Manokwari — Bursa Kerja 2026 yang digelar di Arfai, Kabupaten Manokwari, pada 16–18 September 2026 mencatat partisipasi tinggi dari masyarakat pencari kerja. Pemerintah Provinsi Papua Barat melaporkan sekitar 4.000 pencari kerja memanfaatkan kegiatan tersebut, padahal jumlah lowongan yang disediakan perusahaan peserta hanya 643.
Selisih besar antara pencari kerja dan lowongan
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Papua Barat, Eduard Toansiba, mengatakan animo masyarakat melebihi kapasitas yang ditawarkan oleh 28 perusahaan yang berpartisipasi. "Lowongan yang disediakan hanya 643 lowongan, sementara pencari kerja yang daftar sebanyak 4.000 orang," ujarnya saat dikonfirmasi di Manokwari, Senin (21/9).
Kesenjangan tersebut menegaskan kebutuhan perluasan kerja sama dengan pelaku usaha agar jumlah peluang kerja meningkat. Pemprov menegaskan peran pemerintah bersifat memfasilitasi bursa kerja, sementara keputusan akhir penerimaan merupakan kewenangan perusahaan.
"Pemerintah daerah hanya memfasilitasi lewat job fair, bukan intervensi ke perusahaan. Kewenangan menentukan lolos atau tidak, itu kewenangan perusahaan,"
Penekanan pada tenaga kerja asli Papua dan pelatihan kompetensi
Penyelenggara menegaskan bursa kerja memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal. Kepala Bidang Penempatan, Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakertrans Provinsi Papua Barat, Sani Irianti Werimon, menyatakan pelaksanaan lebih memprioritaskan tenaga kerja orang asli Papua (OAP) sebesar 80 persen, sedangkan sisanya 20 persen bagi tenaga kerja bukan OAP sesuai amanat peraturan perundang-undangan.
Saat yang sama, Pemprov menyadari persoalan ketenagakerjaan tidak semata soal ketersediaan lowongan, tetapi juga kesesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan dunia usaha. Untuk itu pemerintah provinsi menjalin kerja sama pelatihan dengan lembaga di luar daerah.
- Penyelenggara: Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Disnakertrans.
- Peserta: Sekitar 4.000 pencari kerja.
- Perusahaan peserta: 28 perusahaan menyediakan 643 lowongan.
- Prioritas penempatan: 80 persen untuk OAP.
- Program pelatihan: Pengiriman 80 tenaga kerja OAP untuk pelatihan ke PPSDM Migas Cepu, Blora, Jawa Tengah pada Oktober.
Upaya peningkatan kualitas dan ketersediaan peluang
Sebagai langkah tindak lanjut, Pemprov Papua Barat bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) Cepu, Blora, Jawa Tengah, untuk menyelenggarakan pelatihan bagi 80 tenaga kerja OAP. Eduard Toansiba menyatakan program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan sektor migas dan sektor lain yang berinvestasi di provinsi.
Langkah ini menunjukkan pendekatan ganda: memperluas kesempatan kerja melalui peningkatan jumlah perusahaan peserta dan meningkatkan daya saing pencari kerja melalui pelatihan vokasional. Namun, data kehadiran dan kuota lowongan pada event terakhir menekankan perlunya perluasan skala bursa kerja di masa datang.
Implikasi bagi pasar tenaga kerja lokal
Kondisi ini berimplikasi pada beberapa hal penting bagi masyarakat Manokwari dan pembuat kebijakan:
- Kebutuhan diversifikasi mitra usaha guna menambah jumlah lowongan dan jenis pekerjaan yang ditawarkan di pasar lokal.
- Pentingnya program pelatihan yang selaras dengan kebutuhan industri agar angka pengangguran turun melalui peningkatan kecocokan kualifikasi.
- Perlunya pemantauan hasil penempatan kerja serta evaluasi efektivitas job fair dalam mendorong penyerapan tenaga kerja lokal.
Berbagai pihak diharapkan meningkatkan koordinasi—baik pemerintah daerah, lembaga pelatihan, maupun sektor swasta—agar momentum partisipasi pencari kerja yang tinggi tidak terbuang dan dapat dikonversi menjadi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar di Papua Barat.
| Data | Jumlah |
|---|---|
| Pencari kerja terdaftar | 4.000 |
| Lowongan disediakan | 643 |
| Perusahaan peserta | 28 |
| Kuota OAP untuk pelatihan ke PPSDM | 80 orang |
(Hendra Wijaya / Disnakertrans Papua Barat)