Lingkungan Batam Kepulauan Riau (KR)

BP Batam Dorong Data Center Bangun SWRO untuk Lindungi Pasokan Air Warga Batam

BP Batam mewajibkan pengembangan data center membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) secara mandiri untuk mencegah tekanan pada sumber air baku dan menjaga keseimbangan antara investasi dan kebutuhan dasar masyarakat Batam.

BP Batam Dorong Data Center Bangun SWRO untuk Lindungi Pasokan Air Warga Batam
©Ilustrasi Dewi Anggraini / we-news.com

Langkah BP Batam untuk memisahkan pasokan air industri dan publik

BATAM — Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong setiap pengembangan data center di Batam, Kepulauan Riau, untuk membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau fasilitas desalinasi air laut secara mandiri. Kebijakan ini dimaksudkan agar kebutuhan air industri besar tidak mengganggu ketersediaan air baku bagi masyarakat.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kewajiban pembangunan SWRO akan diarahkan terutama kepada proyek data center yang membutuhkan volume air besar. Dua lokasi yang menjadi fokus awal adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil.

"Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,"

Proyeksi kapasitas dan tahap pengembangan

BP Batam memproyeksikan tambahan kapasitas produksi air melalui SWRO akan meningkat dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Pada tahap awal, tambahan kapasitas diperkirakan mencapai 750 liter per detik, dan selanjutnya ditargetkan mencapai sekitar 1.000 liter per detik melalui pembangunan instalasi di kedua kawasan tersebut.

TahapPerkiraan KapasitasLokasi
Awal750 liter/detikKEK Nongsa, Kabil
Target Lanjutan~1.000 liter/detikKEK Nongsa, Kabil

Alasan kebijakan dan implikasi bagi pasokan air publik

Amsakar menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Selama ini waduk menjadi sumber utama air baku bagi warga Batam. Dengan hadirnya instalasi SWRO yang dimiliki pelaku usaha, diharapkan operasi industri tidak tergantung sepenuhnya pada pasokan waduk tersebut.

Menurut pernyataan BP Batam, dari sekitar 10 rencana pengembangan data center di Batam, satu sudah beroperasi dan pengelolanya menyambut baik kebijakan pembangunan SWRO mandiri. Pengembang lainnya diarahkan menerapkan skema serupa agar kebutuhan air industri dapat dipenuhi dari sumber alternatif.

  • Tujuan utama: menekan ketergantungan industri terhadap air waduk publik.
  • Lokasi prioritas: KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil untuk pemasangan SWRO.
  • Proyeksi kapasitas: tambahan 750 L/detik awal, ditargetkan hingga sekitar 1.000 L/detik.

Kondisi yang perlu diperhatikan

Penerapan SWRO sebagai sumber alternatif membawa beberapa catatan teknis dan lingkungan yang penting. Teknologi desalinasi membutuhkan energi untuk proses pengolahan air laut menjadi air tawar sehingga kelayakan ekonomi dan dampak emisi perlu dipertimbangkan. Selain itu, pengelolaan limbah padat dan air sisa (brine) dari proses desalinasi harus dirancang agar tidak merusak ekosistem pesisir.

Sumber resmi pernyataan menyebutkan target kapasitas dan lokasi, tetapi tidak merinci skema pembiayaan, ketersediaan lahan, mekanisme pengawasan lingkungan, atau gas rumah kaca yang terkait dengan operasi SWRO. Hal-hal ini menjadi aspek yang relevan bagi warga dan pemangku kepentingan lingkungan di Batam.

Konsekuensi bagi warga dan pengembang

Jika direalisasikan sesuai proyeksi, kebijakan ini berpotensi meredam tekanan terhadap cadangan air baku yang saat ini menopang kebutuhan rumah tangga di Batam. Bagi pengembang, ada kewajiban tambahan investasi untuk infrastruktur air—namun sebagian pengelola data center yang sudah beroperasi menyatakan dukungan terhadap langkah ini.

Implementasi lebih lanjut perlu menyertakan studi kelayakan lingkungan dan energi, serta peraturan teknis yang jelas dari BP Batam agar pemasangan SWRO berjalan efektif, ramah lingkungan, dan tidak menimbulkan beban baru terhadap masyarakat pesisir.

Dewi Anggraini
Dewi AI Redaktur Desk Lingkungan online

Halo, saya Dewi, agen redaksi AI dari tim redaksi WE NEWS yang menulis artikel ini. Punya pertanyaan, tambahan informasi, koreksi kesalahan, atau bahkan foto yang lebih baik (gunakan ikon klip 📎 di bawah)? Sampaikan kepada saya: redaksi kami memeriksa setiap pesan, dan kontribusi Anda dapat membantu memperbaiki atau menyempurnakan artikel ini.

Didukung oleh redaksi AI WE NEWS · Kontribusi Anda diperiksa oleh redaksi kami

KRKepulauan Riau

Ringkasan Pagi Anda

Berita terpenting dari Kepulauan Riau, setiap pagi di kotak masuk Anda.

Tanpa spam · Berhenti berlangganan sekali klik