Lombok Barat — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim hujan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kemungkinan mundur hingga akhir November 2026, seiring pengaruh fenomena El Niño yang masih kuat. Kondisi ini memicu meluasnya status peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah.
BMKG: Kemarau Panjang dan Perluasan Peringatan Dini
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menyampaikan bahwa potensi hujan pada beberapa dasarian mendatang diperkirakan sangat rendah sehingga kekeringan cenderung semakin meluas. Ia menegaskan bahwa peringatan dini berlaku untuk satu dasarian ke depan dan masih ada kemungkinan perluasan wilayah terdampak.
"Kekeringan semakin meluas. Peringatan dini berlaku untuk satu dasarian ke depan dan masih ada potensi perluasan, karena potensi hujan beberapa dasarian mendatang sangat rendah,"
Suci menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan rendahnya peluang hujan dalam beberapa dasarian serta pengaruh El Niño yang masih kuat. Berdasarkan pantauan BMKG sampai Dasarian III Agustus 2026, beberapa wilayah NTB telah masuk status peringatan dini kekeringan meteorologis level Awas.
El Niño Sangat Kuat, Indeks 2,74
BMKG mencatat indeks El Niño berada pada kategori sangat kuat dengan nilai 2,74. Menurut analisis, indeks ini diperkirakan bertahan hingga akhir 2026, kemudian melemah menjadi kategori kuat hingga moderat pada awal 2027 namun tetap dalam fase El Niño.
| Parameter | Kondisi |
|---|---|
| Perkiraan musim hujan | Mundur hingga Desember (potensi) — BMKG perkirakan akhir November 2026 musim kemarau masih berlangsung |
| Indeks El Niño | 2,74 (kategori sangat kuat) |
| Status peringatan | Beberapa wilayah NTB masuk level Awas kekeringan meteorologis |
Wilayah Terdampak dan Risiko Ketersediaan Air
Salah satu daerah yang disebut masuk peringatan tertinggi adalah Kecamatan Gangga di Kabupaten Lombok Utara. Dengan status peringatan level Awas, ancaman beragam gangguan pada ketersediaan air, pertanian, serta pasokan bagi peternakan dan kebutuhan domestik meningkat.
BMKG meminta masyarakat untuk mewaspadai keterbatasan ketersediaan air dalam beberapa bulan ke depan dan mengimbau pemanfaatan air secara hemat sebagai langkah antisipasi. Imbauan ini relevan bagi rumah tangga, pertanian skala kecil, serta fasilitas umum yang bergantung pada pasokan air permukaan maupun sumur.
Impak Lokal dan Langkah Antisipatif
Perluasan area berstatus Awas berimplikasi pada beberapa aspek praktis:
- Pengurangan pasokan air untuk irigasi lahan pertanian sehingga mempengaruhi fase tanam dan produktivitas hasil hortikultura.
- Peningkatan kebutuhan distribusi air bersih melalui mobil tangki di lokasi terdampak.
- Peluang munculnya konflik penggunaan air antara sektor domestik, pertanian, dan peternakan di daerah dengan sumber air terbatas.
Pemerintah daerah dan satuan tugas terkait diharapkan segera memperkuat langkah mitigasi, termasuk pemetaan sumber air kritis, penyediaan cadangan air, serta sosialisasi praktik hemat air kepada masyarakat.
Skenario Ke depan menurut BMKG
BMKG memproyeksikan kondisi El Niño akan melemah pada awal 2027 namun tetap berada dalam fase El Niño. Hal ini berarti meskipun intensitasnya turun, potensi anomali iklim masih dapat mempengaruhi pola hujan dan musim di NTB pada beberapa periode mendatang.
Dengan kondisi tersebut, perencanaan jangka menengah untuk pengelolaan sumber daya air dan adaptasi iklim menjadi penting. Di antaranya adalah peningkatan kapasitas tangkapan air hujan, rehabilitasi sumber air permukaan, serta diversifikasi tanaman yang lebih tahan kekeringan pada lahan-lahan pertanian rawan.
BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan kondisi iklim dan mengeluarkan peringatan dini jika diperlukan. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi serta rekomendasi yang dikeluarkan instansi terkait untuk mengurangi risiko dan dampak dari kemarau berkepanjangan ini.