Kerumunan damai di pusat kota
Puluhan ribu warga Nusa Tenggara Barat berkumpul dalam suasana khidmat di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, Rabu malam, 12 Agustus 2026, untuk mengikuti Doa Kebangsaan Lintas Agama yang digelar oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB. Acara tersebut menjadi bukti konkret bagaimana keragaman keyakinan diwujudkan dalam ruang publik yang tertib dan penuh penghormatan.
Tokoh hadir, pesan kerukunan tersampaikan
Kegiatan dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan daerah, antara lain Utusan Khusus Presiden Bidang Agama dan Sarana Prasarana Keagamaan Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, serta Wali Kota Mataram Mohan Roliskana dan Wakil Wali Kota Mataram. Kepala Kanwil Kementerian Agama NTB Zamroni Aziz menyatakan rasa syukur atas terselenggaranya acara yang mempertemukan masyarakat dari berbagai agama, suku, dan latar belakang.
"Alhamdulillah, Doa Kebangsaan malam ini dapat terselenggara dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Ini menunjukkan semangat bersama untuk menjaga kerukunan di NTB sekaligus menjaga bangsa dan negara," kata Zamroni.
Menurut rekaman acara dan keterangan penyelenggara, doa dipanjatkan bergantian oleh perwakilan umat dari enam agama—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu—dengan masing-masing melafalkan doa menurut ajaran dan bahasa keyakinan mereka. Momen itu berlangsung di bawah naungan bendera Merah Putih, yang menjadi simbol persatuan di tengah perbedaan.
Suara warga dan makna lokal
Dalam gaya masyarakat yang hangat, peristiwa ini membawa pesan kuat bagi penduduk Mataram dan sekitarnya. Kehadiran warga dari sepuluh kabupaten/kota di NTB, termasuk delegasi dari Pulau Sumbawa, menegaskan bahwa inisiatif menjaga toleransi tidak hanya sebatas retorika, melainkan praktik sosial yang hidup di tingkat akar rumput.
- Partisipasi luas: Puluhan ribu warga dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa hadir.
- Peran tokoh: Tokoh lintas agama dan pejabat nasional hadir untuk memperkuat pesan persatuan.
- Simbol kebhinekaan: Doa bersama enam agama menunjukkan penghormatan antarumat.
Gus Miftah menilai bahwa apa yang terjadi di Lapangan Sangkareang merupakan contoh nyata wajah kebhinekaan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada kerukunan antarmasyarakat dan berharap kegiatan serupa menjadi tradisi nasional.
"Saya pikir ini adalah fenomena yang luar biasa. Di lapangan terbuka, para tokoh lintas agama bersama jemaat masing-masing dapat berkumpul, bersatu, dan melafalkan doa menurut keyakinan mereka, tetapi di tempat yang sama," ujar Gus Miftah.
Dampak dan tindak lanjut yang relevan bagi Mataram
Bagi warga Mataram, acara ini memiliki beberapa implikasi praktis: memperkuat jaringan antar-tokoh agama setempat, membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan ruang publik untuk kegiatan lintas keyakinan, serta membuka peluang bagi kegiatan serupa di lingkungan kelurahan dan kecamatan. Kepala Kanwil Kemenag menekankan bahwa doa kebangsaan bukan sekadar seremoni, melainkan forum untuk meneguhkan komitmen menjaga negara dari daerah.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Penyelenggara | Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTB |
| Tempat | Lapangan Sangkareang, Kota Mataram |
| Tanggal | 12 Agustus 2026 |
| Tokoh hadir | Gus Miftah, Sari Yuliati, Indah Dhamayanti Putri, Mohan Roliskana, Zamroni Aziz |
Warga yang hadir menyatakan harapan agar kegiatan serupa rutin digelar di tingkat lokal untuk memperkuat komunikasi antar-groups agama dan mengurangi potensi gesekan sosial. Penyelenggara juga mendapat pujian atas koordinasi keamanan dan kenyamanan sehingga acara berjalan tertib meski dihadiri massa besar.
Doa Kebangsaan di Mataram menjadi refleksi bahwa kerukunan dapat dipraktikkan secara nyata. Bagi masyarakat setempat, peristiwa ini bukan hanya momen seremonial, melainkan pengingat bahwa kebersamaan harus dirawat terus menerus melalui pertemuan, dialog, dan kegiatan bersama di ruang publik.