Ringkasan kejadian
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru menanggapi laporan tentang kondisi Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Sungai Ulin yang disebut kosong saat seorang pasien dalam kondisi kritis tiba pada Kamis sekitar pukul 10.00 WITA. Menurut keterangan resmi dari pihak puskesmas, petugas UGD tidak berada di ruang UGD karena sedang melayani klaster pasien lain pada waktu itu, sehingga penanganan awal dilakukan oleh perawat yang berada paling dekat.
Kronologi menurut pihak puskesmas
Kepala Puskesmas Sungai Ulin, drg. Rahmi Sri Nurhayati, menjelaskan bahwa saat kejadian hanya ada satu perawat yang melayani klaster 3 dewasa, sedangkan dokter UGD sedang memberikan pelayanan di klaster 2 untuk anak dan remaja. Ketika pasien kritis datang, pengantar pasien melapor ke loket dan petugas loket segera memanggil perawat serta dokter jaga UGD.
“Pada saat kejadian, petugas UGD tidak berada di ruang UGD karena sedang melaksanakan pelayanan di ruang klaster,”
Rahmi menyatakan bahwa perawat yang lokasinya paling dekat kemudian segera memberikan pertolongan. Karena kondisi pasien membuat pemindahan dari kendaraan sulit, pemeriksaan tanda-tanda vital dilakukan di atas mobil. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien dalam kondisi koma sehingga membutuhkan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap, khususnya dokter bedah saraf.
Tindakan rujukan dan respons keluarga
Puskesmas Sungai Ulin menyiapkan proses rujukan melalui Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute) ke rumah sakit yang memiliki layanan sesuai kebutuhan. Namun, keluarga pasien telah lebih dahulu mengangkut pasien menggunakan ambulans relawan dan membawa yang bersangkutan ke RS Ratu Zalecha.
Rencana evaluasi dari Dinas Kesehatan
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, dr. Ani Rusmila, mengatakan pihaknya akan melaksanakan evaluasi menyeluruh terkait kesiapsiagaan pelayanan kegawatdaruratan di seluruh puskesmas di Kota Banjarbaru. Evaluasi tersebut akan mencakup beberapa aspek layanan agar pelayanan darurat dapat berjalan sesuai standar.
“(Evaluasi) mencakup ketersediaan dan kesiapan petugas, pelaksanaan triase, waktu respons, alur pelayanan pasien gawat darurat, hingga kepatuhan terhadap standar oper…”
Catatan: pernyataan di atas disampaikan dalam konteks rencana evaluasi dan terpotong pada sumber; namun niat untuk meninjau unsur-unsur layanan kegawatdaruratan tercantum sebagai fokus tindakan Dinas Kesehatan.
Dampak dan isu yang perlu menjadi perhatian publik
Peristiwa ini menimbulkan beberapa isu penting bagi masyarakat Banjarbaru, antara lain:
- Ketersediaan personel di titik-titik layanan darurat puskesmas, terutama ketika ada tumpang tindih layanan per klaster.
- Prosedur triase dan waktu respons untuk pasien yang datang dalam kondisi gawat darurat.
- Koordinasi rujukan melalui Sisrute dan peran ambulans relawan dalam situasi darurat.
Tabel ringkasan kronologi
| Waktu | Peristiwa |
|---|---|
| ~10.00 WITA, Kamis | Pasien kritis tiba di Puskesmas Sungai Ulin; pengantar melapor ke loket |
| Saat kejadian | Petugas UGD sedang melayani klaster lain; perawat terdekat memberikan pertolongan |
| Setelah pemeriksaan | Pasien dalam kondisi koma; puskesmas siapkan rujukan Sisrute |
| Segera setelah itu | Keluarga membawa pasien dengan ambulans relawan ke RS Ratu Zalecha |
Apa yang dijanjikan Dinkes dan langkah berikutnya
Dinas Kesehatan berjanji melakukan evaluasi yang meliputi kesiapan petugas, mekanisme triase, waktu respons, alur rujukan, dan kepatuhan terhadap standar operasional. Hasil evaluasi tersebut penting untuk menentukan langkah perbaikan, termasuk jika diperlukan penguatan sistem penempatan petugas saat jam sibuk atau perubahan prosedur pelayanan per klaster.
Untuk warga Banjarbaru, peristiwa ini menjadi pengingat agar ketika menghadapi kondisi gawat darurat tetap mengutamakan tindakan cepat: segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat, melaporkan kondisi secara jelas, dan jika perlu menggunakan layanan ambulans resmi atau relawan sambil menginformasikan ke fasilitas tujuan. Dinas Kesehatan, melalui pernyataan resminya, telah menegaskan komitmen untuk meninjau dan memperbaiki mekanisme agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.