Nabire — Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah memperkuat integrasi layanan untuk HIV dan Tuberkulosis (TB) di sembilan puskesmas di Kabupaten Nabire sebagai upaya mempercepat penemuan kasus serta memastikan pasien menerima pengobatan dan dukungan yang berkesinambungan.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan
Kegiatan yang berlangsung di Nabire itu difokuskan pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan puskesmas melalui Clinical Mentoring Evaluation Meeting yang mendapat dukungan pendanaan dari Global Fund. Kegiatan tersebut menitikberatkan pada kemampuan melakukan pemeriksaan HIV, skrining TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), koordinasi antarprogram, serta standar pencatatan dan pelaporan.
"Hari ini kita melaksanakan Clinical Mentoring Evaluation Meeting yang didukung Global Fund untuk meningkatkan kemampuan nakes puskesmas sebagai lini terdepan dalam pemeriksaan HIV, skrining TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), koordinasi lintas program, serta pencatatan dan pelaporan sesuai standar nasional,"
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr Pingki Wardani, saat membuka kegiatan. Ia menekankan pentingnya peran puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan dalam mendeteksi dini dan mengelola pasien secara komprehensif.
Alasan integrasi: hubungan erat HIV dan TB
Integrasi layanan dianggap krusial karena orang dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi TB. Oleh sebab itu, protokol layanan mensyaratkan agar pasien HIV menjalani skrining TB secara rutin, sementara pasien TB harus ditawarkan pemeriksaan HIV sesuai pedoman program.
Selain deteksi, fokus integrasi juga menyoroti pengobatan lanjutan: memastikan pasien HIV memperoleh terapi antiretroviral (ARV) segera melalui pendekatan Test and Treat, serta akses ke layanan pendukung dan pemantauan yang diperlukan agar kepatuhan terapi terjaga.
Rangkaian layanan dalam jejaring puskesmas
Jejaring yang diperkuat menyediakan layanan terpadu mulai dari pemeriksaan dan konseling HIV, pengobatan ARV, pemantauan klinis, layanan untuk infeksi menular seksual (IMS), skrining TB, pemberian TPT bagi yang memenuhi kriteria, pemeriksaan laboratorium, hingga pencatatan serta pelaporan.
- Tujuan utama: mempercepat penemuan kasus dan memastikan kontinuitas pengobatan.
- Target tenaga kesehatan: meningkatkan kemampuan skrining, peresepan, dan pencatatan sesuai standar nasional.
- Sumber dukungan: Global Fund untuk pembinaan klinis dan monitoring.
Puskesmas yang masuk jejaring
| No | Puskesmas |
|---|---|
| 1 | Wanggar Sari |
| 2 | Samabusa |
| 3 | Nabarua |
| 4 | Bumi Wonorejo |
| 5 | Karang Mulia |
| 6 | Siriwini |
| 7 | Karang Tumaritis |
| 8 | SP1 Kalibumi |
| 9 | Nabire Kota |
Peningkatan kapasitas ini juga mencakup penguatan koordinasi antarprogram di fasilitas primer sehingga rujukan, tindak lanjut, dan pengisian data elektronik dapat berjalan lebih efektif.
Dampak terhadap masyarakat dan langkah lanjutan
Dengan jejaring layanan yang lebih kuat, diharapkan deteksi kasus HIV dan TB dapat meningkat, serta lebih banyak pasien yang segera mendapat terapi sesuai kebutuhan klinis. Pendekatan ini juga penting untuk mencegah perkembangan penyakit TB pada orang dengan HIV melalui pemberian TPT setelah melalui skrining yang tepat.
Program ini memberi ruang bagi masyarakat adat dan komunitas lokal untuk mendapat pelayanan kesehatan yang lebih dekat dan terkoordinasi. Namun, keberhasilan implementasi bergantung pada kontinuitas pembinaan, ketersediaan obat dan peralatan laboratorium, serta pemantauan kepatuhan pasien.
Dinas Kesehatan berencana melanjutkan evaluasi dan pembinaan berkala sehingga puskesmas dapat mempertahankan standar pelayanan dan meningkatkan kualitas pencatatan serta pelaporan kasus sesuai ketentuan nasional.
Upaya integrasi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan primer di Kabupaten Nabire agar pelayanan HIV dan TB dapat diberikan secara terpadu, cepat, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.