Pontianak – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mendapat dukungan teknologi setelah perusahaan lokal, Hotama Technologies, menghibahkan sistem berbasis artificial intelligence (AI) untuk memprediksi risiko kebakaran. Sistem itu diberikan tanpa biaya kepada pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dengan tujuan memperkuat langkah preventif.
Sifat dan kemampuan sistem
Menurut pengembang, sistem tersebut berfungsi sebagai alat predictive analytics yang mampu memproyeksikan tingkat risiko kebakaran hingga 24 bulan ke depan. Namun, pengembang menekankan bahwa AI bukanlah instrumen yang dapat memastikan kapan dan di mana api akan muncul; melainkan menghasilkan indikasi probabilitas berdasarkan pola dari berbagai variabel dan data historis.
"Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,"
kata Hajon Mahdy, pendiri Hotama Technologies, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Fitur khusus untuk lahan gambut
Satu fitur yang diberi penekanan adalah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI), sebuah indeks yang dirancang untuk mengevaluasi kerentanan kawasan gambut terhadap kebakaran. Pengembang menjelaskan bahwa karakter kebakaran pada gambut berbeda dengan lahan mineral: ketika gambut mengering, api dapat merambat ke kedalaman sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.
Melalui PFVI, beberapa indikator digabungkan untuk mengklasifikasikan tingkat kerentanan kawasan gambut. Hasil PFVI kemudian digabungkan dengan model prediktif AI untuk memetakan tren risiko ke depan.
Manfaat praktis bagi pengelola lapangan
Informasi yang dihasilkan sistem dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan operasional, termasuk:
- Penentuan prioritas patroli berbasis risiko;
- Pemetaan lokasi untuk pembasahan gambut dan pengelolaan sumber air;
- Penempatan personel dan sumber daya secara lebih terfokus;
- Perencanaan mitigasi jangka menengah hingga jangka panjang.
Batasan dan catatan penggunaan
Pengembang serta pihak yang menerima hibah menegaskan beberapa keterbatasan penting. Sistem memproduksi probabilitas dan tren risiko, bukan kepastian kejadian. Keandalan prediksi sangat bergantung pada kualitas, cakupan, dan kontinuitas data yang dimasukkan—termasuk data cuaca, kondisi lahan, penggunaan lahan, serta catatan kebakaran historis.
Oleh karena itu, implementasi efektif memerlukan integrasi data lintas lembaga, pembaruan data berkala, dan kapasitas teknis personel lapangan untuk menerjemahkan rekomendasi menjadi tindakan mitigasi konkret.
Dampak potensial bagi penanggulangan karhutla di Kalbar
Di provinsi yang memiliki lahan gambut luas seperti Kalimantan Barat, pendekatan preventif berpotensi mengurangi frekuensi kejadian yang berkembang menjadi kebakaran besar, sekaligus menekan kerugian ekonomi dan dampak kesehatan akibat kabut asap. Pemanfaatan indikator kerentanan gambut dapat membantu pemerintah daerah mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien, serta memprioritaskan intervensi pada kawasan yang paling berisiko.
Namun, efektifitas teknologi ini bergantung pada kolaborasi antara pengembang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dinas kehutanan, dan masyarakat lokal—khususnya dalam hal berbagi data, koordinasi patroli, dan strategi pengelolaan air pada lahan gambut.
Ringkasan fitur utama
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Horizon proyeksi | Hingga 24 bulan |
| Indeks khusus | Peat Fire Vulnerability Index (PFVI) untuk gambut |
| Biaya | Dihibahkan/Gratis untuk pemerintah dan pemangku kepentingan |
Dengan langkah hibah ini, pengembang lokal menunjukkan peran sektor teknologi dalam mitigasi bencana lingkungan. Langkah selanjutnya adalah memastikan perangkat tersebut terintegrasi dalam sistem tata kelola kebakaran yang ada dan didukung oleh data serta kapasitas operasional di lapangan.
Catatan bagi pembaca: Penggunaan sistem prediksi tidak menggantikan tindakan lapangan dan kewaspadaan masyarakat. Informasi risiko harus dipadukan dengan patroli, pengelolaan air pada lahan gambut, dan program edukasi untuk mencegah kebakaran sejak dini.