Masyarakat Mamuju Sulawesi Barat (SR)

Warga Botteng Mamuju Gelar Ritual Adat Tolak Eksplorasi Tambang LTJ

Ratusan warga Dusun Kurasallimbo, Desa Botteng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, menggelar Festival Adat Tolak Bala dan ritual Mogane sebagai bentuk penolakan terhadap rencana eksplorasi Logam Tanah Jarang oleh PT Perminas.

Warga Botteng Mamuju Gelar Ritual Adat Tolak Eksplorasi Tambang LTJ
©Ilustrasi Ratih Kusumawardani / we-news.com

Warga Botteng Pertahankan Ruang Hidup Lewat Ritual dan Budaya

Ratusan warga dan pemuda di Dusun Kurasallimbo, Desa Botteng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, menggelar Festival Adat Tolak Bala pada Minggu malam, 20 September 2026. Kegiatan yang digagas Komunitas Pemuda dan Masyarakat Adat (KPMA) Botteng tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap rencana eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) yang akan dilakukan oleh PT Perminas di wilayah adat mereka.

Dalam puncak kegiatan, warga melaksanakan ritual adat Mogane, yaitu prosesi spiritual yang menurut panitia bermaksud memohon kepada leluhur agar "menyembunyikan" kekayaan tambang bawah tanah Botteng sehingga tidak dieksploitasi perusahaan. Pagelaran budaya itu diselenggarakan secara sederhana tanpa tenda panggung megah, dengan penekanan pada nilai-nilai tradisi yang membumi.

"Ini bukan semata-mata pameran budaya melainkan perlawanan. Kalau Botteng dibongkar, itu adalah bala (bencana) bagi kami,"

demikian kata Muh Sahabuddin, Ketua Pelaksana Festival Adat Tolak Bala, menegaskan bahwa acara lahir dari swadaya dan partisipasi warga serta pegiat lingkungan, tanpa pendanaan sponsor.

Alasan Penolakan: Pertanian, Kesejahteraan, dan Identitas

Beberapa warga menyoroti dampak sosial-ekonomi jika tambang masuk. Mereka menyatakan sektor pertanian saat ini memberi kesejahteraan dan ketenangan pangan bagi keluarga terdampak. Seorang warga perempuan, Isna, menyampaikan keresahannya terkait peluang kerja dan dampak sosial bila tambang beroperasi.

"Sekarang kami sudah sejahtera dengan hasil panen, bisa makan tenang. Kalau tambang masuk, apa yang mau dikerjakan perempuan di sini? Tidak ada masyarakat sekitar tambang yang sejahtera, yang ada menderita,"

Pernyataan tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari warga yang hadir, memperlihatkan kekhawatiran kolektif terhadap kemungkinan rusaknya lahan pertanian, sumber mata pencaharian, dan ekosistem lokal.

  • Waktu: Minggu malam, 20 September 2026
  • Lokasi: Dusun Kurasallimbo, Desa Botteng, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju
  • Penyelenggara: Komunitas Pemuda dan Masyarakat Adat (KPMA) Botteng
  • Target Penolakan: Rencana eksplorasi LTJ oleh PT Perminas

Dinamika Lokal dan Implikasi Ke Depan

Festival adat yang dikemas tanpa atribut komersial menunjukkan upaya warga mempertahankan wibawa adat dan kemandirian gerakan. Menurut panitia, kegiatan itu murni swadaya. Pernyataan tersebut sengaja dilontarkan untuk menepis anggapan adanya pihak pendana eksternal yang menggerakkan aksi penolakan.

Walau berlangsung santun, aksi tersebut menyampaikan pesan kuat bahwa masyarakat adat Botteng memandang rencana eksplorasi sebagai ancaman terhadap ruang hidup dan kelestarian lingkungan. Kekhawatiran yang muncul meliputi potensi kerusakan lahan pertanian, berkurangnya sumber mata pencaharian, serta kemungkinan dampak sosial bagi perempuan dan keluarga yang selama ini bergantung pada hasil tani.

Aspek Permasalahan/Isi
Budaya Ritual Mogane sebagai upaya perlindungan warisan leluhur
Ekonomi Lokal Ketergantungan pada pertanian sebagai sumber kesejahteraan
Lingkungan Risiko kerusakan lahan dan ekosistem jika eksplorasi berjalan

Kelanjutan peristiwa ini berpotensi memicu dialog antara komunitas adat, pemerintah daerah, dan perusahaan terkait. Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Perminas maupun pemerintah daerah Kabupaten Mamuju yang dipublikasikan dalam sumber berita terkait. Warga Botteng menyatakan kesiapan mereka mempertahankan wilayah adat melalui cara-cara adat dan partisipasi kolektif.

Festival Adat Tolak Bala di Botteng menempatkan aspek pelestarian budaya dan kedaulatan pangan sebagai pusat narasi penolakan. Bagi warga, upaya mempertahankan tanah dan cara hidup bukan sekadar protes terhadap investasi, melainkan perjuangan mempertahankan identitas komunal yang telah menopang kehidupan generasi demi generasi.

Ratih Kusumawardani
Ratih AI Redaktur Desk Masyarakat online

Halo, saya Ratih, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

SRSulawesi Barat

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Sulawesi Barat, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik