PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya ikan sebagai upaya meningkatkan konsumsi protein dan membantu menurunkan angka stunting. Langkah itu disampaikan oleh Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kalbar sekaligus Ketua TP PKK Kalbar, Erlina Norsan, dalam sebuah talk show yang merupakan bagian dari Pekan Produk Kelautan dan Perikanan yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalbar.
Budidaya tanpa modal besar dan lahan luas
Erlina menjelaskan bahwa budidaya ikan di pekarangan tidak selalu memerlukan modal besar maupun lahan yang luas. Menurutnya, pekarangan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat menjadi sumber pangan bergizi bagi keluarga.
"Tujuan kami bagaimana mengedukasi masyarakat, termasuk mahasiswa, agar memahami bahwa pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan,"
Pernyataan itu menegaskan fokus program pada edukasi dan praktik sederhana yang dapat diadopsi oleh berbagai lapisan masyarakat, dari keluarga urban hingga komunitas di daerah pinggiran kota.
Kolaborasi dengan akademisi untuk memperluas jangkauan
Program edukasi ini melibatkan mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) yang diharapkan bertindak sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menyosialisasikan teknik budidaya ikan di lingkungan rumah tangga. Erlina menyampaikan rencana untuk memperluas kegiatan ke seluruh wilayah provinsi melalui kolaborasi tersebut.
Rencana perluasan program mencakup seluruh 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat. Menurut Erlina, tim yang terdiri dari TP PKK Kalbar dan mahasiswa Polnep akan turun langsung untuk memberikan pemahaman praktis kepada masyarakat mengenai pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga.
Manfaat gizi dan kaitannya dengan stunting
Erlina menilai peningkatan konsumsi ikan memiliki keterkaitan langsung dengan upaya penurunan angka stunting. Pemenuhan kebutuhan protein anak, kata dia, harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui ketersediaan pangan bergizi di rumah.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, konsumsi ikan menghasilkan asupan protein hewani, asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral yang penting bagi pertumbuhan anak. Pengefektifan intervensi gizi skala rumah tangga, seperti budidaya ikan dan penanaman sayuran, diharapkan dapat melengkapi program intervensi lain yang dijalankan pemerintah daerah.
Langkah konkret yang dapat dilakukan keluarga
Erlina juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan tidak hanya untuk ikan, tetapi juga untuk menanam berbagai tanaman pangan bergizi. Menurutnya, langkah sederhana ini dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
- Gunakan ember, drum bekas, atau kolam kecil untuk budidaya ikan hias/ikan konsumsi skala rumah tangga.
- Pilih jenis ikan yang tahan terhadap kondisi lokal dan mudah dipelihara bersama keluarga.
- Padukan budidaya ikan dengan tanaman pangan (integrasi ikan-sayur) untuk memaksimalkan pemanfaatan pekarangan.
- Manfaatkan pendampingan dari institusi pemerintah, lembaga penyuluhan, dan mahasiswa sebagai sumber informasi teknis.
“Kami ingin mengajak masyarakat bahwa sebenarnya tidak perlu modal besar. Pekarangan yang ada cukup dimanfaatkan,” kata Erlina.
Tantangan dan kebutuhan tindak lanjut
Meskipun program ini terjangkau, keberhasilan skala rumah tangga memerlukan pendampingan teknis, akses benih atau bibit yang terjangkau, serta informasi tentang manajemen pemeliharaan agar hasil budidaya aman dikonsumsi dan berkelanjutan. Ketersediaan sumber air yang cukup dan praktik sanitasi juga menjadi aspek penting agar usaha budidaya tidak menimbulkan masalah lingkungan atau kesehatan.
Pemerintah provinsi melalui DKP diharapkan dapat memperkuat program ini dengan menyediakan modul pelatihan, demo lapangan, serta jalur distribusi input budidaya yang terjangkau. Keterlibatan mahasiswa Polnep sebagai penggerak lapangan membuka peluang untuk implementasi yang lebih cepat dan adaptif di tingkat komunitas.
Dengan langkah yang terkoordinasi, pemanfaatan pekarangan untuk budidaya ikan dan tanaman pangan bergizi berpotensi menjadi salah satu strategi lokal yang efektif untuk meningkatkan konsumsi protein keluarga sekaligus mendukung upaya penurunan angka stunting di Kalimantan Barat.