Ringkasan kejadian dan wilayah terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bitung melaporkan bahwa hingga Senin, 31 Agustus 2026 tercatat 36 kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan total luas area yang terbakar mencapai 24,85 hektare. Dampak kekeringan yang menyertai peristiwa ini dirasakan oleh 972 kepala keluarga (KK) di tujuh kelurahan dalam kota.
Pemerincian per kecamatan
Menurut data PUSDALOPS-PB BPBD Kota Bitung yang disampaikan Plt. Kepala Pelaksana BPBD, Welmy Pasa Kalangit, S.Sos., M.AP, Kecamatan Ranowulu menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yaitu 19 kejadian dengan luas terbakar sebesar 13,04 hektare. Berikut urutan wilayah lain berdasarkan laporan yang sama.
| Kecamatan | Jumlah Kejadian | Luas Terbakar (ha) |
|---|---|---|
| Ranowulu | 19 | 13,04 |
| Aertembaga | 5 | 10,04 |
| Matuari | 7 | 1,24 |
| Maesa | 2 | 0,30 |
| Girian | 2 | 0,10 |
| Madidir | 1 | 0,03 |
Distribusi dampak kekeringan
Data BPBD menunjukkan dampak kekeringan terbesar terjadi di Kelurahan Dorbolaang, Kecamatan Lembeh Selatan, dengan 357 KK terdampak. Disusul Kelurahan Pinangunian, Aertembaga sebanyak 237 KK, serta Kelurahan Lirang, Lembeh Utara sebanyak 237 KK.
Upaya tanggap darurat dan koordinasi
BPBD Kota Bitung menyatakan telah melakukan berbagai tindakan penanggulangan, antara lain:
- pemadaman api di lokasi kejadian;
- pemantauan dan pemetaan titik-titik api;
- pendataan korban dan wilayah terdampak melalui PUSDALOPS-PB;
- koordinasi lintas sektor dan instansi vertikal untuk mengendalikan penyebaran kebakaran.
Untuk merespons kebutuhan air bersih akibat kekeringan, BPBD berkoordinasi dengan PDAM setempat. Hingga laporan terakhir, bantuan air bersih telah disalurkan di tiga kelurahan kepada 60 KK dan 49 rumah.
"BPBD Tangguh, Siap Untuk Selamat."
Imbauan dan risiko berkelanjutan
BPBD mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, dan segera melaporkan bila menemukan titik api. Peringatan itu relevan mengingat konsentrasi kejadian tertinggi di Ranowulu dan Aertembaga yang bersama-sama menyumbang mayoritas luas lahan terbakar.
Dari perspektif lingkungan, kebakaran pada skala puluhan hektare berpotensi menimbulkan dampak berkelanjutan, termasuk degradasi lahan, penurunan kualitas udara, dan gangguan terhadap sumber mata pencaharian warga yang bergantung pada lahan. Dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan, juga menjadi perhatian jika asap dan partikulat meningkat.
Langkah berikutnya
BPBD menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi melalui PUSDALOPS-PB dan melaporkan kondisi sesuai temuan di lapangan. Koordinasi dengan instansi teknis, kementerian/lembaga vertikal, serta partisipasi masyarakat lokal diperlukan untuk menekan angka kejadian dan mengurangi dampak lanjut dari kekeringan dan kebakaran.
Warga diimbau tetap mengikuti informasi resmi BPBD Kota Bitung dan melaporkan titik api secepat mungkin agar respons darurat dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.