Palembang — Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 1.926,2 hektare sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan catatan sebelumnya dan menempatkan beberapa kabupaten di provinsi itu sebagai titik fokus penanganan.
Data provinsi dan distribusi menurut kabupaten
Data yang disampaikan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, bersumber dari analisis citra satelit kerja sama Kementerian Kehutanan dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari total luasan tersebut, 1.857,7 hektare terjadi di lahan mineral, sedangkan 68,5 hektare berada di lahan gambut.
"Luas karhutla Sumsel hingga Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektare. Dari luasan karhutla tersebut, seluas 1.857,7 hektare terjadi di lahan mineral dan 68,5 hektare di lahan gambut,"
Beberapa kabupaten tercatat sebagai daerah dengan luasan karhutla tertinggi. Berikut rincian yang dipublikasikan:
| Kabupaten/Kota | Luasan (hektare) | Keterangan lahan gambut (hektare) |
|---|---|---|
| Ogan Komering Ulu (OKU) | 516,0 | - |
| Banyuasin | 274,4 | 17,5 |
| Ogan Ilir | 272,5 | - |
| Ogan Komering Ilir (OKI) | 230,3 | - |
| Musi Banyuasin (Muba) | 228,0 | 29,1 |
| Muara Enim | 141,9 | - |
Penyebaran dan daerah tanpa kejadian
Selain kabupaten dengan angka tinggi, beberapa wilayah lain juga melaporkan tingkat karhutla yang lebih kecil, antara lain Musi Rawas Utara (Muratara) 111,9 hektare dengan 19,9 hektare berada di gambut; Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 57,4 hektare dengan sekitar 2 hektare di gambut; OKU Selatan 55,2 hektare; dan OKU Timur 23,2 hektare. Beberapa kabupaten/kota melaporkan luasan terkecil, seperti Prabumulih 7,3 hektare, Lahat 6,0 hektare, Palembang 1,5 hektare, dan Musi Rawas 0,6 hektare.
Sementara itu, daerah Lubuklinggau, Pagar Alam, dan Empat Lawang dilaporkan nihil kebakaran pada periode yang sama.
Perbandingan tahunan
Secara tahunan, luasan karhutla hingga Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada beberapa tahun terakhir. Rinciannya menurut data yang tersedia:
- Tahun 2023: 1.178,5 hektare
- Tahun 2024: 963,1 hektare
- Tahun 2025: 1.382,4 hektare
- Tahun 2026 (hingga Juli): 1.926,2 hektare
Angka 2026 menunjukkan tren kenaikan dibandingkan 2024 dan 2025, serta melampaui catatan 2023. Namun data 2022 tercatat lebih tinggi dari beberapa tahun berikutnya menurut informasi yang tersedia.
Implikasi dan kebutuhan penanganan
Konsentrasi kebakaran di lahan mineral menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan kebakaran di gambut yang cenderung lebih sulit dipadamkan dan memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas udara dan lingkungan. Meski luasan gambut relatif kecil dibandingkan lahan mineral pada 2026, keberadaan titik api di lahan gambut tetap memerlukan perhatian khusus karena potensi emisi karbon dan kesulitan pemadaman.
Data ini menjadi acuan bagi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta instansi terkait—termasuk satuan tugas penanggulangan karhutla—untuk meningkatkan upaya pencegahan, deteksi dini, dan respons cepat. Kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan juga penting, terutama dalam menerapkan larangan pembakaran lahan dan melaporkan titik api kepada petugas berwenang.
Informasi selengkapnya tentang penyebab kebakaran per lokasi, jumlah titik api, serta upaya penegakan hukum terhadap pembakaran lahan secara sengaja akan menjadi fokus pemantauan lebih lanjut oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera dan instansi terkait.
Pelaporan ini disusun berdasarkan data resmi analisis citra satelit yang dirilis oleh instansi terkait per Juli 2026.
Ahmad Fauzi, Koresponden Daerah - Sumatera Selatan, WE NEWS