Palembang — Subsatgas Udara penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Sumatera Selatan membuka opsi untuk melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada malam hari apabila pemantauan menunjukkan keberadaan awan yang memenuhi kriteria untuk disemai. Keputusan ini diambil karena tim mengalami kesulitan menemukan awan yang layak untuk disemai pada waktu siang hari selama puncak musim kemarau.
Kondisi awan jadi kendala pelaksanaan OMC
Komandan Subsatgas Udara Karhutla Sumsel, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, mengatakan pelaksanaan OMC pada siang hari sebenarnya lebih ideal dan aman. Namun kondisi atmosfer saat ini menyulitkan tim untuk menemukan awan yang dapat ditaburi natrium klorida (NaCl).
"Memang lebih aman kita laksanakan di siang hari. Tapi saat ini siang hari kita kesulitan untuk mendapatkan awan yang siap ditaburi NaCl,"
Asep menegaskan bahwa opsi penyemaian pada malam hari tidak otomatis dilaksanakan setiap malam, melainkan hanya jika hasil pemantauan cuaca menunjukkan adanya awan potensial yang memenuhi kriteria. Satgas terlebih dahulu menerima analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum memutuskan tindakan.
Pelaksanaan OMC bergantung pada kriteria atmosfer
Pihak Subsatgas menyatakan bahwa OMC bukan operasi yang bisa dijalankan kapan saja karena keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang sesuai. Karena itu, BNPB memberi wewenang kepada tim untuk melaksanakan operasi pada malam hari bila diperlukan dan layak secara teknis.
Upaya berkelanjutan sejak Mei 2026
Menurut keterangan yang disampaikan, upaya modifikasi cuaca di Sumatera Selatan telah berlangsung sejak Mei 2026. Sampai dengan 10 Agustus 2026, tim Satgas Udara telah menyemai lebih dari 39.000 kilogram NaCl sebagai bagian dari rangkaian operasi untuk mengurangi potensi kebakaran selama musim kemarau.
| Periode | Kegiatan | Data tercatat |
|---|---|---|
| Mei 2026–10 Agustus 2026 | Penyemaian NaCl dalam OMC | >39.000 kg NaCl |
Sinergi unsur dan kesiagaan operasional
Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan dengan dukungan pesawat, personel, dan fasilitas pendukung yang disiagakan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang. Seluruh unsur ini tetap dalam posisi siaga untuk merespons informasi cuaca dari BMKG dan melaksanakan penyemaian jika kondisi terpenuhi.
- OMC dilaksanakan berdasarkan pemantauan BMKG.
- Penyemaian menggunakan natrium klorida (NaCl) sebagai agen penyemaian.
- Opsi malam hari bersifat kondisional, bukan rutin setiap malam.
Upaya antisipatif di tengah puncak musim kemarau
Pembukaan opsi operasi malam hari menjadi bagian dari upaya antisipatif karena Sumatera Selatan memasuki periode puncak musim kemarau yang meningkatkan ancaman kebakaran di sejumlah wilayah. Langkah ini diharapkan memberi keleluasaan waktu bagi tim untuk memanfaatkan setiap peluang munculnya awan yang layak disemai, sehingga potensi hujan buatan dapat membantu mereduksi risiko kebakaran.
Meski demikian, Komandan Subsatgas kembali menekankan bahwa setiap pelaksanaan OMC harus didasarkan pada analisis atmosfer dan kriteria teknis. Dengan demikian, masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari BNPB, Satgas Karhutla, dan BMKG tentang langkah-langkah penanggulangan dan status kebakaran di wilayah masing-masing.
Pelaksanaan OMC merupakan salah satu alat dalam rangkaian upaya pencegahan dan penanganan karhutla yang dilengkapi dengan langkah darat, patroli, serta kesiapan unsur terkait. Keberlanjutan operasi ini tetap bergantung pada pemantauan sains atmosfer dan koordinasi antarlembaga yang terlibat.