Mamuju — Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Sulawesi Barat diperankan sebagai rumah bersama bagi warga asal Sulawesi Selatan yang tinggal di perantauan. Pernyataan itu disampaikan Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Sulawesi Barat, Dr. Haedar Harun, yang menekankan peran organisasi tidak hanya sosial tetapi juga kebudayaan dan ekonomi bagi anggotanya.
"KKSS adalah rumah bersama bagi warga Sulawesi Selatan di perantauan. Di dalamnya kita menjaga silaturahmi, memperkuat persaudaraan dan saling membantu,"
Pernyataan tersebut menjabarkan visi KKSS sebagai sebuah perkumpulan yang menghimpun warga asal Sulawesi Selatan yang menetap di luar daerah asal mereka. Menurut Haedar Harun, organisasi ini hadir untuk menjaga hubungan kekeluargaan di tengah dinamika kehidupan perantauan serta menjadi wadah bagi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan mencari solusi bersama.
Fungsi sosial dan budaya
KKSS berperan melampaui fungsi pertemuan sosial yang bersifat seremonial. Dalam uraian BPW, organisasi ini turut aktif memelihara nilai-nilai kebudayaan Sulawesi Selatan yang menjadi identitas masyarakat perantauan. Beberapa nilai luhur yang disebut sebagai landasan sosial di antaranya:
- Sipakatau — prinsip saling menghargai;
- Sipakalebbi — prinsip tolong-menolong dan tenggang rasa;
- Sipakainge — prinsip saling mengingatkan dalam kebaikan.
Nilai-nilai tersebut, menurut keterangan BPW, dijadikan pedoman dalam menjalin hubungan antaranggota sehingga keragaman latar belakang — seperti Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja — dapat hidup berdampingan di tanah rantau tanpa mengikis identitas budaya masing-masing.
Ruang aspirasi dan kegiatan kemasyarakatan
Selain aspek budaya dan kekeluargaan, KKSS Sulbar juga dimaknai sebagai saluran aspirasi warga perantauan. Berbagai kebutuhan dan persoalan sosial yang dihadapi anggota dapat menjadi bagian dari perhatian organisasi. Dalam praktiknya, BPW KKSS menyelenggarakan kegiatan yang meliputi bidang sosial, pendidikan, dan ekonomi.
| Bidang | Ruang Peran KKSS |
|---|---|
| Sosial | Gotong royong, bantuan antaranggota, dan kegiatan komunitas |
| Pendidikan | Forum diskusi, pembentukan jaringan, dan dukungan bagi pelajar perantau |
| Ekonomi | Kolaborasi usaha dan pemberdayaan ekonomi bersama |
Dalam keterangan yang disampaikan, semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan KKSS untuk membantu sesama anggota sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat luas di tempat mereka bermukim. Bentuk-bentuk kegiatan praktis tersebut dimaksudkan agar organisasi tidak hanya bersifat simbolik tetapi juga berdaya guna.
Dampak lokal dan tantangan
Bagi masyarakat Sulawesi Barat, kehadiran KKSS berimplikasi pada penguatan jaringan sosial antarperantau dan keterhubungan dengan komunitas lokal. Kehadiran organisasi multikultural ini memungkinkan pertukaran nilai dan dukungan sosial yang dapat mengurangi marginalisasi perantau serta membantu integrasi ke dalam kehidupan sosial setempat.
Namun demikian, keberlanjutan peran itu mensyaratkan pengelolaan organisasi yang responsif terhadap kebutuhan anggota serta kemampuan menjembatani hubungan dengan pemangku kepentingan lokal. BPW diharapkan dapat merumuskan program konkret yang berbasis kebutuhan riil, seperti pelatihan keterampilan, pendampingan pendidikan, atau skema gotong royong ekonomi yang inklusif.
Ketua BPW KKSS Sulbar, melalui pernyataannya, menegaskan pentingnya merawat silaturahmi sebagai fondasi organisasi. Pernyataan tersebut mencerminkan niat untuk memelihara kebersamaan di tengah keberagaman latar belakang budaya yang menghimpun warga Sulawesi di tanah rantau.
Dengan posisi sebagai rumah bersama, KKSS Sulbar diharapkan mampu menjadi fasilitator bagi warga perantau untuk berkontribusi positif terhadap perkembangan sosial dan ekonomi di Sulawesi Barat, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi akar identitas komunitas asal Sulawesi Selatan.