Lingkungan Pontianak Kalimantan Barat (KB)

Pontianak Kaji Sistem Air Baku Permanen untuk Antisipasi Krisis Saat Kemarau

Pemerintah Kota Pontianak mengkaji opsi memperpanjang jaringan pipa dari Penepat untuk mengalirkan air baku ke instalasi pengolahan, sebagai langkah jangka panjang mengatasi krisis air selama kemarau.

Pontianak Kaji Sistem Air Baku Permanen untuk Antisipasi Krisis Saat Kemarau
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Rencana kajian dan alternatif teknis

Pemerintah Kota Pontianak mulai menyiapkan kajian sistem penyediaan air baku jangka panjang guna mengantisipasi terulangnya krisis pasokan air pada musim kemarau. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah memperpanjang jaringan pipa hingga kawasan Penepat dan menghubungkannya dengan beberapa Instalasi Pengolahan Air (IPA) di dalam kota.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan rencana tersebut menjadi salah satu alternatif untuk membangun sistem yang lebih permanen sehingga kota tidak terus mengandalkan penanganan darurat ketika musim kemarau terjadi.

"Jadi, ada beberapa alternatif. Konsultan itu dengan memperpanjang pipa ke Penepat, di Sungai Penepat. Terus, kita akan menghubungkan pipa-pipa tersebut ke Nipah Kuning, ke IPA, ke Parit Mayor, ke Selat Panjang," ujar Edi Rusdi Kamtono.

Fungsi waduk dan mekanisme pengaliran

Dalam rencana yang diutarakan, waduk di kawasan Penepat berperan sebagai penampungan sementara. Air baku dari Penepat diperkirakan akan dialirkan ke sejumlah IPA di Pontianak sehingga pengolahan menjadi air bersih dapat kembali normal ketika kondisi kemarau menekan pasokan.

Edi menekankan bahwa jika mutu air baku dinyatakan aman, waduk hanya berfungsi sebagai penyangga sementara sebelum air diteruskan ke instalasi pengolahan. Skema ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada solusi darurat seperti pengiriman air dengan tongkang yang selama ini diterapkan.

Dampak kemarau dan alasan urgensi

Edi menyebut kondisi musim kemarau tahun ini sebagai salah satu alasan mendesak perlunya solusi jangka panjang. Ia menyampaikan bahwa Pontianak telah mengalami lebih dari tiga bulan tanpa hujan yang berarti, meskipun beberapa wilayah hulunya masih menerima curah hujan.

Sementara itu, penanggulangan saat ini masih mengandalkan pengiriman air melalui tongkang. Menurut wali kota, langkah tersebut merupakan tindakan darurat yang memerlukan biaya besar dan bukan solusi berkelanjutan. Oleh karena itu, Pemkot mengusulkan agar pemerintah pusat turut mendukung melalui pendanaan APBN untuk pembangunan sistem yang permanen.

Ruang lingkup manfaat dan kerjasama regional

Masalah ketersediaan air baku tidak hanya menyangkut Kota Pontianak. Edi menjelaskan bahwa Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah juga memerlukan sumber air baku yang memadai. Oleh karena itu, kajian yang sedang dilakukan berpotensi memiliki cakupan regional jika skema perpipaan dan pemanfaatan waduk di Penepat terealisasi.

  • Alternatif teknis: Perpanjangan pipa dari Penepat ke beberapa IPA kota.
  • Fungsi waduk Penepat: Sebagai penampungan sementara sebelum dialirkan ke IPA.
  • Solusi sementara: Pengiriman air dengan tongkang, dinilai mahal dan tidak berkelanjutan.
Komponen Peran
Waduk Penepat Penampungan sementara air baku
Jaringan pipa Salurkan air ke IPA di Pontianak
IPA (Nipah Kuning, Parit Mayor, Selat Panjang) Pengolahan menjadi air layak konsumsi

Langkah selanjutnya dan tantangan pendanaan

Pemkot Pontianak menugaskan konsultan untuk menyusun kajian teknis dan ekonomis dari beberapa alternatif yang diajukan. Edi menyatakan bahwa realisasi solusi permanen akan membutuhkan investasi besar, sehingga diperlukan keterlibatan pemerintah pusat untuk dukungan anggaran melalui APBN.

Pelaksanaan rencana ini akan bergantung pada hasil kajian, aspek kelayakan teknis, dan kesiapan pendanaan. Jika terealisasi, skema yang diusulkan berpotensi meningkatkan ketahanan pasokan air saat musim kemarau dan mengurangi frekuensi tindakan darurat yang berdampak pada anggaran dan pelayanan publik.

Pemkot juga perlu mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan sumber air baku agar solusi jangka panjang tidak menimbulkan masalah baru di hulu maupun bagi ekosistem di sekitar lokasi penampungan.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KBKalimantan Barat

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Barat, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik