Kesiapsiagaan Disiagakan Menyusul Peningkatan Kasus
Dinas Pemadam Kebakaran Kota Mataram menyiagakan sedikitnya 70 persen kekuatan armada dan personel secara bergilir selama 24 jam untuk mengantisipasi peningkatan ancaman kebakaran selama musim kemarau. Kepala Seksi Pengendalian Kebakaran, Agus Sopiandi, mengatakan langkah itu diambil menyusul tercatat lebih dari 20 kejadian kebakaran sejak awal musim kemarau tahun ini.
Agus menjelaskan bahwa sebagian besar insiden bermula dari kebakaran lahan dan kelalaian warga saat membakar sampah. Kondisi lahan yang kering ditambah embusan angin kuat memungkinkan titik api kecil berkembang cepat menjadi kebakaran yang lebih luas. "Dalam hitungan menit bisa membakar sekitar beberapa are kalau kami tidak segera menangani," ujar Agus saat ditemui di Mataram.
Faktor Meteorologis dan Imbauan Publik
Data BMKG yang dikutip dinas menunjukkan sembilan dari 10 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat masuk status awas kekeringan meteorologis. Pada dasarian III Agustus (21–31 Agustus 2026), hari tanpa hujan (HTH) umumnya berada pada kategori sangat panjang (31–60 hari) hingga ekstrem (>60 hari). Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima mencatat HTH terpanjang mencapai 105 hari.
Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Damkar Mataram untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Agus mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, terutama ketika angin bertiup kencang, dan bila terpaksa melakukan pembakaran agar tetap mengawasi sampai api padam.
"Kalau bakar sampah ditunggu, jangan sampai merambat ke tempat lain, apalagi angin keras,"
Persiapan Alat dan Personel serta Langkah Pencegahan
Agus menyatakan perlengkapan standar pemadaman dalam kondisi lengkap sehingga dapat mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran berikutnya. Untuk mencegah meluasnya kerugian, upaya pencegahan menjadi fokus utama bersama respons cepat petugas.
- Masyarakat diminta tidak membakar sampah sembarangan.
- Jika membakar sampah, awasi sampai api betul-betul padam.
- Laporkan titik api kecil segera ke layanan Damkar untuk menghindari meluasnya kebakaran.
Dampak Lokal dan Ketersambungan Kebijakan
Peningkatan kesiapsiagaan Damkar Mataram berimplikasi pada alokasi sumber daya dan kebijakan pengelolaan risiko lokal. Siaga 70 persen berarti sebagian armada ditempatkan dalam status siap operasi terus-menerus, sementara posko dan mekanisme respons harus lebih cepat membaca laporan warga.
Kondisi kekeringan yang meluas di NTB juga memerlukan sinergi lintas sektor, termasuk dinas lingkungan hidup, satpol PP, dan pemerintah kelurahan untuk mengendalikan pembakaran lahan serta edukasi pengelolaan sampah. Tanpa langkah terpadu, kejadian serupa berpotensi meningkat seiring berlanjutnya periode tanpa hujan.
| Parameter | Angka/Status |
|---|---|
| Siaga armada dan personel Damkar Mataram | 70% |
| Kejadian kebakaran sejak awal kemarau | Lebih dari 20 |
| HTH terpanjang tercatat (Pos Hujan Bolo) | 105 hari |
Pemerintah kota dan perangkat daerah terkait dianjurkan meningkatkan sosialisasi keselamatan kebakaran, menata praktik pembakaran terkait pertanian dan sampah, serta memperkuat mekanisme pelaporan dini. Bagi warga Mataram, kewaspadaan individu dan kepatuhan terhadap imbauan menjadi garis terdepan dalam mencegah kebakaran yang dapat mengancam keselamatan jiwa, harta benda, dan lingkungan.