Lonjakan Harga dan Sumber Pasokan
Harga cabai rawit di pasar tradisional Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, melambung hingga Rp200.000 per kilogram untuk cabai yang dijual bersih tanpa tangkai. Harga tersebut tercatat pada Sabtu, 19 September 2026, saat pasokan cabai tiba dari petani di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah.
Pedagang rempah-rempah di pasar Kwandang, Hengki, menyatakan ada perbedaan harga berdasarkan kondisi fisik cabai. Cabai bersih tanpa tangkai dijual Rp200.000 per kilogram, sedangkan cabai yang belum dibersihkan atau masih berangkai/tangkai dijual Rp160.000 per kilogram. Ia juga menyebut adanya cabai yang diperdagangkan seharga Rp120.000 per kilogram, tetapi kurang diminati pembeli setempat karena tingkat kepedasannya lebih rendah.
"Harga cabai rawit bersih tanpa tangkai Rp200.000 per kg, sementara yang belum dibersihkan atau masih dengan tangkai Rp160.000 per kg,"
Penyebab: Pasokan Lokal Terganggu
Menurut penuturan Hengki, pasokan cabai rawit untuk pasar Kwandang tidak lagi berasal dari petani lokal Gorontalo Utara. Kondisi tersebut terjadi karena petani setempat mengalami gagal produksi akibat musim kemarau. Akibatnya, pedagang menggantungkan pasokan pada daerah lain, salah satunya Kabupaten Buol di Sulawesi Tengah.
Dampak Ekonomi Lokal
Kenaikan harga rempah penting seperti cabai rawit berimplikasi langsung pada pengeluaran rumah tangga dan kegiatan usaha kuliner skala mikro hingga menengah. Dengan harga puncak untuk cabai bersih sebesar Rp200.000 per kilogram, biaya bahan baku pedagang warung, rumah makan, dan penjual jajanan berpotensi meningkat, yang dapat mendorong kenaikan harga jual atau pengurangan penggunaan cabai dalam resep.
- Harga cabai rawit bersih: Rp200.000/kg
- Harga cabai rawit dengan tangkai: Rp160.000/kg
- Varian cabai dengan tingkat kepedasan lebih rendah: Rp120.000/kg (kurang diminati)
- Sumber pasokan utama saat ini: Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah
Catatan Pasokan dan Pilihan Konsumen
Peralihan pasokan dari petani lokal ke daerah lain menandai kerentanan rantai pasokan komoditas hortikultura terhadap faktor cuaca. Ketergantungan pada pasokan antarwilayah juga berisiko memengaruhi harga karena biaya angkut dan penanganan. Di pasar Kwandang, pedagang mencatat konsumen cenderung memilih cabai yang lebih pedas meskipun harganya lebih tinggi; varietas dengan kepedasan rendah yang dijual Rp120.000 per kilogram kurang laku.
| Item | Harga (Rp/kg) |
|---|---|
| Cabai rawit bersih (tanpa tangkai) | 200.000 |
| Cabai rawit dengan tangkai | 160.000 |
| Cabai varian kurang pedas | 120.000 |
Perlunya Penguatan Produksi Lokal
Data pasar menunjukkan pentingnya upaya adaptasi di tingkat produksi, termasuk manajemen air dan teknik budidaya yang tahan kemarau, untuk mengurangi risiko ketergantungan pasokan dari luar daerah. Meski demikian, informasi lebih lanjut terkait luas lahan terdampak, jumlah petani yang gagal panen, serta proyeksi pasokan jangka menengah belum tersedia dalam pelaporan ini.
Sampai ada intervensi teknis atau kebijakan yang meningkatkan ketersediaan pasokan lokal, harga komoditas hortikultura sensitif seperti cabai rawit diperkirakan tetap fluktuatif, dan konsumen serta pelaku usaha harus menyesuaikan anggaran dan strategi pengadaan bahan baku.
Pelaporan ini berdasarkan keterangan pedagang di pasar tradisional Kwandang dan pengiriman pasokan yang tercatat pada 19 September 2026.