PONTIANAK — Kondisi kualitas udara di Kota Pontianak memburuk pada Senin pagi, 10 Agustus 2026, seiring dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat. Pantauan di sejumlah ruas jalan, terutama kawasan Pontianak Timur, menunjukkan kabut asap pekat yang mengganggu jarak pandang dan menyebabkan mata perih. Banyak pengendara dan orang yang keluar rumah tampak mengenakan masker.
"Kepungan kabut asap pekat sangat terasa, disertai aroma sisa tumbuhan kering yang terbakar."
Sebaran titik panas dan data kualitas udara
Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio merilis data analisis hingga Minggu, 9 Agustus 2026, yang menunjukkan terdeteksinya 2.981 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat. Sebaran titik panas tertinggi tercatat di beberapa kabupaten sebagai berikut:
- Kabupaten Ketapang: 741 titik panas
- Kabupaten Sanggau: 540 titik panas
- Kabupaten Kayong Utara: 381 titik panas
- Kabupaten Kubu Raya: 309 titik panas
Dokumen yang sama juga merekam lonjakan partikel halus (PM2.5) di sejumlah lokasi. Konsentrasi PM2.5 harian sempat mencapai 287,3 µgr/m³ di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, yang dikategorikan berbahaya. Lonjakan terparah dilaporkan di Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, dengan konsentrasi PM2.5 harian maksimum mencapai 377,2 µgr/m³, yang berada pada klasifikasi sangat berbahaya.
| Lokasi | Ukuran / Indikator |
|---|---|
| Jumlah titik panas Kalbar | 2.981 titik |
| Ketapang | 741 titik panas |
| Sanggau | 540 titik panas |
| Kayong Utara | 381 titik panas |
| Kubu Raya | 309 titik panas |
| Sungai Raya (KKR) - PM2.5 | 287,3 µgr/m³ (berbahaya) |
| Jongkat (Mempawah) - PM2.5 | 377,2 µgr/m³ (sangat berbahaya) |
Peringatan BMKG dan kondisi cuaca
Analisis citra satelit Himawari-9 memperlihatkan minimnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalbar, sehingga potensi hujan yang dapat menurunkan kadar asap dinilai sangat terbatas. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini yang menyatakan sebagian besar provinsi berada pada status sangat mudah terbakar untuk periode 10 hingga 16 Agustus 2026. Kondisi ini meningkatkan risiko meluasnya titik api jika upaya pencegahan dan pemadaman tidak ditingkatkan.
Dampak nyata di Pontianak dan imbauan
Kondisi kabut asap yang menyelimuti Pontianak pagi ini telah menimbulkan gangguan pernapasan ringan hingga iritasi mata bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Sebagian besar pengguna jalan memilih mengenakan masker saat mengantar anak sekolah dan berangkat kerja. Mengingat tingginya konsentrasi PM2.5 di beberapa wilayah sekitar, dampak kesehatan berisiko meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Sumber data utama laporan ini adalah Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio dan citra satelit Himawari-9. Evaluasi situasi lebih lanjut serta langkah mitigasi terpusat pada upaya pengendalian titik api, penegakan larangan pembakaran, patroli pencegahan karhutla, serta koordinasi antarlembaga yang terkait.
Redaksi WE NEWS mengimbau warga Pontianak untuk mengikuti informasi resmi dari instansi terkait, membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, serta menggunakan masker pelindung partikel halus jika harus keluar rumah.