Langkah BP Batam untuk memisahkan pasokan air industri dan publik
BATAM — Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong setiap pengembangan data center di Batam, Kepulauan Riau, untuk membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau fasilitas desalinasi air laut secara mandiri. Kebijakan ini dimaksudkan agar kebutuhan air industri besar tidak mengganggu ketersediaan air baku bagi masyarakat.
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kewajiban pembangunan SWRO akan diarahkan terutama kepada proyek data center yang membutuhkan volume air besar. Dua lokasi yang menjadi fokus awal adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil.
"Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,"
Proyeksi kapasitas dan tahap pengembangan
BP Batam memproyeksikan tambahan kapasitas produksi air melalui SWRO akan meningkat dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Pada tahap awal, tambahan kapasitas diperkirakan mencapai 750 liter per detik, dan selanjutnya ditargetkan mencapai sekitar 1.000 liter per detik melalui pembangunan instalasi di kedua kawasan tersebut.
| Tahap | Perkiraan Kapasitas | Lokasi |
|---|---|---|
| Awal | 750 liter/detik | KEK Nongsa, Kabil |
| Target Lanjutan | ~1.000 liter/detik | KEK Nongsa, Kabil |
Alasan kebijakan dan implikasi bagi pasokan air publik
Amsakar menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Selama ini waduk menjadi sumber utama air baku bagi warga Batam. Dengan hadirnya instalasi SWRO yang dimiliki pelaku usaha, diharapkan operasi industri tidak tergantung sepenuhnya pada pasokan waduk tersebut.
Menurut pernyataan BP Batam, dari sekitar 10 rencana pengembangan data center di Batam, satu sudah beroperasi dan pengelolanya menyambut baik kebijakan pembangunan SWRO mandiri. Pengembang lainnya diarahkan menerapkan skema serupa agar kebutuhan air industri dapat dipenuhi dari sumber alternatif.
- Tujuan utama: menekan ketergantungan industri terhadap air waduk publik.
- Lokasi prioritas: KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil untuk pemasangan SWRO.
- Proyeksi kapasitas: tambahan 750 L/detik awal, ditargetkan hingga sekitar 1.000 L/detik.
Kondisi yang perlu diperhatikan
Penerapan SWRO sebagai sumber alternatif membawa beberapa catatan teknis dan lingkungan yang penting. Teknologi desalinasi membutuhkan energi untuk proses pengolahan air laut menjadi air tawar sehingga kelayakan ekonomi dan dampak emisi perlu dipertimbangkan. Selain itu, pengelolaan limbah padat dan air sisa (brine) dari proses desalinasi harus dirancang agar tidak merusak ekosistem pesisir.
Sumber resmi pernyataan menyebutkan target kapasitas dan lokasi, tetapi tidak merinci skema pembiayaan, ketersediaan lahan, mekanisme pengawasan lingkungan, atau gas rumah kaca yang terkait dengan operasi SWRO. Hal-hal ini menjadi aspek yang relevan bagi warga dan pemangku kepentingan lingkungan di Batam.
Konsekuensi bagi warga dan pengembang
Jika direalisasikan sesuai proyeksi, kebijakan ini berpotensi meredam tekanan terhadap cadangan air baku yang saat ini menopang kebutuhan rumah tangga di Batam. Bagi pengembang, ada kewajiban tambahan investasi untuk infrastruktur air—namun sebagian pengelola data center yang sudah beroperasi menyatakan dukungan terhadap langkah ini.
Implementasi lebih lanjut perlu menyertakan studi kelayakan lingkungan dan energi, serta peraturan teknis yang jelas dari BP Batam agar pemasangan SWRO berjalan efektif, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan beban baru terhadap masyarakat pesisir.