Kondisi saat ini dan pengukuran BMKG
BIMA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima telah mengalami 105 hari tanpa hujan (HTH) dan dikategorikan mengalami kekeringan ekstrem. Catatan ini menunjukkan wilayah tersebut tidak menerima hujan selama lebih dari tiga bulan, yang membawa konsekuensi langsung terhadap ketersediaan air tanah, produksi pertanian, dan kebutuhan rumah tangga.
Peran El Niño dan proyeksi musim kering
BMKG menyatakan kekeringan di wilayah Bima, Dompu, hingga Kota Bima berkaitan erat dengan dinamika atmosfer dan laut yang telah terpantau sampai Dasarian III Agustus 2026. Lembaga itu juga menegaskan pengaruh kuat fenomena El Niño yang diperkirakan masih berlangsung dan berpotensi memperpanjang musim kering hingga 2027. Kondisi tersebut menempatkan sebagian wilayah NTB pada tekanan kekeringan tidak merata, dengan beberapa kecamatan sudah memasuki tingkat paling kritis.
Wilayah terdampak dan status kewaspadaan
Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Moch Syaiful Annas, tingkat keparahan kekeringan bervariasi antar kecamatan. Beberapa wilayah ditetapkan pada status siaga, sementara yang lain berada pada status awas (kritis).
"HTH terpanjang di Kabupaten Bima tercatat di Kecamatan Bolo selama 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem,"
BMKG menandai status sebagai berikut untuk sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima:
| Kecamatan | Status Kekeringan |
|---|---|
| Bolo | Awas (Ekstrem) |
| Sanggar | Siaga |
| Monta | Siaga |
| Donggo | Awas |
| Lambitu | Awas |
| Soromandi | Awas |
| Wera | Awas |
Dampak langsung terhadap masyarakat dan lingkungan
Kekeringan dengan durasi lebih dari 100 hari mengakibatkan beberapa konsekuensi lingkungan dan sosial yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah serta masyarakat:
- Ketersediaan air tanah menurun: Penurunan muka air tanah berisiko mengganggu pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga dan ternak.
- Tekanan pada sektor pertanian: Musim tanam dan produktivitas tanaman pangan dapat menurun akibat keterbatasan air irigasi dan curah hujan yang minim.
- Kesehatan dan sanitasi: Kekurangan air bersih berpotensi memperburuk sanitasi lingkungan dan meningkatkan beban pada layanan kesehatan dasar.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dan langkah mitigasi dari pemerintah daerah serta masyarakat untuk mengurangi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Penanggulangan kekeringan memerlukan kolaborasi antara pemangku kepentingan, termasuk pengelolaan sumber air, dukungan logistik, dan kebijakan adaptasi pertanian.
Langkah yang perlu diperhatikan
Saat fenomena El Niño diperkirakan masih berpengaruh, beberapa langkah mitigasi yang perlu mendapat prioritas adalah:
- Penguatan manajemen air lokal, termasuk konservasi dan pemeliharaan sumur serta sumber mata air.
- Penyusunan rencana darurat distribusi air bersih bagi daerah dengan status awas.
- Pembinaan dan advis adaptasi bagi petani terhadap pola tanam dan tanaman tahan kekeringan.
BMKG dan otoritas terkait memiliki peranan penting dalam memberikan informasi meteorologi yang dapat dipakai sebagai dasar kebijakan mitigasi. Kondisi kekeringan di Bima mencerminkan kebutuhan untuk memperkuat kapasitas adaptasi lokal terhadap perubahan iklim dan variabilitas cuaca yang ekstrim.
WE NEWS akan terus memantau perkembangan situasi dan langkah-langkah respon dari pemerintah daerah serta dampaknya terhadap warga di Kabupaten Bima dan wilayah sekitarnya.