YOGYAKARTA — Fuel Terminal (FT) Rewulu di Yogyakarta berfungsi sebagai salah satu pusat pengelolaan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Terminal yang dioperasikan oleh PT Pertamina Patra Niaga ini menempatkan penerimaan, penyimpanan, hingga distribusi BBM sebagai rangkaian utama operasionalnya.
Peran strategis terminal dalam rantai pasok energi
Berdasarkan penjelasan VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, FT Rewulu tidak hanya menjadi tempat menampung stok bahan bakar, melainkan juga titik pengendali agar distribusi BBM ke wilayah cakupan dapat berjalan aman dan andal. Terminal ini mendukung kebutuhan energi dan mobilitas masyarakat di sembilan kota dan kabupaten di Yogyakarta dan sekitarnya.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak rekan-rekan media melihat secara langsung perjalanan BBM di Fuel Terminal Rewulu. Mulai dari bagaimana produk diterima, disimpan, dikelola hingga kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Kitty saat ditemui di Terminal BBM Rewulu, Jumat (11/9/2026).
Dalam kunjungan media tersebut, pihak Pertamina menyampaikan bahwa keandalan operasi tidak sekadar soal kapasitas fisik terminal, tetapi juga terkait penerapan prosedur keselamatan dan kelestarian lingkungan. Aspek Health, Safety, Security & Environment (HSSE) menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap proses operasional.
Proses operasional: dari penerimaan hingga distribusi
FT Rewulu menjalankan rangkaian proses yang saling terkait untuk menjamin kontinuitas pasokan BBM. Secara garis besar kegiatan operasional meliputi:
- Penerimaan produk BBM dari sumber pengiriman;
- Penyimpanan di tangki terminal dengan pengelolaan stok terukur;
- Manajemen kualitas dan keselamatan selama penyimpanan;
- Distribusi ke SPBU dan titik penyaluran lain sesuai kebutuhan wilayah.
| Aspek | Fungsi |
|---|---|
| Penerimaan | Menampung aliran BBM dari kilang atau pemasok |
| Penyimpanan | Mengelola stok dan kualitas produk |
| Distribusi | Menyalurkan BBM ke SPBU dan konsumen akhir |
| HSSE | Menjamin keselamatan, keamanan, dan lingkungan |
Dukungan transisi biodiesel
Selain memastikan ketersediaan BBM konvensional, Pertamina Patra Niaga juga mengomunikasikan kemajuan penggunaan Biosolar B50. Menurut Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, sekitar 95 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia telah mendistribusikan B50 sebagai bagian dari transisi dari Biosolar B40 ke B50 yang dicanangkan pemerintah.
Eko menyatakan bahwa wilayah yang belum sepenuhnya beralih ke B50 berada di Papua dan Maluku, yang masih dalam proses menghabiskan stok B40 yang tersisa. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya transisi bahan bakar nabati berlangsung bertahap dan mempertimbangkan kondisi stok di berbagai wilayah.
Implikasi lokal dan langkah antisipatif
Bagi masyarakat DIY dan Jawa Tengah, peran FT Rewulu berarti menjaga ketersediaan pasokan bahan bakar bagi sektor rumah tangga, transportasi, serta usaha mikro dan kecil yang mengandalkan BBM. Penerapan standar HSSE memberi keyakinan bahwa aktivitas terminal dikendalikan dengan memperhatikan keselamatan personel serta risiko terhadap lingkungan sekitar.
Sementara itu, integrasi distribusi B50 menuntut kesiapan infrastruktur dan koordinasi antara terminal, SPBU, serta otoritas terkait agar transisi dapat dilaksanakan tanpa mengganggu pasokan. Bagi pengguna dan pengusaha angkutan, pemantauan ketersediaan BBM di SPBU setempat tetap diperlukan guna mengantisipasi fluktuasi permintaan, terutama pada momen puncak perjalanan atau kegiatan lokal.
FT Rewulu, dengan fungsi sebagai penopang distribusi regional, menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi. Pengawasan terhadap kegiatan operasional serta pelaksanaan praktik HSSE yang konsisten akan menentukan sejauh mana terminal tersebut dapat terus memenuhi perannya secara andal.
Dengan sentuhan lokal yang lembut, keberadaan terminal ini menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat Jawa Tengah dan DIY, menautkan kebutuhan modernitas mobilitas dengan tanggung jawab terhadap keselamatan dan lingkungan sekitar.