MANADO — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara memperkirakan wilayah provinsi ini akan didominasi curah hujan sangat rendah hingga awal September 2026 akibat dinamika atmosfer El Niño yang berintensitas kuat. Kondisi itu mendorong penetapan status siaga kekeringan pada delapan kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Daerah terdampak dan status peringatan
Berdasarkan pemutakhiran Peringatan Dini Kekeringan Meteorologi (PDKM) dan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) per awal Agustus 2026, BMKG menyatakan delapan daerah yang masuk status siaga kekeringan adalah:
- Kabupaten Bolaang Mongondow
- Kabupaten Bolaang Mongondow Timur
- Kabupaten Minahasa
- Kabupaten Minahasa Selatan
- Kabupaten Minahasa Utara
- Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro)
- Kota Bitung
- Kota Manado
Selain itu, status waspada diberlakukan untuk beberapa kecamatan di Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa.
Data HTH dan prakiraan hujan
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan tren Hari Tanpa Hujan di Sulut didominasi oleh kategori pendek hingga sangat panjang. Rinciannya tercatat sebagai berikut:
| Kriteria HTH | Jumlah Lokasi |
|---|---|
| HTH kriteria pendek | 56 |
| HTH kriteria panjang | 48 |
| HTH kriteria sangat panjang (>60 hari) | 13 |
BMKG memperkirakan peluang masuknya curah hujan kategori rendah (≤50 mm/dasarian) mencapai 80–90 persen hingga dasarian pertama September 2026. Selain itu, angin timur yang bertiup lebih kuat dari kondisi normal turut memperparah penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Sulut.
Pesan BMKG dan langkah pencegahan
Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas, mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melaksanakan langkah pencegahan secara proaktif guna menekan dampak kekeringan yang meluas. Ia menekankan pentingnya upaya mitigasi untuk mencegah kerugian pada sektor pertanian, ketersediaan air minum, serta peningkatan risiko kebakaran lahan.
"Menyikapi kondisi meteorologi yang semakin kering tersebut, masyarakat diimbau untuk mengambil langkah pencegahan secara proaktif,"
Selain imbauan umum, BMKG juga meminta masyarakat untuk menghindari praktik yang memperbesar risiko kebakaran, antara lain pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara membakar. Puntung rokok yang dibuang sembarangan juga diidentifikasi sebagai potensi pemicu kebakaran lahan selama musim kering ini.
Dampak potensial dan kewaspadaan sektor
Kekeringan yang berkepanjangan dapat menimbulkan beberapa dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan di Sulawesi Utara, antara lain:
- Penurunan hasil pertanian akibat kekurangan pasokan air untuk irigasi.
- Keterbatasan air bersih bagi kebutuhan rumah tangga dan sanitasi.
- Peningkatan frekuensi dan skala kebakaran lahan dan hutan.
- Gangguan ekosistem lokal, termasuk sumber air permukaan dan tanah.
Kerentanan daerah pesisir dan pulau kecil, seperti beberapa wilayah administratif Sitaro, perlu mendapat perhatian khusus karena ketersediaan sumber daya air yang lebih terbatas.
Rekomendasi praktis bagi masyarakat dan pemerintah daerah
Untuk mengurangi dampak kekeringan, BMKG dan pihak berwenang direkomendasikan mempertimbangkan langkah-langkah berikut:
- Percepatan pencatatan dan pemetaan titik-titik rawan kekeringan dan kebakaran.
- Penyediaan dan distribusi air bersih darurat di area yang sudah menunjukkan HTH sangat panjang.
- Peningkatan sosialisasi larangan pembakaran lahan dan sampah serta penegakan hukum terhadap pelanggaran.
- Pemberdayaan pertanian hemat air dan pengaturan giliran penggunaan irigasi pada musim kering.
BMKG menegaskan bahwa informasi iklim dan peringatan dini harus dimanfaatkan oleh dinas terkait untuk perencanaan mitigasi. Koordinasi antar-instansi, termasuk dinas pertanian, dinas sumber daya air, dan pemadam kebakaran, menjadi kunci dalam mengurangi risiko kerugian sosial dan ekonomi.
Warga Sulawesi Utara diimbau tetap mengikuti pemberitahuan resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, serta melaporkan kejadian kebakaran lahan atau kelangkaan air kepada aparat setempat agar penanganan dapat dilakukan cepat dan tepat.