Kulon Progo — Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Perdagangan telah menyelesaikan dokumen detail engineering design (DED) untuk revitalisasi Pasar Sentolo. Rencana ini dimaksudkan mengoptimalkan potensi ekonomi wilayah dengan memperbaiki tata ruang pasar sekaligus membuka akses langsung bagi produk lokal menuju pasar ekspor.
Alasan dan tujuan revitalisasi
Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo, Bambang Tri Budi Harsono, menyatakan bahwa Pasar Sentolo memiliki lahan dan bangunan terbesar di kabupaten tersebut namun kini dinilai kurang ramah bagi pembeli sehingga volume kunjungan menurun bila dibandingkan pasar lama.
"Pasar Sentolo itu kalau seperti itu terus tidak akan laku. Bangunannya terbesar dan lahannya terluas, tapi bagian dalamnya kosong. Karena itu, kami merancang tata ulang kawasan tersebut,"
Pernyataan itu menegaskan pentingnya penataan ulang fungsi ruang untuk meningkatkan daya tarik pasar serta mendukung aktivitas perdagangan yang lebih efisien. Salah satu fokus utama adalah memundurkan deretan kios depan untuk menciptakan rest area yang lebih tertata bagi pengunjung.
Terminal ekspor sebagai upaya kemandirian
Rancangan DED juga mengusulkan alih fungsi bangunan besar di bagian belakang pasar, yang semula direncanakan untuk los daging, ayam, dan ikan, menjadi terminal ekspor produk lokal. Langkah ini diarahkan untuk membangun jalur ekspor yang mandiri sehingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak lagi harus bergantung pada fasilitas atau lisensi wilayah lain seperti Bantul atau Bali.
Menurut Bambang, keberadaan terminal ekspor diharapkan menjadi solusi praktis bagi produsen lokal dalam mengurus pengiriman ke pasar luar daerah, memperpendek rantai distribusi, dan menurunkan biaya logistik yang selama ini menjadi kendala untuk menembus pasar ekspor.
Estimasi kebutuhan anggaran dan status pendanaan
Pembangunan yang direncanakan membutuhkan sumber daya finansial. Pada tahap perencanaan, Pemkab memperkirakan kebutuhan anggaran fisik berada pada kisaran Rp7 miliar hingga Rp8 miliar. Namun meskipun DED telah rampung, pelaksanaan pekerjaan konstruksi masih menunggu kepastian alokasi dana.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Dokumen | DED revitalisasi Pasar Sentolo (sudah rampung) |
| Fungsi baru utama | Terminal ekspor produk lokal |
| Perkiraan anggaran | Rp7 miliar–Rp8 miliar |
| Status | Tunggu alokasi pendanaan |
Dampak bagi pelaku usaha dan masyarakat
Revitalisasi pasar berskala ini berpotensi memberikan dampak langsung bagi pedagang, produsen UMKM, dan konsumen. Harapannya, pengaturan ulang kios dan fasilitas publik akan meningkatkan kenyamanan pembeli sehingga perputaran barang lebih tinggi. Sementara fitur terminal ekspor dapat membuka akses pasar baru bagi produk khas Kulon Progo, memperluas jangkauan pemasaran, dan meningkatkan pendapatan produsen lokal.
Namun, perwujudan manfaat tersebut bergantung pada kesinambungan pendanaan dan pelaksanaan teknis. Tanpa dana yang memadai, rencana DED tidak dapat segera diterjemahkan menjadi proyek fisik.
- Peningkatan tata ruang: mundurkan kios depan, sediakan rest area.
- Penguatan ekspor: alih fungsi bangunan belakang menjadi terminal ekspor.
- Anggaran: estimasi Rp7–8 miliar, menunggu alokasi.
Lanjutan proses dan catatan pengawasan
Dengan terselesaikannya DED, langkah berikutnya adalah mencari sumber pendanaan, baik melalui APBD kabupaten, bantuan provinsi, skema kerja sama, atau sumber lain yang layak. Selama proses tersebut, keterlibatan pemangku kepentingan lokal — termasuk perwakilan pedagang, asosiasi UMKM, dan pemerintah desa/kelurahan — penting untuk memastikan desain akhir sesuai kebutuhan pengguna pasar.
Revitalisasi Pasar Sentolo menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat ekonomi daerah melalui pemanfaatan aset lokal. Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini tidak hanya meremajakan wajah pasar tetapi juga membuka peluang bagi produk Kulon Progo untuk menapaki pasar ekspor dengan identitas sendiri.
— Sekar Ayuningtyas, Koresponden Daerah DI Yogyakarta