Diskusi di Masjid Al-Kautsar
Diskusi lintas iman bertajuk "Merusak Alam, Merusak Kemanusiaan" digelar di Masjid Al-Kautsar, Pontianak, pada Senin, 17 Agustus 2026. Kegiatan yang diinisiasi Gusdurian Pontianak mendapat dukungan dari WALHI Kalimantan Barat, Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA), dan sejumlah pihak lain. Acara menghadirkan tiga narasumber yang mewakili perspektif lingkungan, kemanusiaan, dan agama.
Data deforestasi dan perubahan iklim
Dalam paparannya, Hendy dari WALHI Kalbar menyoroti bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan sudah mulai dianggap normal oleh sebagian masyarakat di Kalimantan Barat. Fenomena seperti banjir dan kabut asap disebut seolah menjadi pola musim yang berulang di daerah ini.
"Di Pontianak atau di Kalimantan Barat sendiri itu… saat ini kita ganti jadinya musim banjir dan musim kabut asap,"
Hendy juga memaparkan data kehilangan hutan alam di wilayah provinsi. Menurut paparan tersebut, pada 2025 terdapat sekitar 31.876 hektare hutan alam yang hilang, jumlah yang oleh narasumber dibandingkan dengan luas Kota Pontianak.
Dampak tidak merata: kelompok kecil paling rentan
Hendy mengingatkan bahwa dampak kerusakan ekologis tidak dirasakan secara merata. Kelompok masyarakat kecil atau berpendapatan rendah cenderung menjadi yang paling rentan menanggung risiko akibat perubahan lingkungan dan bencana ekologis. Diskusi ini menekankan perlunya penguatan kebijakan dan perlindungan sosial untuk mengurangi kerentanan tersebut.
Perspektif agama dan panggilan untuk menjaga bumi
Sementara itu, Suster Magdalena Paula dari Rumah Belas Kasih menyampaikan refleksi dari perspektif iman Katolik mengenai hubungan manusia dengan alam. Mengutip ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus, Suster Paula menegaskan pentingnya memandang bumi sebagai rumah bersama yang wajib dihormati dan dirawat. Ia mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada kritik atau aksi simbolis, tetapi mengedepankan tindak lanjut yang konkret.
Dialog antariman sebagai ruang refleksi
Acara juga menghadirkan pembicara dari komunitas lain, termasuk Maulana Muztahidin, mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Pontianak. Kehadiran tokoh-tokoh lintas iman dalam diskusi tersebut menunjukkan upaya membangun konsensus moral mengenai urgensi menjaga lingkungan.
- Penyelenggara: Gusdurian Pontianak
- Pendukung: WALHI Kalbar, Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) dan pihak lain
- Narasumber: Hendy (WALHI Kalbar), Suster Magdalena Paula (Rumah Belas Kasih), Maulana Muztahidin (JAI Pontianak)
- Data penting: 31.876 hektare hutan alam hilang pada 2025
Konsekuensi bagi Pontianak dan langkah ke depan
Diskusi ini menyoroti dua konsekuensi langsung bagi warga Pontianak dan Kalimantan Barat: peningkatan frekuensi peristiwa banjir dan kabut asap, serta kerentanan sosial kelompok kecil. Pernyataan narasumber membuka ruang bagi pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi, termasuk:
- Penguatan kebijakan pengelolaan hutan dan lahan
- Program perlindungan sosial untuk masyarakat terdampak bencana ekologis
- Peningkatan edukasi lingkungan berbasis komunitas dan lembaga keagamaan
| Indikator | Angka/Deskripsi |
|---|---|
| Kerugian hutan alam (2025) | 31.876 hektare (setara sekitar tiga kali luas Kota Pontianak, menurut paparan) |
Para peserta dan penyelenggara berharap diskusi lintas iman seperti ini tidak berhenti pada retorika, melainkan menjadi pemicu tindakan nyata yang melibatkan pemerintah daerah, organisasi lingkungan, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Pendekatan lintas iman dinilai penting karena menggabungkan dimensi moral, sosial, dan ilmiah dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan mengurangi dampak bagi kelompok yang paling rentan.
Diskusi di Pontianak ini merupakan contoh inisiatif lokal yang menghubungkan data lingkungan dengan pesan kemanusiaan, serta mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mencari solusi yang berkelanjutan.