan pelaku ekonomi kreatif di Bima, kehadiran wisatawan internasional dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Selain meningkatkan permintaan, interaksi langsung memungkinkan transfer pengetahuan tentang preferensi pasar luar negeri yang dapat mempengaruhi desain dan strategi pemasaran sambil tetap menjaga identitas lokal.
- Peragaan tenun memperkuat eksposur produk lokal ke wisatawan mancanegara.
- Kota Bima berpotensi menjadi titik penghubung pariwisata antara Labuan Bajo dan Mandalika.
- Event ini memberi peluang peningkatan pendapatan bagi perajin dan pelaku ekonomi kreatif.
Lawata Fashion Week menunjukkan bahwa budaya material seperti tenun dapat bertransformasi menjadi bahasa visual yang mudah dipahami oleh audiens internasional. Dengan pengelolaan yang tepat, pagelaran serupa bisa berkelanjutan dan menjadi bagian dari strategi promosi pariwisata budaya Bima ke pangsa pasar yang lebih luas.