Pemerintah Kota Bima memperkuat upaya pengelolaan sampah plastik melalui Gerakan Rabu Amal Sampah (RAMAH) yang digulirkan untuk mendorong kebiasaan memilah sampah dari sumber. Program tersebut diarahkan tidak sekadar mengumpulkan sampah, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatannya agar memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Tujuan dan mekanisme RAMAH
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, Syahrial Nuryadin, menjelaskan gerakan itu bertujuan membangun perubahan perilaku pengelolaan sampah sejak tingkat rumah tangga dan lingkungan kerja. Program ini menjadi tindak lanjut Surat Edaran Wali Kota Bima Nomor 100.3.4/120/IV/2026 yang meminta aparatur sipil negara (ASN) dan non-ASN di lingkungan Pemerintah Kota Bima mengumpulkan sampah plastik bernilai ekonomis setiap hari Rabu.
“Gerakan ini tidak sekadar mengumpulkan sampah plastik, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah,”
Syahrial menambahkan bahwa pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dengan pemilahan di rumah dan tempat kerja. Sampah yang sudah dipilah, khususnya botol plastik dan jenis sampah bernilai ekonomi lainnya, dikumpulkan untuk diproses melalui mekanisme pemanfaatan yang dapat memberikan nilai tambah.
Hasil pengumpulan dan rencana pengelolaan
Pada pelaksanaan RAMAH pekan terakhir yang dilaporkan, DLH Kota Bima berhasil mengumpulkan sekitar 15 kilogram botol plastik. Secara kumulatif, data DLH menunjukkan hingga Juli 2026 telah terkumpul 171,93 kilogram sampah botol plastik yang secara berkala disetorkan ke Bank Sampah Induk Karaso Rasa.
| Periode | Jumlah Botol Plastik Terkumpul |
|---|---|
| Pekan pelaksanaan terakhir | 15 kg |
| Hingga Juli 2026 (kumulatif) | 171,93 kg |
Peran perangkat daerah dan masyarakat
DLH mendorong keterlibatan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, dan kelurahan agar pelaksanaan RAMAH konsisten dan menjadi kebiasaan bersama. Menurut Syahrial, kerja sama lintas perangkat penting supaya pemilahan sampah tidak hanya menjadi tugas DLH saja, melainkan aktivitas rutin warga dan instansi pemerintahan.
- Memilah sampah sejak sumber (rumah dan tempat kerja).
- Mengumpulkan sampah plastik bernilai ekonomi setiap Rabu sesuai Surat Edaran Wali Kota.
- Menyalurkan sampah terpilah ke bank sampah untuk diolah atau diperdagangkan.
Pendekatan ini berpotensi memperkuat pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, sekaligus mendukung upaya peningkatan nilai tambah bahan bekas. Selain pengumpulan rutin, Pemkot Bima sebelumnya telah mendorong penguatan bank sampah dan pengembangan fasilitas pengolahan untuk meningkatkan pemanfaatan sampah yang bernilai ekonomi.
Implikasi lingkungan dan ekonomi lokal
Langkah ini membawa dua manfaat yang saling berkaitan: pengurangan timbulan sampah di lingkungan kota dan penciptaan peluang ekonomi bagi masyarakat melalui kegiatan pengumpulan dan pemrosesan sampah. Dengan data yang terus terakumulasi, program seperti RAMAH dapat menjadi dasar perencanaan fasilitas pengolahan yang lebih besar dan skema insentif bagi partisipan, jika partisipasi masyarakat dan perangkat daerah terus ditingkatkan.
DLH menekankan bahwa keberlanjutan program bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan kesadaran publik untuk menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari. Upaya ini juga membutuhkan dukungan administratif dan teknis dari pemerintah kota untuk memastikan bahwa sampah bernilai ekonomi benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal.