Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mempercepat rekonstruksi dan pemulihan ekonomi di Kampung Adat Sade menyusul kebakaran yang melumpuhkan sebagian aktivitas warga. Percepatan ini juga ditujukan agar sejumlah fasilitas turunan dapat rampung sebelum penyelenggaraan MotoGP Mandalika pada 9–11 Oktober 2026, kata Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal.
Fokus pada museum, artshop, dan fasilitas ekonomi
Menurut Faozal, salah satu prioritas adalah penyelesaian museum yang akan memuat perjalanan sejarah Kampung Adat Sade. Ukuran museum direncanakan sekitar 8 x 10 meter persegi. Selain museum, pemerintah juga menargetkan penyelesaian artshop serta berbagai fasilitas ekonomi untuk mendukung mata pencaharian masyarakat, khususnya pengrajin tenun.
"Ada isu utama yang kita segerakan untuk event MotoGP ini yakni museum kita akan selesaikan dengan fasilitas yang lain, termasuk ada bantuan untuk yang menenun dan artshop yang akan kita selesaikan juga," ujar Faozal.
Penyelesaian fasilitas pendukung tersebut merupakan bagian dari master plan rekonstruksi menyeluruh yang sedang disusun. Perencanaan mencakup pembangunan fasilitas umum serta fasilitas fisik lain yang diperlukan untuk memulihkan dan menata kembali kawasan adat.
Relokasi sementara dan kebutuhan anggaran
Untuk mendukung proses rekonstruksi, pemerintah menyiapkan relokasi sementara bagi warga. Faozal menyampaikan bahwa tersedia 40 unit rumah yang dibangun pada 2018 di samping kantor desa sebagai tempat relokasi sementara, meskipun kelayakannya masih akan dipastikan terlebih dahulu.
Terkait anggaran, Faozal menyebut angka Rp30 miliar yang sebelumnya disampaikan Menteri Kebudayaan berasal dari perhitungan kerugian akibat kebakaran di kawasan Kampung Adat Sade. Pemerintah daerah masih mematangkan kebutuhan pembiayaan yang akan dibiayai melalui anggaran tersebut.
Peran akademik dan unsur teknis
Seluruh desain pembangunan yang menjadi bagian dari proses rekonstruksi dilakukan dengan bantuan Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram). Keterlibatan institusi akademik bertujuan memastikan aspek teknis, kearifan lokal, serta ketahanan struktur bangunan yang akan dibangun kembali.
Faozal juga merinci beberapa fasilitas yang direncanakan untuk segera dibangun, antara lain:
- Masjid;
- Museum;
- Sekenem (rumah adat atau struktur tradisional);
- Toilet umum dan fasilitas sanitasi lain.
| Fasilitas | Keterangan |
|---|---|
| Museum | Ukuran direncanakan 8 x 10 m2, memuat perjalanan Kampung Sade |
| Relokasi sementara | 40 unit rumah (dibangun 2018) di samping kantor desa; kelayakan diverifikasi |
| Desain dan teknis | Dibantu Fakultas Teknik Universitas Mataram |
Dampak terhadap masyarakat dan pariwisata
Rekonstruksi dan penyediaan fasilitas ekonomi di Sade dimaksudkan bukan hanya untuk pemulihan fisik bangunan, melainkan juga untuk mengembalikan mata pencaharian warga yang bergantung pada pariwisata budaya dan kerajinan tenun. Pembangunan artshop dan dukungan bagi para penenun diharapkan dapat memulihkan aliran ekonomi lokal menjelang lonjakan pengunjung terkait event internasional.
Namun, upaya percepatan tersebut juga menuntut keseimbangan antara kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelestarian nilai-nilai budaya. Desain yang melibatkan pihak akademik diharapkan mampu menjaga identitas budaya Sade sekaligus meningkatkan ketahanan fisik bangunan terhadap risiko bencana di masa depan.
Pemerintah provinsi menyatakan akan terus mematangkan rencana teknis dan kebutuhan anggaran, serta memastikan proses rekonstruksi berjalan tertib agar tujuan pemulihan ekonomi dan pelestarian budaya dapat tercapai sebelum kalender pariwisata besar di NTB.