Mamuju — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui orientasi kelas ibu balita yang diselenggarakan bagi tenaga kesehatan, termasuk bidan dan tenaga pelaksana gizi di lingkup Kabupaten Mamuju pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Tujuan program dan fokus orientasi
Kepala Dinkes P2KB Provinsi Sulbar, dr Nursyamsi Rahim, mengatakan kelas ibu balita merupakan strategi pemberdayaan keluarga dan masyarakat untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Menurut Nursyamsi, kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, serta penerapan pola pengasuhan yang tepat.
"Melalui kelas ini, keluarga diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, memantau pertumbuhan dan perkembangan, menerapkan pola pengasuhan yang tepat serta memanfaatkan buku kesehatan ibu dan anak (KIA) secara optimal,"
Orientasi juga menekankan peran strategis tenaga kesehatan puskesmas. Nursyamsi menegaskan bahwa tenaga kesehatan tidak hanya diharapkan menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi edukator dan pendamping bagi keluarga.
Peran bidan dan tenaga gizi
Nursyamsi menjelaskan bahwa orientasi diarahkan untuk memperkuat keterampilan komunikasi efektif antara tenaga kesehatan dan keluarga, khususnya terkait:
- Pemenuhan gizi, termasuk pentingnya ASI dan MP-ASI yang tepat.
- Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak menggunakan metode standar.
- Pengasuhan yang mendukung stimulasi perkembangan dini.
- Pemanfaatan buku KIA sebagai alat pencatatan dan edukasi bagi orang tua.
"Karena itu, orientasi bagi bidan dan tenaga pelaksana gizi diharapkan mampu memperkuat keterampilan dalam membangun komunikasi yang efektif dengan keluarga," kata Nursyamsi, menekankan aspek pendampingan yang berkelanjutan oleh tenaga puskesmas.
Upaya pencegahan dan pembangunan SDM
Penyelenggaraan kelas ibu balita dikaitkan dengan upaya lebih luas membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Nursyamsi menyatakan pembangunan SDM tidak semata melalui pendidikan formal, tetapi dimulai dari pemenuhan kesehatan dan gizi sejak masa awal kehidupan.
Menurut Nursyamsi, tujuan jangka panjang program ini adalah agar orang tua dan keluarga tidak hanya membawa anak ke fasilitas kesehatan saat sakit, melainkan memiliki keterampilan preventif untuk menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak sejak dini.
Peserta dan dukungan lembaga
Kegiatan orientasi dihadiri oleh tenaga kesehatan dari puskesmas di Kabupaten Mamuju serta diikuti pejabat daerah; dalam dokumentasi acara terlihat Wakil Ketua I DPRD Sulbar, Suraidah Suhardi, hadir pada sesi tersebut. Keterlibatan legislatif menandai perhatian lintas sektor terhadap isu kesehatan ibu dan anak.
| Aspek | Fokus Orientasi |
|---|---|
| Gizi | Pemberian ASI eksklusif, MP-ASI bergizi, edukasi keluarga |
| Pemantauan | Pengukuran pertumbuhan, pemantauan perkembangan, penggunaan buku KIA |
| Komunikasi | Keterampilan edukator dan pendamping keluarga di puskesmas |
Dampak lokal dan langkah selanjutnya
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan di tingkat puskesmas diharapkan memperluas jangkauan layanan promotif dan preventif terhadap masalah gizi dan keterlambatan perkembangan pada anak balita. Jika keterampilan komunikasi dan pemantauan ditingkatkan, puskesmas dapat melakukan intervensi lebih awal dan merujuk kasus yang membutuhkan perawatan lanjutan.
Untuk efektivitas program, Dinkes P2KB Sulbar perlu memastikan tindak lanjut berupa supervisi, pelatihan berkelanjutan, serta ketersediaan alat pemantauan pertumbuhan dan buku KIA yang memadai di seluruh puskesmas.
Orientasi ini merupakan bagian dari upaya gubernur dan dinas terkait dalam menurunkan risiko malnutrisi dan meningkatkan indikator kesehatan anak di provinsi. Keberlanjutan program dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar manfaatnya dirasakan di tingkat keluarga dan komunitas.
Peliput: Anindita Maharani — Seksi Kesehatan, WE NEWS Sulawesi Barat