Palu, Sulawesi Tengah — Provinsi Sulawesi Tengah mencatat capaian penemuan kasus tuberkulosis (TB) yang tinggi pada 2025, namun upaya penemuan kasus berlanjut menghadapi tantangan pada 2026. Demikian pernyataan Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat kunjungan kerja di Palu, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Capaian 2025 dan kondisi per 2026
Berdasarkan paparan yang dikemukakan wakil menteri, Sulawesi Tengah berhasil menemukan 8.419 kasus TB pada 2025 dari estimasi beban kasus sebanyak 10.066 kasus, atau mencapai 83,6 persen. Selain itu, tingkat pengobatan terhadap kasus yang ditemukan dilaporkan tinggi, mencapai sekitar 90 persen.
"Provinsi yang paling tinggi, terbaik se-Indonesia dalam penemuan kasus TB adalah Provinsi Banten, nomor dua Provinsi Jawa Barat, nomor enam Provinsi Sulawesi Tengah,"
Meski demikian, data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 16 Agustus 2026 menunjukkan capaian penemuan yang menurun secara proporsi: Sulawesi Tengah menempati posisi kedelapan nasional dengan penemuan 4.770 kasus dari estimasi beban sebanyak 9.968 kasus atau sekitar 47,9 persen.
Perbedaan antar kabupaten/kota
Capaian penemuan kasus TB tidak merata antar kabupaten/kota di Sulawesi Tengah. Beberapa daerah menunjukkan kinerja lebih baik, sementara yang lain masih di bawah setengah estimasi beban kasus.
Data yang dipaparkan mencantumkan capaian di tingkat kabupaten/kota sebagai berikut:
| Kabupaten/Kota | Capaian (%) | Kasus Dilaporkan | Estimasi Beban |
|---|---|---|---|
| Tojo Una-Una | 64,2% | 296 | 461 |
| Morowali | 58,9% | 426 | 723 |
| Kota Palu | 51,4% | 1.062 | 2.066 |
| Sigi | 51,0% | 352 | 690 |
| Donggala | 47,5% | 363 | 764 (total estimasi tidak disebut — data disajikan sebagai perbandingan) |
| Parigi Moutong | 46,9% | 541 | 1.154 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Poso | 44,5% | 330 | 742 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Morowali Utara | 42,7% | 155 | 363 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Banggai | 42,7% | 500 | 1.171 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Buol | 42,1% | 212 | 503 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Tolitoli | 40,7% | 308 | 757 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Banggai Kepulauan | 40,1% | 137 | 341 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
| Banggai Laut | 38,3% | 89 | 233 (estimasi tidak lengkap dalam sumber) |
Catatan: Beberapa angka estimasi beban kasus pada tabel tambahan diambil dari konteks paparan; sumber asli menyajikan angka estimasi secara lengkap untuk beberapa daerah dan hanya menyebutkan angka capaian serta jumlah kasus terdeteksi untuk lainnya.
Implikasi dan langkah yang diperlukan
Meskipun capaian pengobatan dilaporkan tinggi untuk kasus yang telah ditemukan, penurunan persentase penemuan kasus sepanjang 2026 menandakan masih ada celah dalam sistem deteksi dini dan pelaporan. Tingkat penemuan yang rendah dapat menyebabkan transmisi lanjut di komunitas dan menunda pengobatan yang efektif.
- Peningkatan akses layanan diagnosis, termasuk ketersediaan alat pemeriksaan cepat dan laboratorium di daerah terpencil.
- Penguatan surveilans dan pelaporan pada fasilitas kesehatan primer serta peningkatan aktivitas pencarian kasus aktif (active case finding).
- Upaya penyuluhan dan pengurangan stigma agar pelaku gejala TB mau melakukan pemeriksaan lebih dini.
Wamenkes menempatkan Sulawesi Tengah di antara provinsi dengan capaian penemuan kasus yang tinggi pada 2025, namun data SITB per 16 Agustus 2026 menunjukkan perlunya penguatan program agar target penemuan kasus nasional tercapai.
Pesan bagi masyarakat
Bagi masyarakat, pengenalan gejala awal TB — batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, dan berkeringat malam hari — penting untuk mendorong pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat. Pengobatan TB tersedia melalui puskesmas dan fasilitas rujukan, dan penyelesaian pengobatan sesuai regimen adalah kunci untuk kesembuhan serta mencegah resistensi obat.
Informasi lebih lanjut mengenai layanan TB di Sulawesi Tengah dapat diperoleh melalui dinas kesehatan kabupaten/kota setempat atau fasilitas kesehatan terdekat.