Pasar Kolombo, yang terletak di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, mulai menawarkan layanan belanja daring melalui platform pasarkolombo.id. Peluncuran layanan ini, yang dilakukan pada 5 September 2026, merupakan pengembangan dari upaya sebelumnya saat masa pandemi COVID-19 dan kini memasuki tahap uji coba dengan melibatkan pedagang setempat.
Pengembangan dari pengalaman masa pandemi
Wakil Lurah Pasar Kolombo, Guntoro, menyatakan bahwa layanan daring itu merupakan kelanjutan dari akun digital yang dibuat saat pandemi COVID-19. Pada masa itu, pengelola pasar bekerja sama dengan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (Pusekra) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk melayani pembeli secara daring. Setelah pandemi, sistem belanja daring disempurnakan dan dikembangkan menjadi platform tersendiri, pasarkolombo.id, agar lebih terstruktur dan dapat diakses publik.
Tahap uji coba dan keterlibatan pedagang
Saat ini layanan masih dalam fase uji coba. Menurut keterangan yang diberikan, sebanyak tujuh pedagang di Pasar Kolombo dilibatkan pada tahap awal. Para pedagang itu mewakili beberapa jenis usaha di pasar, antara lain sayur, sembako, daging ayam, dan jajanan pasar. Selain penyediaan platform, pedagang juga mendapatkan sosialisasi mengenai pemasaran melalui kanal daring.
- Platform: pasarkolombo.id
- Tanggal peluncuran: 5 September 2026
- Jumlah pedagang uji coba: 7 pedagang
- Jenis produk: sayur, sembako, daging ayam, jajanan pasar
- Biaya pengantaran: tidak dikenai biaya tambahan (sementara)
"Ini sebenarnya pengembangan dari akun yang dulu, yang dulu itu pas zaman Covid,"
Guntoro juga mengungkapkan bahwa sejak peluncuran ada pedagang yang sudah menerima pesanan melalui pasarkolombo.id, meskipun frekuensi pesanan belum stabil. Ia menekankan bahwa pada fase uji coba belum ada kepastian pola permintaan harian sehingga pengoperasian masih terus dievaluasi bersama pihak terkait, termasuk Pusekra UGM.
Pelayanan logistik dan harga
Sesuai keterangan yang disampaikan, barang yang dipesan melalui platform akan dikirim oleh kurir. Untuk tahap awal, pengantaran tidak dikenai biaya tambahan. Selain itu, Guntoro memastikan bahwa harga barang yang ditawarkan di platform sama dengan harga di lapak fisik, sehingga konsumen tidak menghadapi perbedaan tarif antara belanja daring dan di pasar.
Peluncuran platform belanja daring di pasar tradisional seperti Pasar Kolombo memuat sejumlah konsekuensi lokal yang perlu dicermati. Dari sisi konsumen, akses daring dapat memperluas pilihan cara berbelanja dan memberi kemudahan bagi warga yang tidak dapat datang langsung ke pasar. Bagi pedagang, digitalisasi membuka peluang memperluas jangkauan pelanggan, tetapi juga menuntut adaptasi terhadap proses pemesanan, pengemasan, dan koordinasi pengiriman.
Kolaborasi dengan lembaga akademik seperti Pusekra UGM menjadi unsur penting pada fase awal ini karena menyertakan kajian dan pendampingan teknis. Evaluasi berkelanjutan diperlukan untuk memastikan keberlanjutan layanan, mengukur permintaan, menata logistik, serta menegaskan aspek keberpihakan terhadap pedagang kecil supaya manfaat digitalisasi terasa merata.
Dalam konteks Sleman, inisiatif ini melengkapi upaya pemerintah daerah dan pelaku ekonomi lokal dalam mengintegrasikan teknologi sederhana untuk mendukung ketahanan pasokan pangan dan penguatan ekonomi mikro. Ke depan, masyarakat dapat memantau perkembangan layanan pasarkolombo.id untuk mengetahui perubahan cakupan pedagang, jam layanan, dan ketentuan pengantaran yang mungkin disesuaikan setelah fase uji coba selesai.