Lingkungan Pontianak Kalimantan Barat (KB)

Jepang Kerahkan 3 Chinook dan 2 Hovercraft Dukung Pemadaman Karhutla di Kalbar

Pemerintah Jepang mengerahkan tiga helikopter CH-47 Chinook dan dua hovercraft untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan di Kalimantan Barat; Lanud Supadio ditetapkan sebagai pangkalan operasi sementara.

Jepang Kerahkan 3 Chinook dan 2 Hovercraft Dukung Pemadaman Karhutla di Kalbar
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Pemerintah Jepang mengirimkan bantuan udara dan laut untuk mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan di Kalimantan Barat. Tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook ditempatkan di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, sementara dua kapal hovercraft milik Angkatan Laut Jepang mendarat di pesisir Pantai Karta, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang pada Jumat lalu.

Penempatan dan tujuan operasi

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi, menyatakan bahwa penempatan helikopter Chinook dimaksudkan untuk memperkuat satu komando dan pengendalian dalam penanganan kebakaran hutan di wilayah Kalimantan Barat serta mempercepat proses pemadaman yang sudah berjalan.

"Penempatan helikopter Chinook dilakukan untuk mendukung satu komando dan pengendalian, khususnya mempercepat pemadaman kebakaran hutan di wilayah Kalimantan Barat,"

Pernyataan itu memberikan gambaran peran kedua jenis alat—helikopter angkut berat dan hovercraft—yang saling melengkapi: Chinook mampu mengangkut air, logistik, dan tim pemadam ke lokasi terpencil, sedangkan hovercraft mendukung akses ke area pesisir, muara, dan lahan basah yang sulit dijangkau kapal biasa.

Dampak operasional bagi upaya pemadaman

Masuknya aset asing dalam penanggulangan kebakaran hutan memberi beberapa implikasi teknis dan manajerial bagi operasi di lapangan:

  • Percepatan respons: Chinook dapat mengangkut volume air dan personel dalam sekali lintasan, mengurangi waktu antar tugas pemadaman.
  • Akses ke lahan sulit: Hovercraft berpotensi efektif pada area gambut payau, pesisir, dan sungai dangkal yang kerap menjadi sumber kebakaran berulang.
  • Koordinasi komando: Penempatan di Lanud Supadio memungkinkan integrasi dukungan udara dengan unit pemadam lokal dan nasional.

Meski demikian, efektivitas alat ini sangat bergantung pada koordinasi dengan tim lokal, persediaan air yang memadai, kondisi cuaca, serta keamanan akses ke titik api yang sering berpindah dan berada di lahan gambut yang berisiko menyala di bawah permukaan.

Data singkat aset bantuan

Aset Jumlah Lokasi penempatan
Helikopter CH-47 Chinook 3 Lanud Supadio, Pontianak
Hovercraft Angkatan Laut Jepang 2 Pesisir Pantai Karta, Kec. Sungai Raya, Kab. Bengkayang

Aspek lingkungan dan mitigasi jangka panjang

Dukungan peralatan berat dari luar negeri dapat membantu meredam kebakaran yang tengah berlangsung, tetapi bukan solusi tunggal untuk mencegah kebakaran berulang. Dari perspektif lingkungan, beberapa poin penting perlu diperhatikan:

  • Perbaikan tata guna lahan dan perlindungan lahan gambut yang rentan harus menjadi prioritas agar risiko kebakaran menurun secara struktural.
  • Peningkatan kapasitas respons cepat di tingkat kabupaten/kota, termasuk unit darat dan sistem peringatan dini, akan mempercepat penanganan saat kebakaran mulai muncul.
  • Kerja sama internasional seperti bantuan Jepang perlu diiringi transfer keterampilan operasional supaya kemampuan lokal meningkat dalam jangka menengah dan panjang.

Dari sisi kesehatan masyarakat, asap kebakaran memberi dampak langsung pada kualitas udara, berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit komorbid. Oleh karena itu, informasi tentang pola penyebaran asap, lokasi evakuasi, dan rekomendasi penggunaan masker tetap penting disebarluaskan oleh otoritas kesehatan dan pemerintah daerah.

Koordinasi dan langkah ke depan

Penempatan aset Jepang harus diintegrasikan dalam struktur komando penanggulangan kebakaran hutan yang melibatkan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, TNI/Polri, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, serta masyarakat setempat. Keberhasilan operasi akan bergantung pada kecepatan informasi titik api, dukungan logistik, serta penerapan taktik pemadaman yang sesuai karakteristik lahan.

Dengan adanya bantuan Chinook dan hovercraft, diharapkan upaya pemadaman di Kalimantan Barat dapat lebih efektif, namun perbaikan kebijakan pengelolaan lahan dan peningkatan kapasitas lokal tetap menjadi langkah esensial untuk mengurangi frekuensi karhutla di masa mendatang.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KBKalimantan Barat

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kalimantan Barat, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik