Banjar, Kalimantan Selatan — Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 6,7 hektare di Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar dengan strategi yang menargetkan sumber api di bawah permukaan tanah.
Teknik pemadaman: menyasar api dalam tanah
Operasi pemadaman yang dipimpin Polda Kalsel menggunakan kombinasi penyemprotan pada permukaan lahan dan metode suntik gambut untuk membasahi lapisan gambut yang terbakar di kedalaman. Menurut keterangan Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, tindakan difokuskan pada pemadaman sumber api di bawah tanah selain upaya konvensional di permukaan.
"Kita fokus padamkan sumber api dalam tanah selain penyemprotan api di permukaan,"
Dalam operasi itu, tim menggunakan drone yang dilengkapi kamera thermal untuk pemantauan. Pesawat tanpa awak terbang pada ketinggian sekitar 70 meter, dan gambar thermal ditayangkan di layar monitor posko sehingga petugas dapat mengidentifikasi titik panas yang berada di bawah permukaan tanah.
Data pengamatan: suhu tanah dan metode kimia
Hasil pemantauan menunjukkan banyak titik panas bawah tanah dengan suhu mencapai 200 hingga 300 derajat Celsius. Beberapa titik api permukaan juga terdeteksi dan mendapat penanganan langsung.
Setiap kolam bioflok yang disiapkan dalam operasi diberikan campuran cairan surfaktan produksi Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalsel. Cairan tersebut dicampurkan ke air dan kemudian disuntikkan ke dalam tanah hingga kedalaman dua meter. Menurut keterangan, suntikan ini membuat bara api bawah tanah padam dan menurunkan suhu tanah secara cepat.
Efisiensi penggunaan air dan peran drone
Kapolda menjelaskan bahwa penggunaan teknologi drone thermal membantu proses pemadaman menjadi lebih efektif dan efisien, termasuk dalam penghematan penggunaan air ketika dicampurkan dengan cairan surfaktan. Pemantauan visual dari udara memudahkan petugas menentukan titik-titik prioritas untuk penyuntikan dan penyemprotan.
Dampak lokal dan implikasi pengendalian karhutla
Karhutla di lahan gambut berpotensi terus menyala di bawah permukaan meskipun permukaan tampak padam. Oleh karena itu, teknik yang menyasar lapisan gambut menjadi krusial untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak muncul kembali. Penanganan yang menyeluruh juga penting untuk mengurangi risiko asap yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat sekitar.
- Luas area yang dipadamkan: 6,7 hektare
- Ketinggian drone saat operasi: sekitar 70 meter
- Suhu titik panas bawah tanah: 200–300 °C
- Kedalaman suntik gambut: hingga 2 meter
Peran laboratorium forensik dan pendekatan interdisipliner
Penerapan surfaktan hasil produksi Bidlabfor Polda Kalsel menunjukkan keterlibatan unit teknis kepolisian yang biasanya berfokus pada bidang forensik dalam operasi mitigasi kebakaran. Kolaborasi antara kemampuan penginderaan (drone thermal), kapasitas laboratorium, dan unit pemadam lapangan memberikan pendekatan interdisipliner dalam menangani karhutla gambut.
Catatan akhir dan rekomendasi praktis
Masyarakat di sekitar gambut dan lahan berisiko diminta tetap waspada pada musim kering dan melaporkan titik api sedini mungkin kepada aparat setempat. Pemadaman gambut menuntut upaya berkelanjutan karena potensi bara di bawah tanah dapat menyala kembali jika tidak ditangani hingga tuntas. Penggunaan teknologi deteksi dini, seperti drone thermal, serta penanganan yang menargetkan lapisan bawah gambut, menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran karhutla dan dampaknya.
| Aspek | Data |
|---|---|
| Luas terdampak | 6,7 hektare |
| Ketinggian drone | ~70 meter |
| Suhu titik panas | 200–300 °C |
| Kedalaman suntikan | Hingga 2 meter |
Operasi ini menegaskan bahwa pemadaman karhutla pada lahan gambut memerlukan teknik yang menargetkan bara bawah tanah, dukungan teknologi pemantauan, serta bahan pembasah yang sesuai untuk mempercepat pendinginan tanah. Keberhasilan pemadaman 6,7 hektare di Gambut menjadi contoh penerapan kombinasi teknologi dan metode lapangan dalam upaya pencegahan kebakaran lahan gambut di Kalimantan Selatan.