Dorongan untuk Hilirisasi dan Konektivitas
BITUNG — Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengajak pelaku usaha di Sulawesi Utara memperkuat hilirisasi kelapa serta memanfaatkan fasilitas direct call Pelabuhan Bitung untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk ekspor. Pernyataan itu disampaikan Dahlan pada kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi dan Temu Responden Sulawesi Utara 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis, 17 September 2026.
Dalam forum yang dihadiri pengusaha lokal, pemangku kepentingan, dan pelaku usaha ekspor, Dahlan menekankan pentingnya tidak lagi menjual komoditas dalam bentuk mentah. Menurutnya, peningkatan kapasitas pengolahan dan fokus pada produk bernilai tambah merupakan kunci untuk membuka pasar yang lebih luas.
"Pelaku usaha daerah tidak berhenti menjual komoditas dalam bentuk mentah,"
Pernyataan itu menegaskan arah rekomendasi forum ekonomi BI Sulut, yaitu mendorong penguatan sektor pengolahan dan perbaikan konektivitas logistik. Salah satu perhatian khusus Dahlan adalah pengembangan kelapa sebagai komoditas strategis di provinsi ini.
Kesempatan bagi Pengusaha Bitung
Untuk kota pelabuhan seperti Bitung, rekomendasi tersebut memiliki implikasi langsung. Direct call Pelabuhan Bitung memungkinkan kapal ekspor-impor singgah langsung tanpa singgah di pelabuhan lain, yang dapat menurunkan biaya logistik dan mempercepat waktu pengapalan. Bagi pengusaha yang mengolah kelapa menjadi produk seperti minyak, kopra olahan, atau produk turunannya, fasilitas ini membuka akses ke pasar luar negeri dengan efisiensi lebih tinggi.
- Hiliran kelapa: peluang untuk produk minyak kelapa, VCO, dan bahan baku turunannya.
- Konektivitas pelabuhan: direct call dapat menekan biaya dan waktu pengiriman.
- Pengembangan kapasitas: kebutuhan investasi pada fasilitas pengolahan dan tenaga terampil.
Data komoditas dan rekomendasi
Dalam paparan forum, Dahlan juga menyinggung beberapa komoditas unggulan Sulawesi Utara selain kelapa, antara lain ikan, pala, dan cengkeh. Rekomendasi yang muncul dari diskusi berfokus pada tiga hal: memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas akses pasar ekspor melalui perbaikan logistik.
| Komoditas | Fokus Pengembangan |
|---|---|
| Kelapa | Hilirisasi menjadi produk bernilai tambah (minyak, VCO, olahan) |
| Ikan | Peningkatan mutu, rantai dingin, dan akses ekspor |
| Pala & Cengkeh | Penambahan nilai lewat pengolahan dan branding |
Meski forum menekankan peluang, implementasi membutuhkan sinergi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, dan operator pelabuhan. Investasi pada fasilitas pengolahan, standar mutu, sertifikasi ekspor, serta peningkatan kapasitas SDM menjadi prasyarat untuk merealisasikan peluang tersebut.
Dampak bagi Ekonomi Lokal Bitung
Bagi Bitung, jika pemanfaatan direct call dan hilirisasi kelapa berjalan, beberapa dampak ekonomi yang mungkin terjadi antara lain:
- Peningkatan volume ekspor yang keluar langsung dari Pelabuhan Bitung.
- Tumbuhnya industri pengolahan kelapa lokal yang menyerap tenaga kerja.
- Peningkatan pendapatan petani dan pelaku usaha di hulu akibat permintaan bahan baku yang lebih stabil.
Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara sebagai penyelenggara forum diharapkan terus memfasilitasi dialog antara pelaku usaha dan pemangku kebijakan untuk mempercepat adopsi praktik hilirisasi dan meningkatkan pemanfaatan fasilitas pelabuhan. Bagi pelaku usaha di Bitung, rekomendasi tersebut membuka peluang strategis untuk mengubah struktur perdagangan komoditas lokal menjadi lebih menguntungkan dan berkelanjutan.