Pemerintah Kota Yogyakarta menggencarkan langkah memperkuat peran organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai mitra dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang langsung menyentuh kehidupan warga. Upaya ini disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santoso Asrori, saat menghadiri Musyawarah Daerah VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Yogyakarta, Minggu.
Ormas sebagai ujung tombak penyelesaian masalah publik
Budi Santoso Asrori menegaskan bahwa pembangunan dan penanganan masalah di tingkat kota tidak cukup hanya mengandalkan perangkat pemerintahan. Peran serta ormas dinilai penting terutama dalam bidang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pengelolaan sampah, pelestarian budaya, pemeliharaan kerukunan, pendidikan, serta pembinaan generasi muda.
"Dalam persoalan sampah, budaya, kerukunan, pendidikan maupun pembinaan generasi muda membutuhkan peran organisasi masyarakat yang nyata,"
Menurut Sekda, keterlibatan ormas memberi nilai tambah karena organisasi masyarakat memiliki akses, jaringan, dan kedekatan dengan warga. Keterlibatan ini diharapkan mampu memperkuat implementasi program pemerintah sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Fokus pada budaya dan toleransi
Pemkot menekankan bahwa nilai-nilai luhur Yogyakarta harus terus dijaga. Budi menyebutkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal seni, melainkan juga nilai-nilai sosial seperti unggah-ungguh, tepa selira, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama. Menjaga nilai-nilai tersebut dianggap penting agar kehidupan beragam di Kota Yogyakarta tetap menghadirkan kesejukan dan memperkuat persaudaraan antarwarga.
Dalam konteks kehidupan beragama, Sekda menyatakan bahwa Kota Yogyakarta berkembang dalam suasana keberagaman sehingga dibutuhkan pendekatan yang menjaga kesejukan sekaligus memperkokoh persaudaraan antarpenganut agama.
Kolaborasi yang terukur dan dapat dilaksanakan
Selain menyerukan keterlibatan ormas, Pemerintah Kota berharap Musyawarah Daerah LDII menghasilkan program yang konkret dan dapat diimplementasikan. Budi menekankan pentingnya kualitas program ketimbang kuantitas: program yang sedikit tetapi jelas dan bisa dikerjakan lebih berguna daripada banyak rencana yang tidak terealisasi.
"Kami harap Musda LDII menghasilkan program yang unggul dan bisa diimplementasikan. Tidak perlu banyak-banyak, yang penting jelas, bisa dikerjakan dan manfaatnya dirasakan masyarakat,"
Pernyataan ini memperlihatkan arah kebijakan Pemkot yang ingin memastikan setiap kolaborasi menghasilkan dampak langsung bagi warga, khususnya dalam bidang yang membutuhkan keterlibatan dan mobilisasi masyarakat.
Area prioritas kerja sama
Berdasarkan paparan Sekda, beberapa area prioritas yang dapat menjadi fokus kerja sama antara Pemkot dan ormas meliputi:
- Pengelolaan sampah dan lingkungan hidup;
- Pelestarian budaya dan penguatan nilai sosial tradisional;
- Peningkatan kerukunan dan toleransi antarwarga;
- Pendidikan informal dan program pembinaan generasi muda.
Pemkot melihat bahwa ormas memiliki potensi untuk melaksanakan program-program tersebut di tingkat basis warga dengan cara yang lebih adaptif dan cepat dibandingkan intervensi birokrasi semata.
Membangun sinergi demi manfaat nyata
Langkah memperkuat ormas ini sejalan dengan pendekatan pemerintahan yang mengedepankan partisipasi publik. Sinergi antara Pemkot dan berbagai elemen masyarakat diharapkan meminimalkan kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan program. Sekda menilai, kolaborasi yang baik akan memastikan hasil kebijakan dapat dirasakan langsung oleh komunitas lokal.
Dalam konteks Musda LDII, undangan untuk bekerja sama juga menunjukkan keterbukaan Pemkot terhadap berbagai organisasi yang dapat berkontribusi pada pembangunan sosial budaya dan pelayanan publik. Penekanan pada program yang jelas dan dapat dikerjakan juga memberikan tolok ukur agar kemitraan tidak sekadar seremonial tetapi berorientasi pada hasil.
Ke depan, langkah praktis yang mungkin ditempuh Pemkot mencakup peningkatan komunikasi dengan ormas, pemberian dukungan teknis atau fasilitasi, serta pemantauan pelaksanaan program bersama untuk memastikan manfaatnya terasa oleh masyarakat Yogyakarta.
| Isu | Peran Ormas |
|---|---|
| Sampah | Pelibatan dalam pengelolaan, edukasi, dan kampanye gotong royong |
| Budaya | Pelestarian nilai dan praktik unggah-ungguh serta tepa selira |
| Pembinaan Generasi Muda | Program pendidikan nonformal dan kegiatan karakter |
Pemerintah Kota Yogyakarta tampak menegaskan bahwa pembangunan kota adalah tanggung jawab bersama. Dengan memperkuat peran ormas, harapannya adalah tercipta tata kelola yang lebih inklusif, budaya yang lestari, serta masyarakat yang lebih peduli dan produktif.